Satu Kongsi Grup Djarum, Blibli (BELI) Akan Sulit Tandingi BBCA dan TOWR



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Grup Djarum akan melepas entitas usahanya, yakni PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) alias Blibli menjadi perusahaan terbuka. Namun Blibli bukanlah yang pertama melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebelumnya Grup Djarum sudah punya beberapa emiten, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Sarana Menara Nusantara (TOWR), PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) dan PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC).

Direktur Avere Investama Teguh Hidayat menilai meskipun Blibli termasuk dalam kongsi Grup Djarum, tetapi investor melihat BELI lebih mirip dengan start up PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA).


Baca Juga: Dipayungi Nama Besar Grup Djarum, IPO Blibli (BELI) Bisa Jadi Nilai Lebih?

"Blibli yang sama dengan BUKA dan GOTO, jadi tidak bisa disamakan dengan emiten lain sama-saham Grup Djarum, tapi harus melihat dari laporan keuangan masing-masing," kata Teguh kepada Kontan.co.id, Senin (17/10).

Adapun sepanjang semester pertama 2022, BBCA berhasil mengantongi laba bersih sebesar Rp 18 triliun atau melesat 24,9%. Sementara, TOWR mencatatkan laba bersih senilai Rp 1,69 triliun per Juni 2022 dari Rp 1,69 triliun di Juni 2021. 

"Blibli tidak akan akan terpengaruh dengan BBCA atau TOWR yang jangka panjang sudah naik terus," imbuh Teguh.

Baca Juga: Dana IPO Blibli (BELI) Untuk Bayar Utang, Simak Rekomendasinya

Sementara itu, Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto menilai saham-saham grup Djarum masih tergolong premium. Apalagi BBCA dan TOWR yang secara kinerja masih performa yang kuat dan konsisten. 

"BELI kayaknya cukup jauh kalau disetarakan dengan BBCA. Untuk cetak profit saja masih kesulitan sejauh ini," jelas Pandhu. 

Berdasarkan prospektus Blibli, hingga periode Juni 2022, BELI sudah membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 6,71 triliun atau meningkat 124,41% dari posisi Rp 2,9 triliun per Juni 2021. 

Dari sisi bottom line, BELI menanggung rugi tahun berjalan senilai Rp 2,5 triliun hingga periode Juni 2022. Kerugian ini naik 125,22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Belajar dari GOTO dan BUKA, Investor Dinilai Bakal Hati-Hati Masuk IPO Blibli

Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana menyebut kalau dilihat Blibli masih menarik secara prospek dan likuiditas. Namun, dari sisi profitabilitas agak sulit kalau dibandingkan dengan BBCA dan TWOR.

"Meski Grup Djarum diasumsikan memiliki permodalan yang kuat untuk mendukung keberlangsungan Blibli, tapi berkaca pada GOTO dan BUKA serta laporan keuangan maka harga saham selalu mencerminkan fundamental jangka panjang," pungkas Wawan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati