Sanksi Dilonggarkan, Kilang India dan Asia Mulai Lirik Minyak Iran



KONTAN.CO.ID - Kilang minyak di India berencana kembali membeli minyak dari Iran, sementara pelaku industri di kawasan Asia lainnya mulai menjajaki langkah serupa setelah pemerintah Amerika Serikat melonggarkan sanksi secara sementara untuk meredakan krisis energi.

Tiga sumber di industri pengolahan minyak India menyebutkan bahwa perusahaan mereka siap mengimpor minyak Iran, namun masih menunggu arahan pemerintah serta kejelasan dari Washington, terutama terkait mekanisme pembayaran.

Baca Juga: Musk Ungkap Rencana Terafab, Tesla dan SpaceX Bangun Pabrik Chip Canggih di Texas


“Kami akan membeli minyak Iran, tetapi masih menunggu petunjuk pemerintah dan detail dari AS, termasuk soal skema pembayaran,” ujar salah satu sumber.

Pelonggaran ini terjadi di tengah tekanan pasokan akibat konflik di Timur Tengah, yang mendorong kilang di Asia mencari alternatif sumber energi.

Sebelumnya, kilang India juga meningkatkan pembelian minyak Rusia setelah sanksi terhadap pasokan tersebut sempat dilonggarkan.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengatakan, Washington telah memberikan pengecualian sanksi selama 30 hari untuk pembelian minyak Iran yang sudah berada di laut.

“Kebijakan ini berlaku untuk minyak yang telah dimuat ke kapal hingga 20 Maret dan dibongkar paling lambat 19 April,” ujarnya.

Data dari Kantor Pengawasan Aset Asing AS menunjukkan ini merupakan ketiga kalinya AS memberikan kelonggaran sanksi sejak perang dimulai.

Baca Juga: PM Starmer Gelar Rapat Darurat, Ekonomi Inggris Terancam Dampak Perang Iran

Pasokan Besar Mengapung

Analis Kpler Emmanuel Belostrino memperkirakan, sekitar 170 juta barel minyak Iran saat ini berada di laut, tersebar dari Teluk Timur Tengah hingga perairan dekat China.

Sementara itu, konsultan Energy Aspects memperkirakan volume yang mengapung berkisar 130–140 juta barel, setara kurang dari dua pekan gangguan produksi di kawasan Timur Tengah.

Kondisi ini membuka peluang pasokan tambahan bagi Asia, yang selama ini bergantung sekitar 60% pada minyak Timur Tengah.

Gangguan di Selat Hormuz juga memaksa sejumlah kilang menurunkan kapasitas operasi dan mengurangi ekspor bahan bakar.

Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Memanas, Harga Minyak Naik ke Atas US$113 per Barel Senin (23/3)

Tantangan Transaksi dan Logistik

Meski peluang terbuka, sejumlah hambatan masih membayangi. Pelaku pasar menyoroti ketidakpastian mekanisme pembayaran serta penggunaan kapal tanker “shadow fleet” yang sebagian besar berusia tua.

“Biasanya butuh waktu untuk menyelesaikan aspek kepatuhan, administrasi, dan perbankan, tetapi pelaku pasar akan berusaha secepat mungkin,” ujar seorang trader berbasis di Singapura.

Selain itu, sebagian pembeli lama Iran sebelumnya terikat kontrak dengan National Iranian Oil Company.

Namun sejak sanksi diberlakukan kembali pada 2018, penjualan minyak Iran lebih banyak dilakukan melalui pihak ketiga.

Baca Juga: Iran Ancam Serang Infrastruktur Energi Negara Teluk, Ultimatum Trump Picu Eskalasi

Sebelum sanksi diperketat, negara-negara seperti India, Korea Selatan, Jepang, hingga Turki merupakan pembeli utama minyak Iran.

Kini, China menjadi pelanggan terbesar dengan impor mencapai 1,38 juta barel per hari pada tahun lalu, tertarik oleh harga diskon.

Dengan pelonggaran sementara ini, pasar kini menanti apakah aliran minyak Iran dapat kembali masuk ke rantai pasok global dan meredakan tekanan harga energi yang tengah melonjak.