KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Manajemen Secure Parking Indonesia memproyeksikan industri perparkiran nasional masih tumbuh pada 2026. Proyeksi itu seiring bertambahnya jumlah kendaraan dan meningkatnya kepadatan aktivitas perkotaan. Fokus pertumbuhan diarahkan pada efisiensi pengelolaan dan modernisasi sistem berbasis data. Managing Director Secure Parking Indonesia Rustam Rachmat menilai kebutuhan parkir akan terus terdorong oleh akumulasi kendaraan dan aktivitas ekonomi, meski penjualan kendaraan sempat berfluktuasi.
“Kami memproyeksikan industri perparkiran pada 2026 masih akan tumbuh sekitar 10%. Meskipun penjualan kendaraan bermotor dalam beberapa tahun terakhir berfluktuasi, secara akumulatif jumlah kendaraan yang beredar terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, sehingga mendorong peningkatan mobilitas dan kebutuhan parkir," ujarnya kepada Kontan, Jumat (20/2/2026). Baca Juga: Daya Intiguna (MDIY) Jadikan Ramadan–Lebaran 2026 Sebagai Pendorong Kinerja 2026 Dari sisi sumber permintaan, Rustam menyebut tidak hanya kawasan komersial yang menjadi kontributor. Fasilitas transportasi publik, pusat layanan masyarakat, kawasan logistik, serta area dengan intensitas kunjungan tinggi juga menunjukkan tren naik. Bandara, stasiun, dan terminal dipandang strategis karena membutuhkan pengelolaan parkir yang aman dan terintegrasi.
“Ke depan, parkir bukan lagi sekadar soal menyediakan ruang, tetapi bagaimana mengelola arus kendaraan secara efisien dan berbasis data untuk mendukung mobilitas kota,” imbuhnya Memasuki 2026, industri perparkiran menghadapi tekanan dari sisi biaya operasional, transformasi digital, serta perubahan lanskap mobilitas. “Tantangan terbesar industri ke depan adalah menjaga keseimbangan antara efisiensi biaya, investasi teknologi, dan peningkatan standar layanan di tengah ekspektasi pengguna yang semakin tinggi," ujarnya. Menurut Rustam, komponen biaya terbesar masih berasal dari sumber daya manusia. Namun, otomatisasi dan pengelolaan berbasis data membuka ruang efisiensi melalui pengurangan transaksi manual dan optimalisasi operasional.
Baca Juga: Freeport Perpanjang Kontrak hingga 2061, RI Kantongi Tambahan Investasi US$ 20 Miliar Pada sisi pembayaran, Secure Parking menyediakan metode non-tunai yang terhubung langsung ke perbankan tanpa
third-party payment gateway untuk menjaga transparansi dan keamanan transaksi. Terkait transportasi publik dan layanan berbasis aplikasi, perusahaan tidak memposisikannya sebagai pesaing.
“Kami tidak melihat transportasi publik atau layanan berbasis aplikasi sebagai pesaing, melainkan bagian dari ekosistem mobilitas yang justru bisa dikolaborasikan," lanjutnya. Secure Parking mendukung konsep park and ride serta membuka peluang integrasi digital, termasuk program loyalitas. Pengembangan bisnis diarahkan pada sistem parkir modern yang menekankan efisiensi, transparansi, dan kenyamanan pengguna. Implementasi pembayaran non-tunai, sistem terpusat, dan teknologi digital dilakukan bertahap di berbagai lokasi. “Salah satu pengembangan utama adalah penyediaan dashboard parkir berbasis real-time yang dapat diakses klien untuk memantau aktivitas parkir, tingkat okupansi, serta pendapatan secara transparan," ujarnya. Transformasi ini berdampak pada percepatan transaksi kendaraan, penurunan transaksi tunai, dan peningkatan akurasi data operasional.
“Teknologi kini menjadi fondasi utama pengelolaan parkir modern. Bukan hanya untuk pembayaran, tetapi untuk transparansi, efisiensi, dan pengambilan keputusan berbasis data," jelasnya. Ke depan, Secure Parking Indonesia akan melanjutkan penguatan solusi berbasis teknologi sebagai standar baru layanan parkir profesional, sejalan dengan pertumbuhan mobilitas perkotaan dan kebutuhan pengelolaan parkir yang lebih terintegrasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News