KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Samudera Indonesia Tbk (
SMDR) menyatakan eskalasi konflik Iran–Israel dan Amerika Serikat (AS) belum berdampak langsung terhadap utilisasi armada tanker maupun LNG perusahaan. Perusahaan ini memastikan seluruh armada saat ini tidak berada di zona konflik dan untuk sementara tidak melintasi kawasan berisiko, termasuk Selat Hormuz. Direktur Utama SMDR Bani M. Mulia mengatakan perusahaan ini telah mengambil langkah antisipatif dengan mengalihkan layanan di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: RKAB Nikel Dipangkas, Produksi Filipina Tak Bisa Tutup Kebutuhan Dalam Negeri "Semua armada kami pastikan tidak berada di lokasi zona perang dan saat ini tidak melewati area tersebut,” ujarnya kepada Kontan, Senin (2/3/2026). Dari sisi biaya, perusahaan ini memproyeksikan adanya kenaikan beban operasional pada 2026, terutama dari komponen asuransi dan bahan bakar (
bunker fuel). Menurut Bani, kondisi geopolitik global berpotensi mendorong peningkatan premi risiko serta harga energi. "Kami memperkirakan biaya asuransi dan
bunker akan naik, sehingga biaya operasional ikut meningkat,” kata dia. Meski demikian, SMDR menilai kenaikan biaya tersebut berpotensi diimbangi oleh penyesuaian tarif angkut. Perusahaan ini melihat adanya ruang kenaikan
freight rate seiring meningkatnya risiko pelayaran dan pengetatan kapasitas armada global. “Kenaikan biaya biasanya akan diimbangi dengan kenaikan tarif, sehingga tetap mendorong pendapatan,” tambahnya. Terkait strategi operasional, SMDR menyatakan untuk sementara tidak akan melewati jalur berisiko. Seluruh layanan yang sebelumnya melintasi kawasan Timur Tengah dialihkan ke rute alternatif guna menjaga keselamatan armada dan awak kapal. Dalam situasi geopolitik yang memanas, manajemen juga melihat peluang di sisi pasar. Risiko gangguan jalur pelayaran dinilai dapat menekan kapasitas angkut, sementara permintaan kargo diperkirakan tetap ada.
Baca Juga: Wintermar Offshore (WINS) Efek Eskalasi Konflik Iran Israel, Bisa Kerek Tarif Kapal “Ada peluang kenaikan tarif angkut karena kapasitas tertekan, sementara muatan masih memiliki permintaan,” ujar Bani. Dengan langkah pengalihan rute dan penyesuaian strategi tarif, SMDR berharap dapat menjaga kesinambungan operasional sekaligus memitigasi risiko kinerja di tengah ketidakpastian geopolitik global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News