SDMU siapkan jasa logistik terpadu



JAKARTA. PT Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU) berniat membentuk layanan menyeluruh jasa logisitik. Kini, perusahaan jasa transportasi darat ini tengah menanti kedatangan armada dari China dan bersiap mendirikan dua anak perusahaan baru.

Erwin Hardiyanto, Direktur Keuangan Sidomulyo berkata, pihaknya telah membeli 55 armada baru yang terdiri dari 35 unit prime mover dan 20 unit tronton dari Shaanxi Heavy Duty Automobile Import and Export Co. Ltd. asal China. Hanya saja, hingga kini kendaraan itu belum tiba di Tanah Air lantaran masih menanti izin masuk Kementerian Perindustrian.

Sidomulyo juga masih menambah pemesanan lagi dari Shaanxi dalam beberapa bulan ke depan. Maklum, perseroan menganggarkan dana Rp 70 miliar untuk pembelian 100 unit armada baru tahun ini.


Dana itu berasal dari fasilitas kredit Bank Permata sebesar Rp 112 miliar yang diperoleh akhir Maret 2012. Namun, sebagian pinjaman juga digunakan untuk melunasi utang Sidomulyo yang jatuh tempo.

Di samping itu, Sidomulyo akan mendirikan dua perusahaan baru di bidang jasa pergudangan. Yang satu untuk melayani industri bahan kimia, dan satunya lagi untuk melayani jasa depot isotank dan fasilitas cuci tanki (washing isotank). Rencananya, kedua perusahaan itu berlokasi di Banten yang merupakan pusat industri kimia di Pulau Jawa.

Dana yang dibutuhkan untuk investasi kedua perusahaan tersebut diperkirakan sebesar Rp 100 miliar. Sekitar Rp 60 miliar untuk pergudangan sedangkan Rp 40 miliar untuk depot isotank dan cuci isotank. Erwin menambahkan, nilai itu masih perkiraan kasar karena saat ini masih dalam studi kelayakan.

Semua upaya itu merupakan fokus pengembangan bisnis Sidomulyo untuk menyediakan layanan one stop service logistic. "Kami ingin memberikan layanan yang terintegrasi kepada klien kami," kata Erwin.

Perseroan juga akan meningkatkan layanan di subsektor pengangkutan minyak dan gas dengan ikuti berbagai tender. Saat ini perusahaan tengah mengikuti tender pengangkutan minyak mentah di Sorolangun, Sumatera Utara, senilai US$ 17,5 juta.

Dengan rencana itu, perseroan menargetkan pendapatan naik 12% menjadi Rp 110,34 miliar tahun ini. "Tapi kalau dua proyek dapat berjalan, estimasi pertumbuhan akan berubah," kata Erwin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Asnil Amri