KONTAN.CO.ID - Intip harga saham BMAS yang segera right issue. Saham PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk (BMAS) menjadi perhatian investor seiring rencana perseroan melakukan rights issue atau Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) IV. Mengutip pengumuman
BMAS, emiten ini berencana menerbitkan maksimal 2,875 miliar saham baru, yang setara dengan sekitar 15,88% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Aksi korporasi tersebut diarahkan untuk memperkuat modal sekaligus mendukung ekspansi kredit.
Namun, rencana rights issue juga perlu diperhatikan pemegang saham lama karena investor yang tidak menggunakan haknya berpotensi mengalami dilusi kepemilikan maksimal sekitar 13,71%. Lalu, seperti apa profil emiten perbankan ini? Cek informasi menarik selengkapnya.
Baca Juga: Segera Right Issue dan Akuisisi TCP, Cek Profil Emiten MEJA dan Kinerja Terbarunya Profil BMAS
BMAS sebelumnya dikenal sebagai PT Bank Maspion Indonesia Tbk. Pada 2026, perseroan bertransformasi menjadi PT Bank Kasikorn Indonesia Tbk (KBank Indonesia) seiring penguatan hubungan dengan kelompok Kasikornbank (KBank) dari Thailand. Identitas baru tersebut mulai diperkenalkan secara resmi pada 2026. Perubahan tersebut menjadi bagian dari transformasi bisnis BMAS, dengan dukungan kelompok KBank dalam pengembangan bisnis, pendanaan, teknologi, serta ekspansi kredit. Bank ini menjalankan kegiatan usaha perbankan umum dan melayani kebutuhan nasabah individu maupun korporasi. Fokus pengembangan bisnisnya antara lain meningkatkan penyaluran kredit, memperkuat layanan nasabah, mengembangkan transaksi perbankan dan menjaga kualitas aset. Dari sisi permodalan, BMAS juga memiliki posisi yang cukup kuat. Dalam proyeksi 2026, perseroan menargetkan total aset sekitar Rp28,24 triliun dan kredit sebesar Rp20,50 triliun.
Baca Juga: 6 Saham Masuk dalam Radar UMA BEI Awal September 2026: Ada SQMI hingga PIPA BMAS Segera Rights Issue
Rencana rights issue BMAS dilakukan melalui PMHMETD IV dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 2.875.000.000 saham baru. Saham baru tersebut mempunyai nilai nominal Rp100 per saham dan maksimal setara 15,88% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan. Harga pelaksanaan dan rasio HMETD menjadi bagian yang akan ditentukan dan dijelaskan lebih lanjut dalam prospektus final.
| Keterangan | Rencana BMAS |
| Aksi korporasi | PMHMETD IV / Rights Issue |
| Maksimal saham baru | 2,875 miliar saham |
| Porsi terhadap modal saat ini | 15,88% |
| Nilai nominal | Rp100 per saham |
| Harga pelaksanaan | Belum ditetapkan |
| Rasio HMETD | Belum ditetapkan |
| Penggunaan dana | Modal kerja dan ekspansi kredit |
| Potensi dilusi | Maksimal 13,71% |
| Persetujuan RUPSLB | 27 Agustus 2026 |
Seluruh dana bersih yang diperoleh setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan sebagai modal kerja, khususnya untuk meningkatkan penyaluran kredit. Dengan demikian, rights issue BMAS bukan sekadar aksi memperbesar modal, tetapi juga menjadi sumber pendanaan untuk menopang pertumbuhan bisnis bank. Bagi investor lama, faktor penting yang perlu diperhatikan adalah harga pelaksanaan dan rasio HMETD. Kedua informasi tersebut akan menentukan kebutuhan dana apabila pemegang saham ingin mempertahankan persentase kepemilikannya.
Baca Juga: Ada 3 Saham Terkena Suspensi BEI Awal September 2026, Cek Daftarnya Lini Bisnis BMAS
Sebagai bank umum, kegiatan bisnis BMAS pada dasarnya bertumpu pada penghimpunan dana dan penyaluran kredit. 1. Kredit Korporasi Segmen korporasi menjadi salah satu fokus utama ekspansi BMAS. Dalam proyeksi 2026, perseroan menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 25%, dengan fokus utama pada segmen korporasi. Strategi ini sejalan dengan rencana rights issue karena tambahan modal akan digunakan untuk memperbesar kemampuan bank dalam menyalurkan kredit. 2. Kredit Komersial dan Bisnis BMAS juga menyalurkan kredit kepada sektor usaha, termasuk aktivitas perdagangan, industri pengolahan, serta sektor keuangan dan asuransi. Pada akhir 2025, total penyaluran kredit mencapai sekitar Rp17,34 triliun, tumbuh 5,51% dibandingkan 2024. Tiga sektor utama penyumbang portofolio kredit adalah aktivitas keuangan dan asuransi sebesar 32,78%, industri pengolahan 32,12%, serta perdagangan besar dan eceran 16,93%.
Baca Juga: Cari Modal untuk Ekspansi Baru, Emiten Menggelar Rights Issue 3. Dana Pihak Ketiga Dari sisi pendanaan, BMAS menghimpun dana masyarakat melalui giro, tabungan dan deposito. Untuk 2026, perseroan menargetkan giro sekitar Rp2,13 triliun, tabungan Rp1,32 triliun dan deposito sekitar Rp9,97 triliun. Bank juga berupaya meningkatkan porsi dana murah atau CASA untuk menjaga efisiensi biaya dana. 4. Layanan Digital dan Transaksi Transformasi digital juga menjadi bagian dari pengembangan BMAS. Bank menyediakan layanan mobile banking, internet banking, merchant app dan virtual account, yang kemudian bertransformasi mengikuti identitas KBank Indonesia. Perseroan juga mengembangkan bisnis transaksi, termasuk layanan QRIS bagi merchant. Salah satu program 2026 bahkan memberikan apresiasi kepada merchant dengan kinerja transaksi dan saldo CASA tertentu.
Baca Juga: FORU Menyiapkan Rights Issue Rp 27,1 Triliun Manajemen BMAS
Susunan manajemen BMAS yang tercatat dalam laporan keuangan 31 Maret 2026 terdiri dari: 1. Direksi
| Nama | Jabatan |
| Kasemsri Charoensiddhi | Direktur Utama |
| Junita Wangsadinata | Direktur Marketing |
| Irawan Rukmanto | Direktur Operasional |
| Viktor Ebenheizer Fanggidae | Direktur Kepatuhan dan Legal |
| Jeffrey Bob Karman | Direktur Kredit dan Risiko |
2. Dewan Komisaris
Kinerja BMAS Terbaru
Melansir laman
BEI, BMAS menunjukkan pertumbuhan bisnis yang cukup agresif, tetapi profitabilitas pada semester I 2026 mengalami tekanan. Hingga 30 Juni 2026, pendapatan bunga bersih BMAS tercatat Rp338,63 miliar, sedikit turun dari Rp342,30 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan operasional lainnya justru meningkat signifikan menjadi Rp306,95 miliar, dari Rp37,56 miliar. Namun, beban operasional lainnya juga naik menjadi Rp634,59 miliar dari Rp350,05 miliar. Akibatnya, laba operasional turun menjadi Rp10,98 miliar, dibandingkan Rp29,81 miliar pada semester I 2025. Laba sebelum pajak tercatat Rp11,28 miliar, turun dari Rp29,70 miliar. Sementara itu, laba bersih semester I 2026 sebesar Rp6,38 miliar, anjlok dibandingkan Rp25,03 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
| Indikator | 1H 2026 | 1H 2025 |
| Pendapatan bunga bersih | Rp338,63 miliar | Rp342,30 miliar |
| Pendapatan operasional lainnya | Rp306,95 miliar | Rp37,56 miliar |
| Beban operasional lainnya | Rp634,59 miliar | Rp350,05 miliar |
| Laba operasional | Rp10,98 miliar | Rp29,81 miliar |
| Laba sebelum pajak | Rp11,28 miliar | Rp29,70 miliar |
| Laba bersih | Rp6,38 miliar | Rp25,03 miliar |
| EPS dasar | Rp0,35 | Rp1,38 |
Di sisi neraca, total aset BMAS per 30 Juni 2026 mencapai sekitar Rp26,59 triliun, naik dari Rp22,41 triliun pada akhir 2025. Liabilitas juga meningkat menjadi sekitar Rp20,09 triliun dari Rp15,91 triliun. Kenaikan aset tersebut mencerminkan ekspansi bisnis bank, sementara peningkatan liabilitas juga berkaitan dengan penguatan sumber pendanaan.
Tonton: 4 Bank Himbara Siap Tarik Pajak Digital Mulai 10 September Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News