Sampai September, LSIP baru serap capex 60%



JAKARTA. PT PP London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP) tampak belum terlalu agresif mengembangkan bisnisnya. Ini terlihat dari belanja modal atau capital expenditure (capex) yang terserap Rp 600 miliar sampai September. Jumlah tersebut baru berporsi 60% terhadap total capex Rp 1 triliun.

Di situ, sepertiga atau sekitar Rp 200 miliar digunakan untuk penanaman baru. Kemudian, dua per tiga atau sekitar Rp 400 miliar dipakai untuk infrastruktur seperti pembangunan jalan, perumahan, dan semua penunjang kegiatan operasional.

Tak seperti sang induk PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) yang memangkas capex sekitar 20% sampai 30%. Meskipun tak agresif, LSIP masih yakin terhadap penyerapan belanja modalnya.


"Capex masih sejalan dengan apa yang kita rencanakan," ungkap Direktur Utama LSIP Benny Tjoeng, KamisĀ (18/9).

Emiten perkebunan milik Grup Indofood ini masih memiliki land bank seluas 15.000 hektar. Tahun ini, LSIP menargetkan penanaman lahan baru 3.500 hektar sampai 4.000 hektar. Namun Benny menyadari bahwa penanaman ini sangat tergantung pada kondisi cuaca.

Sampai Juni, area tertanam LSIP tercatat 110.433 hektar. Di situ, area menghasilkannya berjumlah 91.284 hektar dan belum tertanam yakni 19.149 hektar. Kelapa sawit mendominasi dengan porsi 82%, karet yakni 15%, dan tanaman lain 3%.

Rata-rata umur kelapa sawit LSIP adalah 12,8 tahun. Sedangkan, rata-rata usia karetnya 13,4 tahun.

Semester satu, produksi Crude Palm Oil (CPO) LSIP tumbuh 24% dari 171.000 ton menjadi 212.100 ton. Penjualannya naik 27,5% dari Rp 1,47 triliun menjadi Rp 1,87 triliun.

Kemudian, produksi karet LSIP hanya naik 3% dari 6.636 ton ke posisi 6.843 ton. Namun, penjualannya merosot 12,4% dari Rp 163 miliar menjadi Rp 142,7 miliar,

Tahun ini, LSIP menargetkan kenaikan produksi 20% dibanding tahun lalu. Benny mengatakan, produksi ini biasanya terserap sekitar 45% di semester pertama dan 55% di semester kedua.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia