Schneider Electric Antisipasi Lonjakan Kebutuhan Teknisi di Industri Kelistrikan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendukung sertifikasi kompetensi teknisi listrik hingga Level 3 untuk pemeliharaan instalasi pemanfaatan tenaga listrik tegangan rendah. 

Upaya ini dilakukan untuk memperkuat ketersediaan tenaga teknik yang kompeten seiring pertumbuhan kebutuhan listrik dan pembangunan infrastruktur kelistrikan di Indonesia.

Dukungan tersebut dijalankan melalui kolaborasi Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (Ditjen Gatrik) Kementerian ESDM dengan Schneider Electric Indonesia lewat program Electrician Academy 2026. Dalam program ini, sekitar 400 teknisi ditargetkan mengikuti proses sertifikasi kompetensi pada tahap awal.


Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Ditjen Gatrik Kementerian ESDM Eri Nurcahyanto mengatakan, peningkatan kompetensi perlu didukung pembelajaran dan uji kompetensi agar teknisi memperoleh pengakuan profesional serta mampu menerapkan standar keselamatan secara konsisten.

“Kami mendorong teknisi memperkuat pengalaman lapangan dengan pembelajaran dan uji kompetensi agar memperoleh pengakuan profesional, bekerja sesuai kompetensinya, dan menerapkan standar keselamatan secara konsisten,” ujar Eri dalam sambutannya dalam pembukaan Electrician Academy 2026 di Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Kebutuhan tenaga teknik yang kompeten menjadi perhatian seiring meningkatnya konsumsi listrik dan berkembangnya proyek-proyek yang membutuhkan pasokan energi besar. PT PLN (Persero) mencatat penjualan listrik sebesar 162,26 terawatt hour (TWh) pada semester I-2026, naik 4,26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Schneider Electric Dorong Jaringan Listrik Indonesia Lebih Ramah Lingkungan

President Director Schneider Electric Indonesia dan Timor-Leste, Martin Setiawan mengatakan, pertumbuhan industri kelistrikan perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas tenaga ahli. Salah satu tantangannya adalah potensi kekurangan sumber daya manusia (SDM) ketika sejumlah proyek berjalan secara bersamaan.

Menurut Martin, pembangunan pusat data atau data center menjadi salah satu faktor yang mendorong kebutuhan listrik di Indonesia. Kondisi tersebut turut meningkatkan kebutuhan tenaga kerja yang mampu menangani instalasi dan pemeliharaan kelistrikan sesuai standar.

“Industri kelistrikan tumbuh terus, sehingga kita perlu punya ahli-ahli listrik yang kompetensinya di level yang sesuai. Dengan adanya sertifikasi kompetensi ini, harapannya standardisasi kompetensi ahli listrik semakin meningkat,” kata Martin.

Business VP Home Solutions Schneider Electric Indonesia Ahmad Saiful menambahkan, peningkatan kompetensi tidak cukup hanya berfokus pada teknologi dan produk kelistrikan, tetapi juga kemampuan tenaga yang memasang dan memeliharanya.

“Yang perlu ditingkatkan bukan hanya produknya, tetapi juga orang yang memasang. Kami ingin memberikan bekal supaya tenaga-tenaga teknisi listrik lebih tersertifikasi dan bisa menerapkan standar pemasangan yang benar,” ujar Saiful.

Menurut Saiful, sertifikasi dapat menjadi pengakuan formal atas kompetensi teknisi sekaligus meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap kualitas pekerjaan. Teknisi yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya juga berpeluang memperluas akses terhadap pekerjaan dan membangun jejaring profesional.

Baca Juga: Schneider Electric Bidik Tren Hunian Modern, Perkuat Segmen Perangkat Kelistrikan

Melalui Electrician Academy 2026, Schneider Electric menargetkan 9.500 peserta, yang terdiri dari 8.000 teknisi listrik dan 1.500 retailer, untuk mengakses modul pembelajaran. Program ini telah berjalan sejak Juli 2026 dan menyediakan materi digital serta webinar mengenai dasar kelistrikan, pemilihan kabel, keselamatan instalasi, dan fungsi gawai proteksi arus sisa (GPAS).

Bagi retailer, materi pembelajaran mencakup dasar kelistrikan, pembumian, serta perangkat proteksi untuk mendukung edukasi kepada pelanggan. Penguatan pemahaman retailer dinilai penting karena mereka turut berperan dalam memberikan informasi mengenai produk dan perangkat keselamatan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Peserta ditargetkan menyelesaikan seluruh modul pembelajaran paling lambat Maret 2027. Setelah memenuhi ketentuan program, teknisi dapat mengikuti proses sertifikasi untuk memperoleh Sertifikat Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan (SKTTK). Sertifikat hanya diberikan kepada peserta yang memenuhi persyaratan dan dinyatakan kompeten melalui uji kompetensi sesuai mekanisme yang berlaku.

Schneider Electric menyebut target sertifikasi pada tahap awal berada di kisaran 400 teknisi, dengan kemungkinan jumlah peserta dalam rentang ratusan sesuai pelaksanaan program. Perusahaan menyatakan pendekatan bertahap diperlukan agar peningkatan jumlah tenaga yang mengikuti sertifikasi tetap memperhatikan kualitas kompetensi.

Program tersebut melanjutkan kampanye Gerakan Listrik Aman yang pada 2025 menjangkau lebih dari 7.800 instalatur di 10 wilayah. Melalui Electrician Academy, Schneider Electric berupaya memperluas akses pembelajaran bagi teknisi sekaligus memperkuat ekosistem tenaga kerja di sektor kelistrikan.

Kebutuhan peningkatan kompetensi juga berkaitan dengan aspek keselamatan instalasi. Data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta menunjukkan 741 dari 1.467 kejadian kebakaran pada periode 1 Januari hingga 30 September 2026 diduga berkaitan dengan faktor listrik.

Dengan meningkatnya kebutuhan listrik dan pembangunan infrastruktur baru, penguatan kompetensi teknisi menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan industri. Ketersediaan tenaga terampil diharapkan dapat mendukung kualitas pemasangan dan pemeliharaan instalasi sekaligus menekan risiko keselamatan akibat instalasi listrik yang tidak sesuai standar.

Baca Juga: Schneider Electric Bidik Pasar Smart Building Lewat Teknologi Hemat Energi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News