KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (
SSMS) memandang prospek bisnis kelapa sawit pada tahun 2026 tetap positif.
Salah satu faktor pendorongnya yakni implementasi program biodiesel B50 oleh pemerintah, yang dinilai mampu menciptakan permintaan dasar bagi crude palm oil (CPO). Direktur Utama SSMS Jap Hartono mengatakan, kebijakan B50 menjadi katalis penting bagi industri sawit nasional karena memperkuat serapan domestik CPO sekaligus menjaga keseimbangan pasokan untuk ekspor. Menurutnya, Indonesia dinilai memiliki keunggulan karena biofuel berbasis CPO mampu menopang sektor agrikultur domestik, sebagaimana Amerika Serikat memiliki soya oil dan Eropa red oil serta sunflower oil.
Baca Juga: Danantara Jalankan 13 Proyek Hilirisasi, Ada Tambah Enam Proyek Baru Tahun Ini “Karena balik lagi Indonesia punya
biofuel support agriculture kami yaitu CPO, Amerika
support soya oil, Eropa
support red oil and sun oil. Jadi dengan kebijakan pemerintah B50 itu menciptakan
the floor demand buat CPO,” ungkap Jap Hartono, dalam paparan publik virtual, Kamis (30/4/2026).
Perusahaan mencatat, kebutuhan
domestic market obligation (DMO) saat ini berada di kisaran 45 juta ton per tahun, sementara dengan B50 kebutuhan tambahan bisa mencapai 16 juta ton hingga 20 juta ton per tahun. Adapun, produksi CPO Indonesia saat ini berada di kisaran 50 juta ton hingga 51 juta metric ton per tahun. Dengan adanya penyerapan domestik yang besar, perusahaan melihat masih tersedia ruang yang cukup untuk ekspor. Meski melihat peluang besar dari implementasi B50, SSMS belum berencana masuk ke bisnis biodiesel dalam waktu dekat. Pihaknya menilai pembangunan pabrik biodiesel membutuhkan waktu panjang dan pembiayaan proyek yang besar. Karena itu, untuk sementara perusahaan memilih menikmati kenaikan permintaan CPO yang terjadi akibat implementasi kebijakan tersebut, sambil membuka peluang akuisisi pabrik biodiesel di masa yang akan datang.
“Jadi kelihatannya tidak apa-apa, sementara kami
enjoy saja dulu dengan kenaikan
demand buat CPO. Di waktu itu kita juga akan lihat apakah ada peluang untuk mengakuisisi
biodiesel plant, sesuatu seperti itu,” paparnya. SSMS juga menyiapkan berbagai langkah antisipatif menghadapi potensi El Nino yang diperkirakan memengaruhi sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Kalimantan. Salah satu strategi yang dilakukan adalah memperkuat infrastruktur kebun sebelum musim kering berlangsung, termasuk memperbaiki benteng dan memastikan kondisi jalan operasional tetap memadai.
Baca Juga: Harga BBM Diesel di SPBU Swasta Rp 30.890, Pertamina Ungkap Alasan Jaga Harga BBM Selain itu, perusahaan juga mengupayakan penangkapan air (water capture) untuk menjaga ketersediaan air saat musim kering. “Sebenarnya dengan tahun ini agak kering, kita diuntungkan karena kita punya peluang, kita punya time frame untuk pupuk lebih enak, lebih panjang. Nah kalau tahun lalu itu wet season, itu jadwal waktu untuk pupuk lebih pendek,” jelasnya. Para pemegang saham SSMS telah menyetujui rencana pembagian dividen tunai sebesar Rp 800 miliar, atau 83,99 per saham. Dividen tersebut setara 68,92% dari total laba bersih perusahaan di tahun 2025.
Sebagai informasi, perusahaan melaporkan kinerja sepanjang tahun 2025 dengan mencatatkan peningkatan kinerja operasional. Hingga akhir tahun 2025, SSMS membukukan pendapatan sekitar Rp14,81 triliun, meningkat sekitar 42,91% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kontribusi utama berasal dari segmen minyak dan lemak nabati.
Kinerja profitabilitas juga menunjukkan penguatan yang signifikan. Laba tahun berjalan setelah efek penyesuaian proforma tercatat sekitar Rp1,39 triliun, meningkat sekitar 67,43% dibandingkan tahun sebelumnya.
Total aset perusahaan mengalami peningkatan sebesar 14,43% dari Rp11,87 triliun di tahun 2024 menjadi Rp13,58 triliun di tahun 2025. Kenaikan pada total aset terutama didorong oleh akuisisi PT Sawit Mandiri Lestari (SML) yang memperluas basis aset perusahaan.
Baca Juga: Prabowo Targetkan 30–40 Proyek Hilirisasi Mulai Dibangun Tahun Ini “Dalam memandang tahun 2026, Perseroan meyakini prospek industri kelapa sawit tetap berada pada jalur pertumbuhan yang positif. Permintaan global terhadap minyak nabati diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan populasi, perkembangan industri pangan, serta meningkatnya kebutuhan energi alternatif yang lebih berkelanjutan,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News