Segmen Premium Jadi Penopang Pasar Kondominium di Jakarta



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar hunian vertikal atau kondominium di Jakarta masih tumbuh secara selektif pada paruh pertama 2026.

Di tengah proses pemulihan pascapandemi serta berbagai tantangan ekonomi lokal dan global, dinamika pasar kondominium masih menunjukkan pertumbuhan yang terbatas.

Country Head Knight Frank Indonesia Willson Kalip mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir pasar kondominium di Jakarta menghadapi tren penjualan tahunan yang terus terkoreksi. Kondisi tersebut bahkan telah mulai terindikasi sejak sebelum pandemi.


Meski demikian, segmen menengah atas hingga premium menunjukkan resiliensi yang relatif stabil dan cenderung aktif. 

Baca Juga: Pasar Apartemen Sewa &Kondominium Jakarta Mulai Terlihat Stabil di Paruh Pertama 2026

“Ditandai dengan lebih dari separuh pasokan baru kondominium di Jakarta berasal dari kelas menengah ke atas sampai premium. Bahkan, dalam tahun ini seluruh stok baru yang masuk berasal dari segmen premium,” ungkap Willson, dalam keterangannya, pekan lalu. 

Sementara itu, transaksi hunian vertikal di tengah kota perlu berkompetisi dengan rumah tapak di wilayah hinterland dan pengembangan hunian di wilayah TOD (transit oriented development).

Hal ini menjadi pertimbangan konsumen saat ini, yang umumnya berasal dari segmen menengah.

Karena itu, pengembang perlu memformulasikan produk secara lebih cermat untuk menyasar segmen menengah yang masih menjadi fundamental permintaan hunian di perkotaan.

Berdasarkan pembaruan Knight Frank Indonesia, pasokan kondominium Jakarta pada paruh pertama 2026 bertambah menjadi 249.107 unit, setelah selesainya satu proyek baru di area Prime Non-CBD.

Baca Juga: Pasar Kondominium Jakarta Masih Tertekan dan Minim Proyek Baru

Sementara itu, tingkat penjualan kumulatif berada di level 96,3%. Kumulasi penjualan kondominium tertinggi berasal dari segmen middle, uppermiddle, dan high-end, masing-masing sebesar 39%, 25%, dan 21% dari total penjualan.

Dari sisi submarket, kawasan CBD dan Prime-Non CBD menjadi area dengan produk high-end dan uppermiddle yang saat ini diminati.

Harga unit baru juga masih mencatatkan penguatan. Rata-rata harga unit baru naik 1,5% secara tahunan (year on year/yoy).

Di sisi lain, rata-rata penjualan stok baru meningkat tipis menjadi 55%. Saat ini terdapat 2.814 unit baru yang tengah dipasarkan di pasar kondominium Jakarta.

“Resiliensi penjualan kondominium pada segmen high-end menjadi salah satu penopang utama di tengah pemulihan yang belum merata,” sebutnya. 

Baca Juga: Agung Podomoro (APLN) Gandeng Hankyu Hanshin Kembangkan Bukit Podomoro Jakarta

Namun untuk menjangkau pasar yang lebih luas, pengembang perlu lebih cermat dalam merancang produk, strategi harga, serta pendekatan pemasaran yang sesuai dengan segmen menengah sebagai basis permintaan terbesar saat ini.

Di sisi lain, terjaganya stabilitas kondisi sosial dan ekonomi juga menjadi faktor kunci yang akan menentukan signifikansi pertumbuhan pasar residential ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News