Sejarah Berdirinya Taman Siswa: Fondasi Pendidikan Humanis Ki Hajar Dewantara



KONTAN.CO.ID -  Peringatan Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas setiap tanggal 2 Mei merupakan bentuk penghormatan atas dedikasi luar biasa Ki Hajar Dewantara.

Sebagai pahlawan pendidikan, beliau meninggalkan warisan berharga yang masih bisa dikunjungi dan dirasakan manfaatnya hingga saat ini, yakni lembaga pendidikan Taman Siswa.


Sekolah ini didirikan dengan visi besar agar seluruh anak bangsa dapat mengenyam pendidikan tanpa diskriminasi.

Ki Hajar Dewantara memegang keyakinan teguh bahwa pendidikan merupakan alat mobilisasi politik sekaligus sarana untuk menyejahterakan umat.

Baca Juga: Vivo Y29 atau OPPO A6? Duel HP Snapdragon 685 dengan Baterai Jumbo

Melalui jalur pendidikan, diharapkan lahir kepemimpinan anak bangsa yang mampu membawa rakyat Indonesia memperoleh hak belajar yang merata.

Melansir dari Direktorat SMP Kemendikbud Ristek, gagasan pendirian sekolah ini bermula dari diskusi atau sarasehan yang diadakan pada hari Selasa-Kliwon, hingga akhirnya Taman Siswa resmi berdiri di Yogyakarta pada 3 Juli 1922.

Melawan Sistem Pendidikan Kolonial yang Materialistik

Para tokoh dalam diskusi tersebut merasa prihatin terhadap sistem pendidikan kolonial Belanda yang dinilai terlalu mengedepankan aspek materialistik, individualistik, dan intelektualistik semata.

Sebagai lawan tanding, Ki Hajar Dewantara mengusung konsep pendidikan yang humanis dan populis dengan prinsip memayu hayuning bawana atau memelihara kedamaian dunia.

Guna merealisasikan visi tersebut, dilakukan perubahan mendasar pada metode pengajaran:

  • Mengubah sistem pendidikan "perintah dan sanksi atau hukuman" menjadi sistem pendidikan pamong.
  • Menghapus praktik pendidikan yang didasarkan pada diskriminasi rasial yang memicu rasa rendah diri (inferioritas) pada kaum bumiputera.
  • Membangun wadah "Nationaal Onderwijs Taman Siswa" yang mencakup kepentingan seluruh bangsa Indonesia.
  • Menerapkan pendidikan humanis, kerakyatan, dan kebangsaan sebagai alat politik pembebasan menuju kemerdekaan.
  • Mengadopsi dan menggabungkan keunggulan model sekolah Maria Montessori dari Italia serta Rabindranath Tagore dari India yang dinilai sangat cocok untuk masyarakat bumiputera.

Tiga Semboyan dan Jenjang Pendidikan Taman Siswa

Dalam menjalankan sistem pendidikan tersebut, Ki Hajar Dewantara merumuskan istilah Patrap Guru. Istilah ini merujuk pada tingkah laku guru yang harus menjadi panutan bagi murid dan masyarakat luas. Berdasarkan filosofi tersebut, lahir tiga semboyan legendaris yang menjadi karakter utama pendidikan Indonesia:

  • Ing ngarsa sung tulada: Di muka memberi contoh.
  • Ing madya mangun karsa: Di tengah membangun cita-cita.
  • Tut wuri handayani: Mengikuti dan mendukungnya.
Prinsip Tut Wuri Handayani kini telah diabadikan sebagai motto Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Perilaku guru yang berlawanan dengan sikap kaku pendidik kolonial ini diterapkan secara konsisten di seluruh jenjang pendidikan Taman Siswa, meliputi:

  • Taman Indria (Taman Kanak-kanak)
  • Taman Muda (Sekolah Dasar/SD)
  • Taman Dewasa (Sekolah Menengah Pertama/SMP)
  • Taman Madya (Sekolah Menengah Atas/SMA)
  • Taman Guru (Sarjana Wiyata)
Tonton: Harga Emas Antam Turun Tipis Hari ini (2 Mei 2026)

Perkembangan dan Eksistensi Taman Siswa

Kehadiran Taman Siswa mendapatkan sambutan hangat dari rakyat Indonesia. Mengutip informasi dari Direktorat SMP Kemendikbud Ristek, pada periode 1922-1930, sekolah ini berkembang pesat meski berada di bawah tekanan pemerintah kolonial.

Sebanyak 30 cabang sekolah Taman Siswa berhasil didirikan di berbagai wilayah, mulai dari ujung Aceh hingga wilayah Indonesia timur, dengan pusat organisasi tetap berada di Yogyakarta.

Hingga masa setelah kemerdekaan, perjuangan ini diteruskan oleh Ki Mangun Sarkara dengan tetap memegang teguh Azas Taman Siswa (1922) dan Dasar Taman Siswa (1947).

Kedua pedoman tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam mencetak generasi bangsa yang berbudi pekerti luhur.

Saat ini, tantangan yang dihadapi Taman Siswa berbeda dengan era kolonial, terutama terkait pendanaan mandiri dan perubahan orientasi masyarakat.

Meski demikian, Taman Siswa tetap berdiri kokoh sebagai penggerak sekolah swasta di Indonesia yang mengedepankan swadaya, swausaha, dan swakelola.

Semangat kebangsaan dan keluhuran pekerti tetap menjadi napas utama lembaga ini dalam menjaga budaya timur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News