KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Dinas Rahasia Amerika Serikat (Secret Service) secara diam-diam memindahkan Presiden Donald Trump dari pesawat kepresidenan Air Force One ke jet pemerintah yang lebih kecil saat kunjungan ke Turki bulan lalu. Langkah tersebut dilakukan setelah muncul ancaman bahwa Air Force One dapat menjadi sasaran rudal yang diluncurkan dari bahu. Sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan ancaman itu muncul pada hari terakhir kunjungan Trump ke Ankara dalam rangka menghadiri pertemuan puncak NATO. Situasi tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Secret Service menilai ancaman tersebut kredibel dan segera terjadi. Kondisi itu memicu operasi luar biasa untuk menyamarkan pergerakan Trump dari Ankara. Sumber tersebut tidak mengungkapkan dari mana informasi intelijen mengenai ancaman itu berasal. Namun, ia mengatakan para pejabat hanya memiliki sedikit waktu untuk mempersiapkan langkah pengamanan sehingga rencana tersebut disusun pada saat-saat terakhir.
Baca Juga: Bursa Australia Melemah, Tekanan Bank dan Tambang Kalahkan Kenaikan Sektor Utilitas Sumber kedua yang juga mengetahui persoalan tersebut mengatakan belum ada rencana yang jelas dari pihak yang dianggap bermusuhan dengan Trump mengenai bagaimana ancaman tersebut akan dilaksanakan. Yang ada, menurut sumber itu, baru sebatas niat. Karena itu, kedua pesawat tetap diizinkan untuk terbang.
Trump Diam-diam Pindah Pesawat
Menurut sumber pertama, Trump bersama sejumlah kecil penasihatnya menggunakan truk katering untuk berpindah secara diam-diam dari pesawat kepresidenan besar berwarna biru-putih ke jet C-32A yang lebih kecil dan tidak mencolok. Perpindahan tersebut dilakukan untuk penerbangan keluar dari Turki pada 8 Juli. Sementara itu, Air Force One terbang secara terpisah dengan membawa sejumlah pejabat senior pemerintahan, staf Gedung Putih, serta rombongan wartawan yang mengikuti perjalanan presiden. Trump pada Selasa mengatakan kepada wartawan bahwa perpindahan pesawat tersebut dilakukan atas arahan Secret Service, lembaga yang bertanggung jawab atas keamanan presiden. Trump kemudian terbang dari Ankara menuju Inggris untuk melakukan pengisian bahan bakar dan perjalanan berlangsung tanpa insiden. "Saya sebenarnya berpikir pesawat yang saya tumpangi memiliki risiko lebih besar," kata Trump kepada wartawan, tanpa memberikan bukti untuk mendukung pernyataannya. "Saya pikir risikonya lebih besar karena pesawat itulah yang menurut saya kemungkinan besar akan menjadi sasaran mereka," lanjutnya.
Ancaman Rudal Pencari Panas
Douglas Birkey, direktur eksekutif Mitchell Institute for Aerospace Studies, mengatakan ancaman tersebut mungkin berasal dari jenis rudal pencari panas baru yang dapat mengunci sasaran berdasarkan panas yang dihasilkan mesin pesawat. Jenis rudal tersebut menjadi perhatian yang semakin besar bagi perencana militer. Dibandingkan ancaman tradisional yang menggunakan radar, rudal pencari panas lebih sulit dideteksi. "Rudal itu bisa muncul begitu saja," kata Birkey, karena senjata tersebut tidak memancarkan gelombang radio yang dapat dideteksi.
Baca Juga: Harga Emas Spot Naik ke Level Tertinggi 2 Bulan Kamis (13/8) Pagi, Ini Pemicunya Menurut Birkey, salah satu varian yang dikenal sebagai SA-67 Iran memiliki peluncur sederhana berbentuk rel dan diyakini menggunakan sistem pemandu pencari panas sekaligus laser. Sementara itu, senjata pencari panas yang dapat diluncurkan dari bahu, yakni 9K333 Verba, diproduksi di Rusia.
Perjalanan Rahasia Presiden AS
Presiden Amerika Serikat, termasuk Trump, sebelumnya pernah melakukan perjalanan secara rahasia ketika mengunjungi wilayah perang atau daerah berisiko tinggi. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keamanan presiden. Namun, perjalanan semacam itu biasanya tetap disertai pemberitahuan terlebih dahulu kepada wartawan yang mengikuti presiden. Dalam perjalanan Presiden George W. Bush ke Baghdad pada Thanksgiving 2003, misalnya, sejumlah wartawan mendapat informasi lebih awal. Namun, sebagian wartawan lain yang meliput liburan Bush di Crawford, Texas, justru sengaja diberi informasi yang keliru. Mereka diberi tahu bahwa Bush akan menghabiskan hari Thanksgiving bersama keluarga. Karena itu, para wartawan terkejut ketika Bush tiba-tiba muncul di Irak. Sumber pertama mengatakan Secret Service tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan persiapan ketika berada di Turki. "Mereka berupaya keras untuk mencegah apa yang mereka anggap sebagai ancaman yang kredibel dan segera terjadi," kata sumber tersebut. The Washington Post sebelumnya melaporkan rincian operasi tersebut pada pekan ini, lebih dari sebulan setelah operasi dilaksanakan. Sementara itu, The New York Times melaporkan bahwa pejabat Amerika Serikat khawatir setelah mengetahui pihak Iran mengetahui lokasi Trump selama berada di Ankara, termasuk lantai hotel tempat presiden menginap.
Air Force One Dijadikan Pengalih Perhatian
Pesawat Air Force One yang biasanya membawa Trump dalam perjalanan tersebut kemudian berfungsi sebagai pengalih perhatian. Pesawat itu tetap membawa sejumlah pejabat penting pemerintahan AS.
Baca Juga: Bank Sentral China Kembali Nihilkan Reverse Repo untuk Hari Ketiga Di dalam pesawat tersebut terdapat Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang menurut sumber pertama telah diberi tahu mengenai manuver tersebut. Selain itu, ada Menteri Keuangan Scott Bessent, Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung, sejumlah penasihat, serta rombongan pers yang biasanya berjumlah 13 orang. Seorang koresponden dan fotografer Reuters juga berada dalam rombongan pers tersebut. Sementara itu, Wakil Kepala Staf Gedung Putih Dan Scavino, asisten eksekutif Natalie Harp, dan Direktur Operasi Oval Office Walt Nauta ikut berpindah bersama Trump menggunakan truk katering, menurut sumber tersebut.
Operasi itu kemudian memunculkan pertanyaan dari sejumlah komentator media dan anggota parlemen mengenai apakah langkah tersebut justru membuat para penasihat dan wartawan yang berada di pesawat yang dianggap membawa Trump menghadapi risiko lebih besar. Sumber pertama mengatakan Secret Service menilai merahasiakan rencana tersebut merupakan pilihan terbaik bagi keselamatan Trump, terutama ketika ketegangan dengan Iran semakin meningkat. Turki sendiri berbatasan dengan Iran. Hingga laporan ini dibuat, pejabat Turki belum memberikan komentar mengenai ancaman tersebut.