Sawit Jadi Bahan Avtur, Apkasindo Optimistis Tidak Perlu Perluasan Lahan Baru



KONTAN.CO.ID – JAKARTA.  Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo)) menyatakan target pemerintah mengembangkan avtur berbasis minyak sawit atau bioavtur bisa dicapai tanpa perlu membuka lahan baru perkebunan sawit.

Ketua Umum DPP Apkasindo, Gulat Manurung, mengatakan kebutuhan bahan baku untuk program campuran bioavtur sebenarnya masih bisa dipenuhi dari produksi yang ada. Jika mengacu pada skema campuran setara 2,4% seperti bioavtur berbasis minyak jelantah, dibutuhkan sekitar 1 juta ton CPO.

“Kalau pakai hitungan 2,4% itu sekitar 1 juta ton CPO untuk masuk ke bauran bioavtur,” ujarnya, Senin (13/4/2026).


Meski demikian, Apkasindo menegaskan tidak mendukung adanya perluasan lahan sawit. Menurut Gulat, peningkatan produksi lebih tepat dilakukan lewat intensifikasi, terutama melalui peremajaan kebun rakyat.

Baca Juga: Apkasindo Dorong Biomassa Sawit Jadi Energi Alternatif

Saat ini, perkebunan sawit rakyat tercatat seluas 6,87 juta hektare, dengan sekitar 2,5 juta hektare di antaranya perlu diremajakan melalui Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Namun sejak 2017, PSR baru berjalan sekitar 400.000 hektare.

Produktivitas kebun rakyat saat ini masih rendah, yakni sekitar 400–800 kilogram (kg) tandan buah segar (TBS) per bulan dengan rendemen 18%–21%. Jika replanting dilakukan optimal, produktivitas bisa naik 2–3 kali lipat hingga sekitar 2,5 ton TBS per hektare per bulan.

"Kalau replanting maksimal dalam tiga tahun ke depan, produksi CPO bisa mencapai 127 juta ton per tahun pada 2030," kata Gulat, jauh di atas produksi saat ini yang berada di kisaran 56–57 juta ton per tahun.

Dari sisi industri, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI)), Tungkot Sipayung, menilai bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis sawit memiliki prospek besar sebagai substitusi avtur fosil.

Ia menjelaskan, Indonesia memiliki pasokan bahan baku yang kuat, mulai dari CPO, PKO, minyak jelantah sekitar 3 juta ton per tahun, hingga minyak asam tinggi seperti POME dan turunan limbah sawit lainnya.

Baca Juga: Kewajiban B50 Menjadi Dasar Ekspansi Lahan Baru Kebun Kelapa Sawit

Konsumsi avtur nasional saat ini diperkirakan mencapai sekitar 5 juta kiloliter per tahun. Namun, penggunaan bioavtur tidak akan langsung besar, melainkan bertahap.

Pada tahap awal, skema blending J2,4 yakni 2,4% bioavtur dan 97,6% avtur fosil, diperkirakan hanya membutuhkan sekitar 120.000 kiloliter bioavtur.

“Dengan J2,4 itu kebutuhannya sekitar 120.000 kiloliter,” ujar Tungkot.

PASPI menekankan bahwa kebutuhan CPO untuk berbagai sektor seperti pangan, oleokimia, biodiesel, hingga bioavtur akan terus meningkat. Karena itu, peningkatan produktivitas kebun sawit menjadi kunci utama untuk menjaga keseimbangan pasokan.

Meski demikian, PASPI juga membuka kemungkinan terbatas untuk ekspansi lahan, selama benar-benar dibutuhkan dan dilakukan dengan prinsip keberlanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News