KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Modernisasi jaringan listrik menjadi kebutuhan yang semakin penting seiring peningkatan kapasitas pembangkit dan integrasi energi terbarukan. Kondisi ini turut mendorong adopsi teknologi tegangan menengah (medium voltage/MV) yang tidak lagi menggunakan sulfur heksafluorida (SF₆) sebagai media isolasi. Business Vice President Power Systems Schneider Electric Indonesia Hery Saputra mengatakan, modernisasi jaringan listrik menjadi salah satu fondasi dalam mendukung transisi energi Indonesia.
Baca Juga: Masuk 5 Besar Best Workplaces 2026, Schneider Electric Fokus Kembangkan Talenta "Modernisasi jaringan listrik menjadi fondasi penting dalam mendukung transisi energi," ujar Hery dalam media session di Jakarta, Selasa (22/9/2026). Dorongan terhadap teknologi switchgear bebas SF₆ juga terlihat di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan white paper IDC bertajuk
SF-Free MV Switchgear: Industry Readiness, Decision Drivers, and the Way Forward, sebanyak 21% organisasi di Asia Tenggara yang disurvei telah mulai beralih ke teknologi bebas SF₆. Sementara itu, 39% lainnya berencana melakukan transisi dalam dua tahun ke depan. Studi tersebut melibatkan 700 pengambil keputusan terkait infrastruktur tegangan menengah di tujuh kawasan dan empat sektor industri, termasuk kelistrikan, pusat data, industri, dan infrastruktur. IDC mencatat, adopsi teknologi bebas SF₆ di Asia Tenggara antara lain didorong oleh pengaruh perusahaan utilitas, kebutuhan rantai pasok perusahaan multinasional, serta meningkatnya permintaan listrik dari sektor pusat data.
Baca Juga: Schneider Electric Bidik Pasar Smart Building Lewat Teknologi Hemat Energi Meski demikian, transisi menuju teknologi tersebut masih menghadapi sejumlah kendala. Sebanyak 59% responden menilai kesiapan teknologi menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan. Selain itu, 47% responden menyebut keterbatasan finansial sebagai hambatan utama, sedangkan 44% menyoroti stabilitas rantai pasok. Schneider Electric melihat kondisi tersebut sebagai ruang untuk memperluas penggunaan switchgear tegangan menengah bebas SF₆ melalui portofolio AirSeT. Teknologi ini menggunakan Pure Air atau udara murni sebagai media isolasi serta teknologi vakum untuk pemutusan arus listrik. Dengan teknologi tersebut, switchgear dirancang untuk menghilangkan penggunaan SF₆ maupun campuran gas alternatif, sembari mempertahankan fungsi perlindungan dan keandalan yang dibutuhkan dalam sistem distribusi listrik. Dalam ajang Enlit Asia 2026, Schneider Electric memperkenalkan SM AirSeT dan RM AirSeT sebagai bagian dari portofolio switchgear tegangan menengah bebas SF₆.
Baca Juga: Schneider Electric Bidik Tren Hunian Modern, Perkuat Segmen Perangkat Kelistrikan SM AirSeT diproduksi di fasilitas Schneider Electric di Cikarang untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di Asia Tenggara dan Pasifik. Selain switchgear, Schneider Electric mengembangkan solusi digital untuk mendukung pengelolaan jaringan listrik. Salah satunya EcoStruxure ADMS (Advanced Distribution Management System) yang membantu utilitas memantau dan mengelola jaringan distribusi secara terintegrasi.
Ada pula EcoStruxure DERMS (Distributed Energy Resource Management System) untuk mengelola sumber energi terdistribusi, termasuk energi terbarukan dan baterai, serta PowerLogic untuk pemantauan, pengukuran, dan proteksi sistem kelistrikan. Kebutuhan terhadap jaringan listrik yang lebih fleksibel dan terdigitalisasi diperkirakan meningkat seiring bertambahnya pembangkit energi terbarukan dan konsumsi listrik dari sektor berintensitas energi tinggi. Perubahan tersebut membuat kemampuan jaringan untuk mengintegrasikan berbagai sumber energi menjadi semakin penting. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News