SBN Ritel ST016 Akan Ditawarkan Awal Mei, Segini Potensi Kuponnya



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kementerian Keuangan telah menerbitkan dua SBN ritel pada tahun ini. Yakni ORI029 yang ditawarkan pada 26 Januari - 19 Februari 2026 dan SR024 (SBN Syariah) yang ditawarkan pada 6 Maret sampai 15 April 2026. 

Adapun, SBN ritel yang akan diterbitkan dalam waktu dekat adalah Sukuk Tabungan (ST) seri ST016 yang ditawarkan pada 8 Mei sampai 3 Juni 2026. 

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual menilai imbal hasil (yield) SBN ritel tetap menarik dan kompetitif terutama jika dibandingkan dengan instrumen deposito. Namun penahanan suku bunga BI rate mengindikasikan ruang penurunan suku bunga yang terbatas. Tekanan inflasi yang terus meningkat akibat harga minyak mendorong yield untuk kembali naik (harga turun).


Baca Juga: Rupiah Tertekan ke Rp 17.243 per Dolar AS, Sentimen Global Risk-Off Kembali Menguat

David melihat ST016 berpotensi disambut cukup baik oleh masyarakat, terutama karena kuponnya yang secara konsisten ditetapkan di atas BI Rate memberikan kepastian imbal hasil yang konsisten. 

“Kondisi pasar saat ini juga turut mendukung, dengan pasar saham yang tertekan dan harga emas yang mulai konsolidasi, investor ritel cenderung beralih ke instrumen yang lebih defensif,” ujar David kepada Kontan, Selasa (28/4/2026). 

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengatakan, prospek SBN ritel setelah BI menahan suku bunga arahnya masih cukup konstruktif, meskipun tidak tanpa catatan.

Keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 4,75% memberi sinyal bahwa Indonesia sedang berada dalam fase suku bunga yang relatif tinggi dan cenderung stabil. Ruang penurunan dalam waktu dekat masih terbatas karena tekanan eksternal belum sepenuhnya reda, baik dari sisi geopolitik, harga energi, maupun stabilitas nilai tukar. 

“Dalam situasi seperti ini, SBN ritel justru berada di posisi yang cukup menarik. Pemerintah tetap perlu menjaga daya tarik kupon agar penyerapan kuat, apalagi di tengah kenaikan yield SBN di pasar sekunder,” ujar Yusuf kepada Kontan, Selasa (28/4/2026).  

Di sisi lain, Yusuf menilai instrumen seperti deposito masih kurang kompetitif jika dibandingkan secara neto, karena pajaknya lebih tinggi dan bunganya belum bergerak signifikan. Namun ada perubahan perilaku investor yang penting dicermati. Investor ritel sekarang tidak lagi hanya melihat BI Rate sebagai acuan, tapi juga mulai memperhatikan yield pasar, inflasi, dan ekspektasi ke depan. 

“Artinya, penentuan kupon ke depan, termasuk untuk ST016, akan lebih sensitif terhadap spread yang ditawarkan, bukan sekadar level absolutnya,” terang Yusuf.

Baca Juga: Kinerja Keuangan PTRO Kuartal I-2026 Tumbuh, Laba Bersih Naik 50,54%

Adapun, untuk daya tarik ST016 sendiri, Yusuf cukup optimis penyerapannya tetap baik, meskipun mungkin tidak sekuat seri sukuk ritel (SR) yang sifatnya bisa diperdagangkan. SR024 kemarin menunjukkan minat yang tinggi, dan itu menjadi indikasi bahwa likuiditas investor ritel masih ada. ST016 akan ikut menikmati momentum tersebut, terutama di segmen investor yang mencari instrumen syariah dengan profil aman dan pendapatan rutin.

Meski begitu, karakter ST yang tidak bisa diperdagangkan dan menggunakan skema floating with floor membuat daya tariknya sedikit berbeda. Dalam kondisi BI Rate yang cenderung ditahan, potensi kenaikan kupon ke depan tidak terlalu besar. Jadi yang benar-benar menjadi kunci adalah tingkat floor yang ditetapkan di awal. 

“Kalau pemerintah berani memberikan floor yang cukup kompetitif, minat akan tetap kuat. Sebaliknya, kalau terlalu konservatif, sebagian investor bisa menahan diri, apalagi setelah sebelumnya sudah masuk ke obligasi negara ritel (ORI) dan SR dalam waktu yang berdekatan,” ucap Yusuf. 

Untuk proyeksi kupon, Yusuf melihatnya dengan membandingkan dua hal, yaitu seri sebelumnya dan kondisi pasar saat ini. ST015 di akhir 2025 memberikan baseline yang cukup jelas, sementara SR024 dan ORI029 memberi gambaran bagaimana ekspektasi investor terbentuk belakangan ini. 

Dengan mempertimbangkan kenaikan yield di pasar sekunder dan kebutuhan pemerintah menjaga daya tarik, Yusuf memperkirakan ST016 tenor 2 tahun akan berada di kisaran 5,30% sampai 5,50%. Ini berarti spread sekitar 55 sampai 75 basis poin di atas BI Rate. 

Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga, SBN Ritel Masih Jadi Pilihan Investor

Lalu untuk tenor 4 tahun, kemungkinan berada di kisaran 5,65% sampai 5,85%, atau sekitar 90 sampai 110 basis poin di atas BI Rate.

“Saya tidak melihat kuponnya akan menyamai SR024 tenor panjang karena karakter ST yang tidak likuid membuat kebutuhan kompensasinya berbeda. Tapi di saat yang sama, pemerintah juga tidak punya banyak ruang untuk menetapkan kupon terlalu rendah, karena investor sudah punya referensi yang cukup kuat dari seri-seri sebelumnya,” lanjutnya.  

Satu hal yang menurut Yusuf menarik untuk diperhatikan bukan hanya angka kuponnya, tapi kecepatan penyerapannya. Kalau ST016 bisa terserap cepat di awal masa penawaran, itu sinyal bahwa likuiditas ritel masih kuat dan kepercayaan terhadap instrumen pemerintah tetap terjaga. 

“Sebaliknya, kalau penyerapannya cenderung melambat, itu bisa menjadi tanda bahwa pasar mulai jenuh setelah beberapa seri ritel diterbitkan berdekatan, dan ini akan berpengaruh ke strategi penerbitan berikutnya,” jelas Yusuf. 

Sementara David melihat spread kupon ST terhadap BI Rate secara historis berada secara konsisten di bawah 1% sejak ST09, dan tren beberapa seri terakhir menunjukkan kecenderungan yang semakin menyempit. “Dengan pola tersebut, spread ST016 diperkirakan akan berada di kisaran yang serupa dengan seri sebelumnya, yaitu di sekitar 45 – 50 bps di atas BI Rate,” pungkas David.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News