KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persoalan sampah makanan masih menjadi tantangan dalam pengelolaan lingkungan perkotaan. Padahal, sebagian pangan yang terbuang masih layak dikonsumsi dan berpotensi dimanfaatkan kembali melalui pengolahan serta distribusi kepada masyarakat yang membutuhkan. Kajian Badan Pangan Nasional mencatat, pada tahun 2025 sekitar 175.415 ton sisa pangan dan sampah makanan berasal dari sektor hotel, ritel, usaha makanan dan minuman, serta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di DKI Jakarta. Dari jumlah tersebut, sekitar 53.495 ton atau 30,5% masih berpotensi diselamatkan. Salah satu pendekatan untuk mengurangi persoalan tersebut adalah food rescue, yakni menyelamatkan surplus pangan yang masih layak konsumsi agar tidak berakhir menjadi sampah. Pangan tersebut kemudian diolah atau didistribusikan kembali sehingga memiliki nilai manfaat bagi masyarakat.
Sampah Makanan di Jakarta Terus Menggunung, Food Rescue Jadi Salah Satu Solusi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persoalan sampah makanan masih menjadi tantangan dalam pengelolaan lingkungan perkotaan. Padahal, sebagian pangan yang terbuang masih layak dikonsumsi dan berpotensi dimanfaatkan kembali melalui pengolahan serta distribusi kepada masyarakat yang membutuhkan. Kajian Badan Pangan Nasional mencatat, pada tahun 2025 sekitar 175.415 ton sisa pangan dan sampah makanan berasal dari sektor hotel, ritel, usaha makanan dan minuman, serta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di DKI Jakarta. Dari jumlah tersebut, sekitar 53.495 ton atau 30,5% masih berpotensi diselamatkan. Salah satu pendekatan untuk mengurangi persoalan tersebut adalah food rescue, yakni menyelamatkan surplus pangan yang masih layak konsumsi agar tidak berakhir menjadi sampah. Pangan tersebut kemudian diolah atau didistribusikan kembali sehingga memiliki nilai manfaat bagi masyarakat.