KONTAN.CO.ID - Intip profil emiten LAPD yang berencana Right Issue saham baru. PT Leyand International Tbk (LAPD) kembali menjadi perhatian pasar setelah perseroan mengumumkan rencana rights issue jilid II dengan menerbitkan maksimal 2 miliar saham baru. Aksi korporasi ini menjadi bagian dari transformasi bisnis LAPD setelah masuknya PT JSI Sinergi Mas sebagai pemegang saham pengendali. Berbeda dengan bisnis lama perseroan yang sebelumnya banyak berkaitan dengan pembangkit listrik dan kemudian holding investasi, LAPD kini diarahkan untuk memperkuat eksposur ke sektor jasa pertambangan, terutama melalui rencana masuknya PT Bersaudara Sinergi Sejahtera (BSS).
Lalu, seperti apa profil emiten ini? Simak informasi mengenai bisnis LAPD dan kinerjanya.
Baca Juga: Berencana Delisting dan Go Private, Intip Profil Emiten IPAC dan Aksi Korporasinya Profil Singkat LAPD
PT Leyand International Tbk merupakan perusahaan yang didirikan di Jakarta pada 1990. Perseroan sebelumnya dikenal memiliki bisnis pembangkit listrik, tetapi perubahan strategi bisnis membuat LAPD berkembang menjadi perusahaan holding dengan sejumlah aktivitas usaha melalui entitas anak. Dalam beberapa tahun terakhir, LAPD melakukan perubahan arah usaha. Masuknya PT JSI Sinergi Mas sebagai pengendali baru menjadi salah satu titik penting transformasi tersebut. JSI kemudian membawa strategi pengembangan bisnis yang lebih berorientasi pada sektor pertambangan dan energi.
Baca Juga: 4 Saham Masuk Radar UMA BEI per 10 September 2026: Ada ACST hingga SAPX Lini Bisnis LAPD
1. Jasa Pertambangan Sektor pertambangan kini menjadi salah satu fokus utama transformasi LAPD. Melalui rencana akuisisi BSS, perseroan akan mendapatkan eksposur terhadap bisnis kontraktor pertambangan batu bara dan mineral. Dalam laporan keuangan, manajemen menyebut BSS sedang dalam proses penandatanganan sejumlah proyek potensial pada beberapa lokasi IUP. Langkah tersebut diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru karena bisnis jasa pertambangan memiliki peluang mendapatkan pendapatan dari kontrak operasional tambang tanpa harus sepenuhnya bergantung pada kepemilikan komoditas. 2. Distribusi Produk Konsumen LAPD sebelumnya memiliki eksposur terhadap bisnis distribusi melalui PT Rusindo Eka Raya (RER). RER merupakan entitas anak yang bergerak di bidang distribusi produk konsumen, termasuk produk fast-moving consumer goods (FMCG). Pada 31 Maret 2026, LAPD tercatat memiliki 51% saham RER. Namun, sejalan dengan perubahan strategi, posisi RER dalam struktur bisnis perseroan berpotensi berubah. Manajemen menyebut BSS direncanakan menggantikan peran RER sebagai anak usaha yang menjadi bagian penting dalam transformasi portofolio LAPD. 3. Holding Investasi LAPD juga menjalankan aktivitas sebagai perusahaan holding dan konsultasi manajemen. Dalam laporan keuangan perseroan, kegiatan perusahaan induk mencakup aktivitas holding dan konsultasi manajemen lainnya. Dengan masuknya JSI sebagai pengendali, struktur tersebut diarahkan untuk menjadi kendaraan ekspansi ke sektor pertambangan dan bisnis terkait energi.
Baca Juga: Ini 5 Saham yang Masuk Radar UMA pada Pengumuman BEI 9 September 2026 Manajemen LAPD
Perubahan pengendali turut diikuti dengan perubahan susunan manajemen. Berdasarkan laporan keuangan interim per 31 Maret 2026, susunan manajemen LAPD adalah sebagai berikut: 1. Direksi
| Nama | Jabatan |
| Jamal Abdul Nasir Bamadhaj | Direktur Utama |
| Bambang Rahardja Burhan | Direktur |
| Kiran Raj | Direktur |
| Hong Shieh Yung, Travis | Direktur |
| Achmad Rifky | Direktur |
2. Dewan Komisaris
| Nama | Jabatan |
| Sayid Muhammad Riyadh | Komisaris Utama |
| Tan Siok Sing | Komisaris |
| Thauriq Anwar | Komisaris Independen |
Jamal Abdul Nasir Bamadhaj merupakan tokoh penting dalam transformasi LAPD karena juga merupakan pendiri dan pimpinan JSI Sinergi Mas. JSI sendiri telah menjadi pengendali LAPD dengan kepemilikan 51%.
Baca Juga: Segera Right Issue dan Akuisisi TCP, Cek Profil Emiten MEJA dan Kinerja Terbarunya Rencana Rights Issue LAPD
Melansir laman
BEI, LAPD menyiapkan rights issue II dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 2 miliar saham baru Seri B dengan nilai nominal Rp25 per saham. Jumlah saham baru tersebut setara sekitar 50,42% dari jumlah saham yang telah diterbitkan sebelum rights issue. Harga pelaksanaan dan rasio HMETD secara final masih akan ditentukan dalam prospektus. Perseroan memperkirakan nilai maksimal aksi korporasi mencapai Rp100 miliar.
| Rencana Rights Issue | Detail |
| Saham baru maksimal | 2 miliar saham |
| Seri saham | Seri B |
| Nilai nominal | Rp25 per saham |
| Porsi terhadap saham sebelum rights issue | 50,42% |
| Nilai maksimal | Rp100 miliar |
| Harga pelaksanaan | Akan ditentukan |
| Rasio HMETD | Akan ditentukan |
| Persetujuan pemegang saham | RUPSLB 20 Oktober 2026 |
JSI Siapkan Inbreng Saham BSS
Hal menarik dari rights issue ini adalah keterlibatan langsung pemegang saham pengendali. PT JSI Sinergi Mas akan menggunakan haknya melalui skema inbreng, yakni penyetoran modal bukan dalam bentuk uang. JSI akan menyetorkan 59.995 saham PT Bersaudara Sinergi Sejahtera (BSS) yang merepresentasikan sekitar 99,99% kepemilikan BSS. Nilai penyetoran saham BSS tersebut diperkirakan mencapai Rp44,39 miliar. JSI juga disebut akan mengeksekusi haknya atas sekitar 1,02 miliar saham baru LAPD melalui mekanisme tersebut. Sementara itu, dana yang dihimpun melalui rights issue akan digunakan untuk modal kerja dan pengembangan usaha, termasuk kebutuhan operasional, pelaksanaan kontrak, pemeliharaan atau penambahan alat, serta kebutuhan usaha lainnya.
Baca Juga: Saham Melesat, Cek Profil Emiten PICO, Lini Bisnis, hingga Kinerja Terbarunya Kondisi Keuangan LAPD
Mengutip data
BEI, kinerja keuangan menjadi salah satu bagian penting untuk diperhatikan karena rights issue dilakukan ketika kondisi permodalan LAPD masih menghadapi tekanan. Dalam laporan keuangan kuartal I 2026, LAPD mencatat penjualan hanya Rp1,52 miliar, anjlok dari Rp61,96 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bruto turun menjadi sekitar Rp62,72 juta, dari Rp4,51 miliar pada kuartal I 2025. Perseroan kemudian mencatat rugi bersih Rp3,47 miliar, berbalik dari laba Rp959,25 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
| Kinerja | Q1 2026 | Q1 2025 |
| Penjualan | Rp1,52 miliar | Rp61,96 miliar |
| Laba bruto | Rp62,72 juta | Rp4,51 miliar |
| Rugi/laba sebelum pajak | -Rp3,47 miliar | Rp951,83 juta |
| Rugi/laba bersih | -Rp3,47 miliar | Rp959,25 juta |
| EPS | -Rp0,86 | Rp0,24 |
Itulah informasi mengenai profil emiten LAPD yang berencana Right Issue saham baru.
Tonton: Kejagung Tetapkan Toba Pulp Lestari sebagai Tersangka Korporasi, Ini Dugaan Kasusnya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News