KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) PT Sahabat Mikro Fintek (Samir) melihat peluang pembiayaan di luar Pulau Jawa masih terbuka lebar. Namun, keterbatasan infrastruktur digital menjadi salah satu tantangan utama dalam memperluas jangkauan layanan. Direktur Utama Samir Handy Juniandri mengatakan, kesiapan infrastruktur digital menjadi tantangan ketika perusahaan ingin menjangkau masyarakat di sejumlah wilayah yang belum memiliki akses internet memadai.
Baca Juga: TWP90 Pindar Naik Jadi 4,32% pada Juli 2026, AFPI Soroti Pelemahan Daya Beli “Misalnya di Papua,
Base Transceiver Station (BTS) ada berapa di sana? Sinyal juga masih belum ada. Itu mungkin kesulitan kami untuk bisa menjangkau,” kata Handy dalam media gathering, Sabtu (12/9/2026). Meski demikian, Handy menilai kebutuhan pembiayaan di wilayah yang belum terjangkau layanan perbankan formal masih cukup besar. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi industri pindar untuk memperluas penyaluran pembiayaan. Menurut dia, Samir menyasar masyarakat yang belum sepenuhnya terlayani oleh perbankan. Karena itu, keberadaan fintech lending dinilai masih penting sebagai alternatif pembiayaan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan keuangan formal. “Segmentasi kami benar-benar bukan untuk konsumen yang memang ter-cover oleh perbankan. Jadi, kami segmentasinya adalah konsumen yang memang tidak bisa di-cover oleh perbankan. Dengan demikian, pindar masih begitu penting, terutama bagi masyarakat yang belum terjangkau layanan keuangan formal,” ujarnya.
Baca Juga: LPS Usulkan Empat Aspek Utama Desain Program Penjaminan Polis Handy mengatakan, salah satu keunggulan pindar adalah proses pembiayaan yang relatif cepat dan tidak mensyaratkan agunan seperti pada sebagian produk pembiayaan perbankan. “Kalau perbankan mungkin harus kasih agunan berupa Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) atau sertifikat rumah. Kalau pindar, hari ini orang itu masuk, bisa langsung dapat pembiayaan, tetapi perlu mengembalikan dengan baik,” ungkapnya. Samir berharap penyaluran pembiayaan tersebut dapat mendukung kebutuhan produktif masyarakat, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hingga 9 September 2026, total pembiayaan kumulatif yang telah disalurkan Samir mencapai lebih dari Rp7,8 triliun kepada 5,3 juta akun peminjam atau
borrower. Handy menyebut sebagian besar pembiayaan tersebut digunakan untuk kebutuhan produktif, khususnya oleh pelaku UMKM. Dari sisi portofolio, sekitar 63% merupakan peminjaman kembali, sedangkan 37% merupakan peminjaman baru dari masyarakat maupun UMKM.
Baca Juga: Pembiayaan Tumbuh 11,4% hingga Juli 2026, BCA Syariah Catat Aset Rp19,9 Triliun Secara geografis, Pulau Jawa masih menjadi wilayah dengan kontribusi penyaluran pembiayaan terbesar, yakni sekitar 70% dari total pembiayaan kumulatif Samir. Di luar Jawa, Sumatra menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 15%. Sementara itu, penyaluran di Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara relatif lebih merata. Adapun kontribusi penyaluran di Papua dan Maluku masing-masing berada di kisaran 1% lebih. Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang bagi Samir untuk memperluas jangkauan pembiayaan ke wilayah di luar Jawa, meski ekspansi tersebut perlu dibarengi dengan kesiapan infrastruktur digital. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News