Saratoga Investama (SRTG) Rugi Rp 3,87 Triliun Semester I, Ini Strategi Investasinya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) membukukan rugi bersih selama periode Januari-Juni 2026.

SRTG mencatatkan kerugian neto atas investasi pada saham dan efek lainnya sebesar Rp 4,83 triliun per semester I 2026. Ini memburuk 165,6% dari rugi Rp 1,82 triliun per semester I 2025.

Penghasilan dividen dan bunga tercatat Rp 1,69 triliun per Juni 2026, naik 31,51% secara tahunan. Penghasilan lainnya tercatat Rp 2,12 miliar, turun dari Rp 2,50 miliar per Juni 2025.


Baca Juga: Saham Darma Henwa (DEWA) Berpotensi Bangkit, Kontrak SSC Jadi Katalis Utama

SRTG juga mencatatkan beban usaha Rp 123,05 miliar dan beban lainnya Rp 2,06 miliar. Namun beban bunga berhasil turun dari Rp 99,23 miliar di Juni 2025 menjadi Rp 37,08 miliar di periode ini.

Kerugian neto selisih kurs tercatat 5,41 miliar per Juni 2026, naik dari Rp 565 juta per Juni 2025.

Rugi periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik perusahaan alias rugi bersih sebesar Rp 3,87 triliun per semester I 2026. Ini berbalik dari laba bersih Rp 102,01 miliar per semester I 2025.

Di saham emiten blue chip, SRTG diketahui menggenggam saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). 

Sementara, investasi Saratoga di saham emiten berkembang ada PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPIX), PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), dan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA).

Investor Relations Saratoga Mellisa Holidi mengatakan,sebagai perusahaan investasi, pergerakan nilai portofolio perseroan mengikuti dinamika dan fluktuasi yang terjadi di pasar modal.

Baca Juga: Harga Ether Masih Terkoreksi, Begini Proyeksinya hingga Akhir 2026

SRTG tetap konsisten menjalankan strategi investasi jangka panjang. Fokus utamanya berpusat pada penciptaan pertumbuhan nilai yang berkelanjutan melalui optimalisasi portofolio, peningkatan efisiensi operasional, serta penguatan strategi bisnis di seluruh perusahaan portofolio. 

“Melalui pendekatan ini, kami memastikan portofolio tetap tangguh di tengah berbagai dinamika pasar,” ujarnya kepada Kontan, Senin (31/8/2026).

Dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berkembang, SRTG mengaku masih terus menerapkan strategi investasi jangka panjang yang berkelanjutan dan terpadu. 

Sehingga, Saratoga secara strategis tetap berfokus mengidentifikasi peluang pada sektor-sektor yang memiliki fundamental kuat dan prospek pertumbuhan jangka panjang, termasuk layanan kesehatan, energi terbarukan, infrastruktur digital, dan sektor konsumen.

Mellisa bilang, divestasi juga merupakan bagian dari kegiatan pengelolaan portofolio rutin SRTG sebagai perusahaan investasi dan dilakukan untuk merealisasikan nilai portofolio secara optimal.

“Keputusan tersebut selalu difokuskan pada strategi investasi jangka panjang yang terukur demi memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi pemegang saham,” katanya.

Baca Juga: IHSG Menutup Agustus 2026 dengan Menguat, Simak Arahnya Perdagangan Selasa (1/9)

Lebih lanjut, Saratoga mengaku memiliki sumber pendanaan kas dan fasilitas pinjaman bank yang memadai untuk mengeksekusi strategi investasi perusahaan. Hal ini dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan berfokus pada valuasi yang atraktif, serta kualitas fundamental yang kuat.

Mellisa menuturkan, SRTG akan terus aktif mengkaji berbagai peluang investasi secara disiplin, sekaligus memfokuskan ekspansi pada perusahaan portofolio eksisting. 

“Seluruh kapasitas pendanaan ini dikelola secara terukur guna memberikan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News