KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri kelapa sawit dinilai masih menjadi penopang utama pemulihan ekonomi di sejumlah wilayah Sumatra yang terdampak bencana alam, seperti Aceh dan Sumatra Utara. Namun, keberlanjutan sektor ini sangat bergantung pada tata kelola yang memperhatikan kesesuaian lahan dan keseimbangan lingkungan. Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) Kacuk Sumarto mengatakan, struktur perekonomian di wilayah terdampak bencana masih sangat bergantung pada sektor perkebunan sawit. Oleh karena itu, sawit tidak bisa begitu saja ditinggalkan dalam strategi pemulihan ekonomi daerah.
“Perekonomian daerah seperti Aceh dan Sumatra Utara masih sangat bertumpu pada sawit. Yang dibutuhkan bukan meninggalkannya, tetapi memperbaiki tata kelolanya,” ujar Kacuk seperti dikutip dari siaran pers, Selasa (10/2/2026).
Baca Juga: Dukung Pemulihan Ekonomi di Sumatra, Lazada Luncurkan Kanal LazADA di Sumatra Menurut Kacuk, pengembangan sawit ke depan harus berbasis pada kesesuaian lahan dan prinsip ekofisiologis tanaman. Dengan pendekatan tersebut, perkebunan sawit tetap dapat tumbuh tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Ia juga menyinggung bahwa perkebunan sawit di Sumatra Utara telah berkembang lebih dari satu abad dan relatif mampu berjalan berdampingan dengan lingkungan sekitar. Tantangan saat ini, kata dia, lebih banyak dipicu oleh perubahan iklim global yang meningkatkan risiko bencana. “Bagaimana manfaat ekonomi tetap dirasakan, tetapi risiko ekologinya bisa ditekan seminimal mungkin,” katanya. Pandangan tersebut diperkuat oleh kalangan akademisi. Guru Besar Ekonomi Pertanian USU, Diana Chalil, menilai bahwa budidaya kelapa sawit di lahan yang tepat dapat menjadi salah satu kunci pemulihan ekonomi pascabencana di wilayah Sumatra.
Baca Juga: Perizinan dan Investasi Dinilai Jadi Kunci Pertumbungan Ekonomi RI pada 2026 Menurut Diana, dibandingkan komoditas lain, sawit memberikan efek berganda yang relatif lebih besar, baik dari sisi ekonomi maupun sosial. Pengalaman pascatsunami Aceh 2004 menunjukkan bahwa sawit menjadi pilihan banyak petani karena dinilai lebih menguntungkan. “Pasca bencana, petani cenderung memilih komoditas yang cepat memberi kepastian pendapatan,” ujarnya. Diana menjelaskan, secara nasional sektor pertanian menyumbang lebih dari 70% devisa, dengan ekspor minyak sawit sebagai kontributor terbesar. Di tingkat regional, sawit juga menjadi penyumbang devisa ekspor utama Aceh dan salah satu yang terbesar di Sumatra Utara. Dari sisi ketenagakerjaan, industri sawit menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja pada 2024, baik langsung maupun tidak langsung. Angka ini belum termasuk tenaga kerja di sektor hulu, hilir, dan jasa pendukung agribisnis sawit.
Baca Juga: Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 5%, Konsumsi & Investasi Jadi Kunci Dongkrak Ekonomi Hasil penelitian Diana bersama tim Consortium Studies on Smallholder Palm Oil (CSPO) juga menunjukkan peningkatan pendapatan masyarakat setelah beralih ke budidaya sawit. Di Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, misalnya, pendapatan rata-rata petani naik dari Rp31,8 juta menjadi Rp42,1 juta per tahun. Meski demikian, Diana menegaskan bahwa pengembangan sawit tidak boleh mengabaikan prinsip keberlanjutan. Sawit, menurutnya, bukan penyebab utama bencana alam yang terjadi belakangan ini, tetapi pengelolaannya ke depan harus lebih terarah. “Bukan soal luasnya, tetapi lokasinya. Bukan hanya bisa diproduksi, tetapi juga berkelanjutan dan bernilai ekonomi,” kata Diana.
Baca Juga: Airlangga: Industri Sawit Jadi Salah Satu Pilar Ekonomi RI di Tengah Tantangan Global Baik asosiasi maupun akademisi sepakat bahwa sawit masih memiliki peran strategis dalam pemulihan ekonomi pascabencana di Sumatra. Namun, peran tersebut hanya akan optimal jika diiringi dengan tata kelola yang tepat, berbasis kesesuaian lahan dan keseimbangan ekologi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News