KONTAN.CO.ID - Samsung Electronics dan serikat pekerja di Korea Selatan kembali menggelar perundingan pada Selasa (19/5/2026) untuk mencari jalan keluar atas kebuntuan negosiasi bonus karyawan, setelah pembicaraan sehari sebelumnya gagal mencapai kesepakatan. Mengutip
Reuters, kedua pihak kini berada di bawah tekanan besar untuk mencegah aksi mogok kerja yang dijadwalkan dimulai Kamis (21/5) dan berlangsung selama 18 hari.
Baca Juga: MPOC Prediksi Harga CPO Bertahan di Kisaran US$ 1.110 per Ton pada Juni 2026 Pemogokan tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu ekonomi Korea Selatan serta produksi chip semikonduktor global. Pemerintah Korea Selatan bahkan mengancam akan turun tangan melalui arbitrase darurat guna mencegah aksi mogok tersebut. Media lokal melaporkan Ketua National Labor Relations Commission menyebut Samsung dan serikat pekerja mulai mempersempit perbedaan dalam negosiasi. Sementara itu, pengadilan Korea Selatan pada Senin (18/5) sebagian mengabulkan permintaan Samsung terkait gugatan injunksi.
Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Variatif Selasa (19/5), Minyak Turun Usai Trump Tunda Serang Iran Pengadilan memutuskan sejumlah fasilitas produksi penting tetap harus mempertahankan tingkat minimum tenaga kerja selama aksi industrial berlangsung. Perselisihan ini menjadi konflik terbesar antara Samsung dan serikat pekerja sejak Chairman Samsung Electronics Jay Y. Lee berjanji mengakhiri budaya anti-serikat pekerja pada 2020, beberapa bulan setelah serikat pekerja pertama perusahaan dibentuk. Meski Samsung dikenal sebagai salah satu tempat kerja paling diminati di Korea Selatan, karyawan disebut mulai frustrasi akibat kesenjangan kompensasi yang semakin lebar dibanding rivalnya, SK Hynix. SK Hynix dinilai lebih unggul dalam memasok chip high-bandwidth memory (HBM) untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI), termasuk kepada Nvidia. Tahun lalu, SK Hynix juga merombak struktur kompensasi sehingga bonus karyawannya disebut lebih dari tiga kali lebih besar dibanding pekerja Samsung.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Stabil US$ 4.565 Selasa (19/5) Pagi, Trump Tunda Serangan ke Iran Kondisi itu memicu perpindahan talenta ke SK Hynix sekaligus meningkatkan jumlah anggota serikat pekerja Samsung. Ketegangan juga meningkat seiring lonjakan laba Samsung di tengah booming AI yang mendongkrak permintaan chip global. Samsung sebelumnya menawarkan bonus bagi pekerja divisi chip memori yang nilainya diklaim bisa melampaui bonus pegawai SK Hynix. Namun, serikat pekerja menuntut perusahaan menghapus batas bonus maksimal sebesar 50% dari gaji tahunan.
Selain itu, serikat meminta 15% laba operasional tahunan perusahaan dialokasikan ke dana bonus pekerja dan diatur secara formal dalam kontrak kerja.
Baca Juga: Dolar AS Menguat Tipis Selasa (19/5) Pagi, Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran Di sisi lain, Samsung menawarkan alokasi bonus sebesar 9%-10% dari laba operasional tahunan jika laba perusahaan melampaui 200 triliun won tahun ini, namun tetap mempertahankan batas bonus maksimal 50%. Jay Y. Lee juga telah menyampaikan permintaan maaf kepada pelanggan dan publik atas konflik ketenagakerjaan tersebut. Adapun pelanggan utama Samsung antara lain Alphabet, Apple, Amazon, dan Nvidia.