KONTAN.CO.ID - Produsen obat asal Prancis, Sanofi, resmi memberhentikan Paul Hudson dari jabatannya sebagai Chief Executive Officer (CEO) pada Kamis (12/2). Keputusan ini mengakhiri masa jabatan Hudson selama enam tahun yang diwarnai oleh melambatnya upaya perusahaan dalam mengganti jajaran obat terlaris yang akan segera habis masa patennya. Melansir pemberitaan Reuters, Sanofi telah menunjuk Belén Garijo, yang saat ini menjabat sebagai bos perusahaan farmasi Jerman Merck KGaA, sebagai suksesor.
Kegagalan Transformasi Riset dan Pengembangan
Pemecatan Hudson, yang kini berusia 58 tahun, terjadi hanya dua bulan sebelum masa kontraknya habis untuk diperbarui. Dalam sebuah pertemuan dengan para analis pada akhir Januari lalu, Hudson mengakui bahwa rencana transformasinya tidak bergerak secepat yang ia antisipasi sebelumnya. Para investor menilai perubahan nakhoda di Sanofi merupakan sinyal kuat bahwa transformasi divisi riset dan pengembangan (R&D) telah gagal atau setidaknya berjalan terlalu lambat. Markus Manns, manajer portofolio di Union Investment yang merupakan investor Sanofi, menyatakan bahwa perbaikan rekam jejak R&D adalah kunci utama bagi masa depan perusahaan. Selama masa jabatannya, Hudson berupaya keras mencari pengganti obat asma andalannya, Dupixent, yang akan kehilangan perlindungan paten utama pada awal 2030-an. Ketergantungan yang terlalu besar pada satu produk ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pemegang saham. Meskipun memberikan imbal hasil investasi sebesar 33% termasuk dividen sejak September 2019, performa Sanofi masih tertinggal jauh di belakang pesaing utamanya. Sebagai perbandingan, AstraZeneca mencatatkan imbal hasil mencapai 133% dan GSK sebesar 65% dalam periode yang sama.Tekanan Bisnis Vaksin di Pasar Amerika Serikat
Selain masalah internal pada lini obat-obatan, Sanofi juga menghadapi tantangan berat pada unit bisnis vaksinnya. Sebagai salah satu produsen vaksin terbesar di dunia, Sanofi mencatat serangkaian hasil uji coba yang mengecewakan sepanjang tahun 2025. Hal ini berkontribusi pada penurunan harga saham perusahaan sebesar 25% dalam setahun terakhir. Berikut adalah beberapa poin krusial yang menekan kinerja Sanofi saat ini:- Kebijakan Politik AS: Tekanan meningkat dari kebijakan dan retorika anti-vaksin di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump di Amerika Serikat.
- Proyeksi Penjualan Negatif: Unit vaksin Sanofi, yang mencakup produk flu dan terapi RSV Beyfortus, diprediksi akan mencatatkan pertumbuhan penjualan yang sedikit negatif pada tahun 2026.
- Kalah Saing di Indeks Farmasi: Kinerja saham Sanofi terus tertinggal dari indeks farmasi STOXX Eropa.