Sanofi Pecat CEO Paul Hudson, Belén Garijo Jadi Pemimpin Perempuan Pertama



KONTAN.CO.ID -  Produsen obat asal Prancis, Sanofi, resmi memberhentikan Paul Hudson dari jabatannya sebagai Chief Executive Officer (CEO) pada Kamis (12/2).

Keputusan ini mengakhiri masa jabatan Hudson selama enam tahun yang diwarnai oleh melambatnya upaya perusahaan dalam mengganti jajaran obat terlaris yang akan segera habis masa patennya.

Melansir pemberitaan Reuters, Sanofi telah menunjuk Belén Garijo, yang saat ini menjabat sebagai bos perusahaan farmasi Jerman Merck KGaA, sebagai suksesor.


Baca Juga: Skandal Jeffrey Epstein Seret Bos DP World, Sultan Ahmed Bin Sulayem Undur Diri

Eksekutif asal Spanyol berusia 65 tahun tersebut dijadwalkan mengambil alih kepemimpinan pada akhir April 2026 dan akan mencetak sejarah sebagai CEO perempuan pertama di Sanofi.

Pasar merespons negatif pergantian kepemimpinan ini. Harga saham Sanofi terpantau merosot sekitar 3,5% pada perdagangan Kamis.

Sejumlah analis menyoroti profil Garijo yang relatif rendah serta catatan kinerjanya yang dianggap beragam selama memimpin Merck.

Kegagalan Transformasi Riset dan Pengembangan

Pemecatan Hudson, yang kini berusia 58 tahun, terjadi hanya dua bulan sebelum masa kontraknya habis untuk diperbarui.

Dalam sebuah pertemuan dengan para analis pada akhir Januari lalu, Hudson mengakui bahwa rencana transformasinya tidak bergerak secepat yang ia antisipasi sebelumnya.

Para investor menilai perubahan nakhoda di Sanofi merupakan sinyal kuat bahwa transformasi divisi riset dan pengembangan (R&D) telah gagal atau setidaknya berjalan terlalu lambat.

Markus Manns, manajer portofolio di Union Investment yang merupakan investor Sanofi, menyatakan bahwa perbaikan rekam jejak R&D adalah kunci utama bagi masa depan perusahaan.

Selama masa jabatannya, Hudson berupaya keras mencari pengganti obat asma andalannya, Dupixent, yang akan kehilangan perlindungan paten utama pada awal 2030-an.

Ketergantungan yang terlalu besar pada satu produk ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pemegang saham.

Meskipun memberikan imbal hasil investasi sebesar 33% termasuk dividen sejak September 2019, performa Sanofi masih tertinggal jauh di belakang pesaing utamanya.

Sebagai perbandingan, AstraZeneca mencatatkan imbal hasil mencapai 133% dan GSK sebesar 65% dalam periode yang sama.

Tekanan Bisnis Vaksin di Pasar Amerika Serikat

Selain masalah internal pada lini obat-obatan, Sanofi juga menghadapi tantangan berat pada unit bisnis vaksinnya. Sebagai salah satu produsen vaksin terbesar di dunia, Sanofi mencatat serangkaian hasil uji coba yang mengecewakan sepanjang tahun 2025.

Hal ini berkontribusi pada penurunan harga saham perusahaan sebesar 25% dalam setahun terakhir. Berikut adalah beberapa poin krusial yang menekan kinerja Sanofi saat ini:

  • Kebijakan Politik AS: Tekanan meningkat dari kebijakan dan retorika anti-vaksin di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump di Amerika Serikat.
  • Proyeksi Penjualan Negatif: Unit vaksin Sanofi, yang mencakup produk flu dan terapi RSV Beyfortus, diprediksi akan mencatatkan pertumbuhan penjualan yang sedikit negatif pada tahun 2026.
  • Kalah Saing di Indeks Farmasi: Kinerja saham Sanofi terus tertinggal dari indeks farmasi STOXX Eropa.
Tonton: Proyek Sampah Tahap II Menyasar 12 Daerah

Profil Belén Garijo dan Masa Transisi

Dewan Direksi Sanofi berharap pengalaman Belén Garijo dapat mempercepat langkah perusahaan dalam memperkuat kualitas eksekusi strategi.

Menariknya, Garijo bukan orang asing bagi Sanofi karena ia pernah bekerja selama 15 tahun di perusahaan tersebut sebelum pindah ke Merck.

Ketua Dewan Direksi Sanofi, Frederic Oudea, menyatakan bahwa Garijo memiliki profil yang tepat untuk memimpin siklus pertumbuhan perusahaan berikutnya.

Namun, tantangan besar menantinya, terutama dalam membuktikan kemampuan R&D untuk menghasilkan obat-obat blokbuster baru.

Kepergian Hudson menambah panjang daftar pengunduran diri CEO farmasi di Eropa dalam kurun waktu setahun terakhir. Fenomena ini diawali dengan pergantian kepemimpinan di GSK pada Januari dan produsen obat penurun berat badan Novo Nordisk pada Agustus 2025.

Sektor farmasi global saat ini memang sedang mengalami tekanan hebat akibat dinamika kebijakan kesehatan di Amerika Serikat dan berakhirnya masa paten obat-obat kunci (patent cliff).

Perusahaan dituntut untuk lebih agresif dalam melakukan akuisisi skala kecil hingga menengah (bolt-on acquisitions) guna mengisi pipa produk mereka.

Hudson sendiri sempat berpesan kepada para analis untuk sedikit bersabar. Namun, dengan harga saham yang terus tertekan dan kompetisi yang kian tajam, dewan direksi

Sanofi tampaknya memilih untuk tidak lagi menunggu lebih lama. Fokus kini tertuju pada Garijo untuk membuktikan bahwa ia mampu membawa efisiensi biaya sekaligus inovasi produk di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Selanjutnya: Kementan Alokasikan Rp336 Miliar guna Rehabilitasi Sawah Terdampak Banjir di Sumatera

Menarik Dibaca: Promo The Body Shop Spesial Imlek, Lip Tint-Primer Diskon hingga 50%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News