Sejumlah Analis Prediksi IHSG Bisa Capai 7.400, Tapi Sejumlah Isu Ini Perlu Dicermati



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju kencang pada bulan Februari 2022 ini. Bahkan IHSG tercatat berkali-kali menyentuh level tertingginya sepanjang massa dan diprediksi bisa menyentuh 7.400 pada akhir 2022. 

Kendati demikian, investor juga perlu mencermati sejumlah isu berikut yang bisa membuat IHSG terkoreksi.

Menurut Head of Investment Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, IHSG memang sedang dalam tren kuatnya. Hanya saja, ia mengingatkan bahwa hal tersebut tidak akan berlangsung terus-menerus lantaran ada beberapa faktor yang akan memberikan volatilitas pada pergerakan IHSG.


Baca Juga: IHSG Diproyeksi Melanjutkan Penguatan Pada Kamis (24/2)

Pertama, rencana kenaikan suku bunga The Fed yang umumnya akan memberikan koreksi IHSG untuk jangka pendek. Hanya saja, faktor tersebut bukan yang menjadi perhatian utama investor.

"Yang akan lebih dicermati itu bagaimana langkah Bank Indonesia terkait suku bunga itu, dan kalau Indonesia naik, naiknya kapan. Itu yang menjadi faktor fundamental yang akan menggerakkan IHSG," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (23/2).

Kedua, apabila terjadi penurunan harga komoditas dari pergolakan geopolitik antara Rusia, Amerika Serikat, dan Ukraina.

Di samping itu, investor juga akan mencermati perkembangan ekonomi, khususnya di kuartal I dari inflasi, pertumbuhan ekonomi, neraca berjalan dan lainnya lantaran jika ada tanda-tanda perlambatan atau turun akan menjadi risiko utama di tahun ini.

Baca Juga: IHSG Menguat 0,85% ke 6.920 Pada Perdagangan Rabu (23/2), Kembali Cetak All Time High

Head of Equity Research and Strategy Mandiri Sekuritas Adrian Joezer, menambahkan bahwa IHSG masih memiliki ketangguhan untuk menahan sentimen negatif dari tapering Bank Sentral AS dan pergolakan geopolitik antara Rusia, Amerika Serikat, dan Ukraina. Sebab, Indonesia saat ini baru pada fase awal pemulihan.

"Saham di Indonesia resilience mestinya, valuasi saat ini juga masih reasonable," ujarnya.

Editor: Noverius Laoli