Segmen Kelas Atas dan Menengah Atas Diproyeksikan Jadi Mesin Penggerak Ekonomi Baru



KONTAN.CO.ID - Di tengah tantangan perlambatan daya beli masyarakat dan tren penurunan konsumsi rumah tangga, kelompok masyarakat berpendapatan menengah hingga tinggi memiliki potensi sebagai penggerak ekonomi baru. Pertumbuhan kedua segmen ini turut mengubah pendekatan industri perbankan terhadap nasabahnya. 

Hal ini mengemuka dalam UOB Media Editors Circle 2026 bertajuk “Powering Indonesia’s Next Engine of Growth” di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga masih merupakan penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan I-2026 dengan kontribusi 2,94%. Namun, sektor ini terus menunjukkan tren penurunan. Pada kuartal II-2026 konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 5,06%. Padahal sektor ini dulunya selalu tumbuh di kisaran 6-7%.

Terkait dengan penguatan pasar domestik, ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja menyebut masyarakat kelas atas (affluent) dan kelompok kelas menengah menuju atas (emerging affluent) merupakan pendorong konsumsi rumah tangga Indonesia. Dua segmen masyarakat ini berperan penting mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 2030.


Dalam paparan UOB yang mengutip data BPS September 2024, terdapat sekitar 48,4 juta penduduk kelas menengah, 1,3 juta kelompok affluent atau berpendapatan tinggi, dan lebih dari 138 juta kelompok aspiring middle class atau menuju kelas menengah.

“Dari 280 juta manusia di Indonesia, yang dinamakan middle to high-income earner itu sekitar 24% yang paling atas. Tapi, by spending, mereka berkontribusi 56%,” jelas Enrico.

Meski demikian, ketidakstabilan ekonomi global serta pelemahan nilai tukar rupiah ikut memengaruhi keputusan kelompok masyarakat berpendapatan menengah hingga tinggi dalam konsumsi dan investasi. Karena itu, Enrico menilai kepercayaan dua segmen masyarakat tersebut perlu dipulihkan agar dapat kembali menjadi kekuatan yang lebih optimal mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kontan - UOB Indonesia Adv Online
© Foto oleh UOB Indonesia
Fokus pada kebutuhan nasabah

Dalam ASEAN Consumer Sentiment Study 2025 yang dilakukan UOB terhadap 5 ribu konsumen di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam, indeks sentimen konsumen ASEAN bertahan di level 54. Sebanyak 59% responden memiliki pandangan positif terhadap kondisi ekonomi saat ini, sementara 59% optimistis terhadap prospek ekonomi ke depan.

Situasi Indonesia juga menunjukkan kecenderungan konsumen yang semakin adaptif. Dalam survei UOB, sekitar 9 dari 10 konsumen Indonesia menggunakan metode scan-to-pay minimal sekali dalam sepekan.

Kajian ini juga menunjukkan tiga dari empat konsumen Indonesia menabung lebih dari 10% penghasilan setiap bulan, sementara 34% menyisihkan 11–20% penghasilan bulanan. Ini memperlihatkan bahwa seiring peningkatan daya beli, cara masyarakat mengelola uang, bertransaksi, dan merencanakan masa depan juga turut berubah.

Perubahan tersebut juga tercermin pada perilaku konsumen perbankan. Saat ini, ekspektasi nasabah telah bergeser dan tidak lagi berhenti pada tersedianya produk. Nasabah, terutama dari kalangan affluent dan emerging affluent, menginginkan layanan serta produk yang lebih personal dan terintegrasi.

Pergeseran ini mendorong UOB Indonesia mengubah pendekatan yang berfokus pada kebutuhan nasabah dan bukan hanya pada produk yang ditawarkan.

“Jadi kita sudah beralih fokus lebih ke segmentasi clients centric daripada ke produk itu sendiri. Produk bisa macam-macam, tapi kita benar-benar serve customer dari segi kliennya,” ungkap Acting Head of Consumer Banking UOB Indonesia Herman Soesetyo pada kesempatan yang sama.

Selain sebagai penyedia produk keuangan, kini bank juga dituntut menjadi penasihat keuangan tepercaya bagi nasabah. “Kita dituntut untuk bisa memberikan advice kepada nasabah untuk perjalanan finansial mereka, bukan hanya memberikan produk,” kata Herman.

Layanan perbankan yang memprioritaskan kebutuhan nasabah juga mencakup perkembangan teknologi pembayaran. Director and Commercial Solutions Lead Visa Indonesia Gede Widhi mencermati konsumen kini semakin mengharapkan pembayaran menjadi bagian dari satu rangkaian transaksi yang utuh. Artinya, konsumen menginginkan produk atau layanan yang menyediakan proses pembayaran mudah, terintegrasi, serta tanpa hambatan.

“Tren yang berkesinambungan ke depannya adalah bagaimana pembayaran digital itu menjadi seamless dan embedded di masing-masing journey ataupun experience dari nasabah ataupun konsumen,” tutur Gede yang tutur hadir di UOB Media Editors Circle 2026.

Bagi UOB, respons terhadap perubahan tersebut dilakukan dengan mengombinasikan kapabilitas manusia dan teknologi, termasuk pemanfaatan data serta analitik untuk memahami kebutuhan nasabah. Layanan fisik juga tetap dipertahankan di tengah penguatan kanal digital.

“Kita akan melihat bagaimana kantor cabang UOB akan menjadi wealth center ke depannya dan yang tidak kalah penting digitalisasi,” imbuh Herman.

Seiring meluasnya ekonomi digital, kejelian industri perbankan membaca kebutuhan nasabah menjadi kunci. Dalam dinamika ini, peran perbankan menjadi semakin strategis dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, khususnya dalam mengelola segmen emerging affluent dan affluent sebagai penggerak ekonomi baru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News