Sang Hyang Seri dan Pertani lambat bergerak



JAKARTA. Harga beras diprediksikan terus fluktuatif hingga akhir tahun ini. Pasalnya, produksi padi tahun ini terancam tak terpenuhi akibat musim tanam padi yang berpotensi mundur.   Setumpuk pekerjaan rumah dari pemerintah masih belum tuntas dilaksanakan untuk menyambut musim tanam tahun ini.

Pertama, soal benih padi yang saat ini belum sampai ke tangan petani. Pemerintah telah menunjuk PT Sang Hyang Seri (SHS) dan PT Pertani untuk menyalurkan benih padi subsidi tanpa tender. Namun, dua perusahaan pelat merah ini belum juga menjalankan mandat pemerintah tersebut. 

Kedua, masalah pupuk yang langka di sekitar petani. Alhasil, muncul pupuk oplosan di pasaran. Ketiga, alat dan mesin pertanian belum terdistribusi seluruhnya ke sentra pertanian. Pemerintah menargetkan pemberian traktor sebanyak 60.000 unit, tapi baru terealisasi 30.000 unit. 


Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian, mengakui bahwa masalah ini selalu terjadi setiap memasuki musim tanam, sehingga berpotensi membuat target produksi pangan tahun ini terganggu. 

Untuk penyaluran benih, Amran mengklaim telah menyentil SHS dan Pertani untuk segera memulai pendistribusian benih ke petani. Dia menghitung, petani bakal menanggung kerugian hingga Rp 20 triliun setahun jika musim tanam mundur.

Selain itu, lantaran produksi tak cukup, pemerintah bisa saja terpaksa impor beras pada Oktober ini. "Jika tidak siap menghadapi musim tanam, target produksi padi tahun ini bisa meleset," ujarnya, Senin (30/3). 

Stok Bulog menipis

Situasi juga semakin pelik lantaran stok beras milik Bulog saat ini makin menipis. Saat ini, stok beras di gudang Bulog hanya tersisa 1 juta ton setelah rajin menggelar Operasi Pasar sejak bulan lalu. 

Di sisi lain, Lely Pelitasari, Direktur Pelayanan Publik Bulog, mengatakan, penyerapan Bulog terhadap beras hasil panen petani sejauh ini masih cukup rendah. Pada bulan Maret ini, tercatat Bulog baru menyerap 30.000 ton. Sementara, bulan April, ditargetkan terserap 300.000 ton.

Kondisi ini membuat Bulog mengakui sulit untuk mencapai target penyerapan beras hingga 2 juta ton tahun ini. "Target 2 juta ton merupakan angka psikologis dan menjadi tantangan kami," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News