SBN Ritel ORI030 Berpotensi Geser Likuiditas Investor, Ini Instrumen yang Terdampak



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah resmi menawarkan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030 pada 6 Juli hingga 30 Juli 2026. Dengan kupon tetap sebesar 6,90% untuk tenor tiga tahun dan 7,00% untuk tenor enam tahun, instrumen ini berpotensi memicu persaingan penghimpunan dana (fund competition) di pasar keuangan.

Pasalnya, instrumen tersebut hadir ketika berbagai aset pendapatan tetap juga menawarkan imbal hasil yang tinggi. Dari sisi instrumen pembanding, yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 12 bulan per 3 Juli 2026 mencapai 7,67%, yield SRBI tenor enam bulan mencapai 7,26%, dan tenor sembilan bulan 7,45%. Ketiganya jauh lebih tinggi dibandingkan BI Rate yang berada di level 5,75%.

Adapun rata-rata bunga deposito bank umum per April 2026 tercatat 4,58% untuk tenor enam bulan dan 4,44% untuk tenor 12 bulan. Dan juga, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun pada Senin (6/7) berada di level 7,15%.


Baca Juga: Proyeksi Rupiah, Selasa (7/7): Masih Loyo, Berpotensi Melemah Menuju Rp 18.050

Pengamat ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengatakan ORI030 berpotensi menyerap dana investasi dan menggeser likuiditas investor dari instrumen berisiko lebih tinggi ke instrumen pendapatan tetap yang dijamin negara.

Sementara itu, efeknya paling terasa pada dana ritel konservatif, terutama dana yang selama ini parkir di tabungan, deposito berbunga rendah, reksadana pasar uang, dan  sebagian kas investor yang sebelumnya menunggu arah pasar saham.

“Pemerintah mendapat keuntungan karena basis pembiayaan domestik melebar, tetapi perbankan dapat menghadapi tekanan jika nasabah ritel memindahkan dana menganggur ke ORI dalam jumlah besar. Kondisi beberapa indeks ekuitas melemah juga membuat ORI lebih mudah menarik dana konservatif yang menghindari volatilitas saham,” ujar Syafruddin kepada Kontan, Senin (6/7/2026).

Tetapi, dampaknya terhadap SRBI lebih tidak langsung karena SRBI banyak dimainkan bank dan institusi, sedangkan ORI menyasar investor individu. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, mengatakan jika saat ini kurva imbal hasil sedang terbalik sehingga yield SBN tenor pendek dan SRBI justru berada di atas kupon ORI030. 

“Artinya, ORI030 bukan instrumen dengan imbal hasil tertinggi di pasar. Nilai tambahnya justru terletak pada kupon tetap hingga jatuh tempo, pembayaran kupon setiap bulan, jaminan penuh dari negara, serta pajak yang lebih rendah. Tetapi bagi investor ritel yang tidak memiliki akses langsung ke SRBI, kombinasi tersebut masih sangat kompetitif,” ujar Yusuf.

Baca Juga: Catat! Cum Dividen Dayamitra Telekomunikasi (MTEL) pada 8 Juli 2026

Sehingga, persaingan memperebutkan dana masyarakat memang berpotensi terjadi, tetapi sumber utamanya bukan ORI030. Instrumen yang paling banyak menyerap likuiditas saat ini adalah SRBI karena menawarkan imbal hasil yang sangat menarik. Kondisi itu mendorong bank menaikkan bunga simpanan agar dana nasabah tidak berpindah.

“ORI030 sebenarnya hanya ikut memanfaatkan lingkungan suku bunga tinggi yang sudah terbentuk. Dengan target penerbitan sekitar Rp 20 triliun, skalanya juga jauh lebih kecil dibanding outstanding SRBI yang saat ini sudah mendekati Rp 1.000 triliun,” tambah Yusuf.

Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management, Domingus Sinarta Ginting, memperkirakan dana yang masuk ke ORI030 akan berasal dari beberapa sumber sekaligus. Mulai dari dana deposito yang telah jatuh tempo, dana menganggur (idle cash), sebagian alokasi reksadana pasar uang, hingga investor yang sebelumnya berencana membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder.

Menurut Domingus, instrumen yang paling berpotensi terdampak adalah deposito dengan tingkat bunga relatif rendah dan reksadana pasar uang. Pasalnya, investor akan membandingkan tingkat imbal hasil bersih yang diterima setelah memperhitungkan pajak.

Di tengah persaingan berbagai instrumen investasi, Domingus menilai saat ini justru menjadi momentum yang tepat bagi investor untuk membangun portofolio yang lebih seimbang melalui strategi diversifikasi. 

Baca Juga: Saham Energi Terbarukan Berjatuhan, Begini Rekomendasi Analis

Bagi investor konservatif, Domingus menyarankan alokasi sekitar 50%–70% pada SBN seperti ORI030, kemudian 20%–30% pada deposito atau reksadana pasar uang untuk menjaga likuiditas, sementara sisanya ditempatkan pada instrumen pendapatan tetap lainnya.

Sementara itu, investor dengan profil moderat dapat mengalokasikan 40%–50% dana pada SBN, 20%–30% pada obligasi korporasi berperingkat layak investasi (investment grade), serta 20%–30% pada saham atau reksadana saham untuk memperoleh potensi pertumbuhan jangka panjang.

Adapun bagi investor agresif, Domingus menyarankan ORI030 tetap dimanfaatkan sebagai komponen defensif dengan porsi sekitar 20%–30%, sedangkan sebagian besar portofolio tetap ditempatkan pada aset berisiko seperti saham. 

“Dari perspektif pengelolaan aset, ORI030 sebaiknya dipandang bukan sebagai pengganti seluruh instrumen investasi lainnya, melainkan sebagai core fixed income allocation dalam portofolio,” pungkas Domingus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News