Sederet Emiten Hermanto Tanoko Cetak Pertumbuhan Laba pada Semester I-2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten di bawah kendali atau portofolio pengusaha Hermanto Tanoko pada semester I-2026 berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih dan pendapatan.

Terbaru, PT Avia Avian Tbk (AVIA) meraih penjualan bersih Rp 4,59 triliun, naik 18,19% secara tahunan (yoy) dari Rp 3,88 triliun pada semester I-2025. Sejalan dengan kenaikan penjualan, AVIA mencetak laba bersih Rp 938,42 miliar, tumbuh 20,59% yoy dari Rp 778,20 miliar pada semester I-2025.

Selain AVIA, PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) juga membukukan pertumbuhan laba bersih 27% yoy pada semester I-2026 menjadi Rp 262,5 miliar. Tak ketinggalan, laba bersih RISE juga melonjak 273% yoy, ZONE 138%, PEVE 7,2%, dan BLES 1.716%.


Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama mengatakan kenaikan kinerja emiten-emiten Hermanto Tanoko pada semester I-2026 didorong oleh faktor yang berbeda di tiap perusahaan.

AVIA dan CLEO masih terbantu pertumbuhan penjualan, perluasan distribusi, dan efisiensi, sementara BLES mendapat dorongan besar dari kenaikan volume dan perbaikan margin.

Lalu, RISE lebih banyak ditopang kenaikan kontribusi bisnis kawasan industri dan logistik, sedangkan ZONE terbantu momentum Lebaran dan pertumbuhan penjualan online. Adapun PEVE juga masih mencatat pertumbuhan penjualan, walaupun kenaikan labanya lebih terbatas.

Baca Juga: Persiapkan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis, OJK Lantik Deputi Komisioner Baru

"Jadi, secara umum memang ada perbaikan kinerja operasional, tapi lonjakan laba yang sangat tinggi di beberapa emiten tetap perlu dilihat hati-hati karena ada faktor basis rendah, musiman, dan perubahan kontribusi bisnis," kata Kevin kepada Kontan, Rabu (19/8/2026).

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama menyampaikan kenaikan kinerja emiten-emiten Grup Hermanto Tanoko cukup mencerminkan perbaikan fundamental bisnis, bukan hanya faktor satu kali.

AVIA misalnya, pertumbuhan penjualan yang cukup kuat menunjukkan demand masih terjaga, sementara peningkatan laba yang lebih tinggi dari penjualan menunjukkan adanya operating leverage dan efisiensi. Di emiten lain, pertumbuhan juga didukung ekspansi bisnis, peningkatan volume penjualan serta optimalisasi biaya.

"Secara umum ada kombinasi antara pertumbuhan top line dan perbaikan margin," ujar Elandry.

Pergerakan Saham

Kevin melihat sederet pergerakan saham belum sepenuhnya sejalan dengan kinerja keuangannya. AVIA, CLEO, dan PEVE masih turun dibanding akhir 2025 meskipun labanya tumbuh, sementara ZONE dan BLES sudah naik sehingga lebih sejalan dengan perbaikan kinerjanya. RISE juga masih terkoreksi cukup dalam walaupun labanya melonjak.

"Jadi, pasar tampaknya tidak hanya melihat pertumbuhan laba, tapi juga apakah pertumbuhan itu bisa berlanjut, bagaimana valuasinya, dan bagaimana sentimen terhadap masing-masing saham," ujar Kevin.

Adapun Elandry menerangkan pergerakan harga sahamnya belum sepenuhnya tercermin dari kinerja keuangan. Pasar biasanya tidak hanya melihat kinerja semester I, tetapi juga ekspektasi terhadap pertumbuhan ke depan, valuasi, dan likuiditas masing-masing saham. Dus, meskipun fundamental membaik, harga saham bisa saja bergerak lebih cepat atau justru tertinggal karena market sentiment.

Baca Juga: Pemilu Paruh Waktu AS Jadi Perhatian, Risiko Politik Berpotensi Dorong Harga Emas

"Artinya, investor tetap perlu melihat apakah pertumbuhan laba tersebut sustainable dan sudah tercermin dalam valuasi saat ini," terang Kevin.

Prospek Kinerja

Secara prospek, Kevin bilang emiten-emiten Hermanto Tanoko di semester II-2026 masih cukup baik, tapi tetap perlu selektif. AVIA dan CLEO masih punya peluang tumbuh dari penjualan dan ekspansi, sementara BLES masih bisa terbantu dari efisiensi dan RISE dari proyek baru. ZONE dan PEVE juga masih punya ruang tumbuh, meski lebih terbatas.

Sementara itu, tantangan utamanya ada di biaya bahan baku dan operasional, tekanan margin, serta apakah pertumbuhan laba yang kuat di semester I bisa terus berlanjut.

Kevin lebih melihat peluang untuk trading buy jangka pendek di BLES, dengan target jangka pendek di kisaran Rp 230-Rp 240 per saham.

Senada, Elandry melihat prospek emiten Hermanto Tanoko masih cukup positif, terutama untuk emiten dengan eksposur consumer, distribusi, kesehatan, dan properti yang memiliki ruang ekspansi. AVIA dan CLEO menarik dicermati karena pertumbuhan bisnisnya relatif konsisten dan memiliki fundamental yang cukup kuat.

Namun tantangannya tetap ada, seperti daya beli, tekanan biaya bahan baku, suku bunga, serta volatilitas pasar. Jadi kuncinya bukan hanya melihat siapa yang mencatat pertumbuhan laba paling tinggi, tetapi mana yang mampu mempertahankan pertumbuhan tersebut dengan cash flow dan margin yang sehat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News