KONTAN.CO.ID - SUWON. Pelemahan permintaan kendaraan listrik (EV) mulai mengubah strategi industri baterai global. Samsung SDI memutuskan mengakhiri kerja sama usaha patungan dengan General Motors (GM) untuk pembangunan pabrik baterai di Indiana, Amerika Serikat. Melansir
Reuters (11/8), Samsung SDI akan membeli seluruh 49,99% saham yang masih dimiliki GM di perusahaan patungan tersebut. Dengan transaksi ini, Samsung SDI akan menjadi pemilik penuh SDI-GM Synergy Cells Holdings dan menanggung seluruh operasional serta investasi proyek tersebut. Keputusan tersebut mencerminkan perubahan prospek pasar kendaraan listrik Amerika Serikat. Pertumbuhan permintaan EV ternyata lebih lambat dari perkiraan ketika kerja sama Samsung SDI dan GM diumumkan.
Pabrik yang berlokasi di New Carlisle, Indiana, sebelumnya disiapkan dengan nilai investasi sekitar US$ 3,5 miliar. Fasilitas tersebut pada awalnya dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 27 gigawatt hour (GWh) per tahun, dengan target produksi massal pada 2027. Kapasitasnya bahkan direncanakan dapat ditingkatkan hingga 36 GWh. Namun, Samsung SDI belum menetapkan secara final rencana investasi terbaru setelah mengambil alih kepemilikan penuh. Perusahaan menyebut struktur investasi yang sebelumnya disiapkan akan mengalami perubahan dan informasi lebih lanjut akan disampaikan sesuai ketentuan regulator. Menariknya, berakhirnya usaha patungan tidak serta-merta memutus hubungan Samsung SDI dan GM. Kedua perusahaan justru sepakat melanjutkan kerja sama dalam pengembangan baterai prismatic generasi berikutnya untuk kendaraan listrik masa depan.
Baca Juga: Tesla Akan Menarik Lebih dari 20.000 Kendaraan di AS Karena Masalah Lampu Baterai tersebut akan dikembangkan dengan fokus pada kepadatan energi yang lebih tinggi dan kemampuan pengisian daya lebih cepat. Dengan demikian, kerja sama kedua perusahaan bergeser dari pembangunan fasilitas bersama menjadi pengembangan teknologi baterai. Di sisi lain, Samsung SDI berencana memanfaatkan fasilitas Indiana untuk memenuhi permintaan baterai dari berbagai aplikasi. Salah satu fokus awalnya adalah baterai untuk sistem penyimpanan energi atau energy storage system (ESS). Perubahan fokus ini sejalan dengan meningkatnya kebutuhan penyimpanan energi di Amerika Serikat. Fasilitas tersebut nantinya juga tetap memiliki peluang untuk memproduksi baterai kendaraan listrik, termasuk baterai prismatic hasil pengembangan bersama GM. Langkah Samsung SDI sekaligus menunjukkan bagaimana perlambatan pasar EV memaksa produsen baterai dan otomotif menyesuaikan investasi. GM dan sejumlah produsen otomotif lainnya telah mengurangi produksi EV untuk menyesuaikan kapasitas pabrik dengan permintaan.
Salah satu faktor yang turut menekan prospek pasar EV AS adalah berakhirnya kredit pajak federal kendaraan listrik senilai US$ 7.500 pada September tahun lalu. Kondisi tersebut membuat produsen otomotif lebih berhati-hati dalam memperluas kapasitas produksi kendaraan listrik. Bagi Samsung SDI, pengambilalihan ini memberikan kendali penuh atas fasilitas baterai di Indiana. Namun, langkah tersebut sekaligus membuat perusahaan harus menanggung lebih besar risiko investasi apabila permintaan EV tidak segera pulih. Dengan mengalihkan sebagian fokus ke ESS, Samsung SDI mencoba mengurangi ketergantungan terhadap pasar kendaraan listrik. Strategi ini menjadi penting di tengah perubahan arah industri baterai global yang kini tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan penjualan mobil listrik.
Baca Juga: Bank Sentral Australia Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 4,35%