Samsung Prediksi Laba Kuartal II Melonjak 19 Kali Lipat Berkat Ledakan AI



KONTAN.CO.ID - Samsung Electronics memperkirakan laba operasional kuartal II-2026 melonjak 19 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kinerja tersebut ditopang lonjakan permintaan chip memori untuk kebutuhan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mendorong kenaikan harga memori.

Baca Juga: Perdagangan LNG Global Cetak Rekor di 2025, Konflik Timur Tengah Bayangi Prospek 2026


Produsen chip memori terbesar di dunia itu memperkirakan laba operasional periode April–Juni mencapai 89,4 triliun won (sekitar US$ 58,44 miliar), melampaui estimasi analis yang dihimpun LSEG sebesar 87,3 triliun won.

Sebagai perbandingan, laba operasional Samsung pada periode yang sama tahun lalu tercatat sebesar 4,7 triliun won.

Dalam keterbukaan informasi pada Selasa (7/7/2026), Samsung juga memperkirakan pendapatan naik 129% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi 171 triliun won.

Kinerja tersebut didorong kenaikan harga chip memori yang berlanjut sepanjang kuartal II, seiring meluasnya investasi AI yang tidak hanya meningkatkan permintaan high-bandwidth memory (HBM), tetapi juga chip DRAM dan NAND konvensional.

Baca Juga: Kontroversi FIFA soal Balogun, Kasus Cristiano Ronaldo Kembali Diungkit

Analis BNK Investment & Securities Lee Min-hee mengatakan, laba Samsung melampaui ekspektasi pasar meski perusahaan telah membukukan cadangan biaya untuk pembayaran bonus karyawan divisi semikonduktor.

"Samsung membukukan kinerja yang lebih baik dari perkiraan meski telah memperhitungkan provisi bonus, karena harga chip memori meningkat tajam," ujar Lee.

Sejumlah analis memperkirakan laba operasional Samsung bahkan bisa melampaui 100 triliun won apabila tidak dibebani pencadangan bonus tersebut.

Meski membukukan proyeksi laba yang kuat, saham Samsung justru turun 4,7% pada perdagangan Selasa pagi setelah pengumuman kinerja awal tersebut.

Baca Juga: Gol Mikel Merino Akhiri Karier Cristiano Ronaldo di Piala Dunia

Analis menilai pertumbuhan pesat produksi HBM telah memperketat pasokan chip memori konvensional yang digunakan pada smartphone, komputer pribadi (PC), dan server pusat data. Kondisi tersebut turut menopang kenaikan harga.

Laporan Citi Research pekan lalu menunjukkan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) chip DRAM naik 44% secara kuartalan, sedangkan harga NAND melonjak 53% pada kuartal II-2026.

Selain itu, pelanggan juga mulai mencari kontrak pasokan jangka panjang, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa harga chip memori akan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Kondisi ini dinilai menguntungkan produsen berskala besar seperti Samsung.

Meski bisnis chip memori diperkirakan kembali mencetak laba besar, analis memperkirakan kerugian pada bisnis foundry dan logic chip (LSI) Samsung akan melebar karena beban bonus dialokasikan ke seluruh divisi semikonduktor.

Samsung dijadwalkan mengumumkan laporan keuangan lengkap kuartal II-2026 pada 30 Juli, termasuk rincian kinerja masing-masing unit bisnis.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Ditutup di Level Sebelum Perang Iran, Pasokan Global Kian Melimpah

Risiko ke depan

Di balik kuatnya permintaan AI, analis mengingatkan terdapat sejumlah risiko yang dapat menghambat reli industri chip memori. Salah satunya adalah potensi perlambatan investasi infrastruktur AI.

Penundaan pembangunan pusat data di Amerika Serikat akibat keterbatasan tenaga kerja, pasokan listrik, maupun penolakan masyarakat berpotensi mengurangi permintaan perangkat keras AI di masa mendatang.

Meski demikian, sejumlah analis menilai siklus pertumbuhan industri memori kali ini lebih bersifat struktural dibandingkan siklus naik-turun sebelumnya.

Baca Juga: Inggris, Belanda, Finlandia, dan Polandia Kebut Skema Pendanaan Pertahanan Baru

Pasalnya, permintaan AI tumbuh lebih cepat dibandingkan kemampuan industri untuk menambah kapasitas produksi, sementara pembangunan pabrik chip baru membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Pekan lalu, Samsung juga mengumumkan rencana investasi sebesar 2.100 triliun won di Korea Selatan hingga 2040.

Namun, perusahaan menegaskan realisasi investasi tersebut tetap akan disesuaikan dengan kondisi pasar dan kebutuhan bisnis.