Sejumlah bank sentral dunia akan tentukan kebijakan moneter di pekan depan



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Beberapa bank sentral akan melakukan pertemuan bulannya pada pekan depan untuk menentukan arah kebijakan ekonomi masing-masing negara. Namun, dari sejumlah pertemuan itu, pelaku pasar tampaknya bakal fokus pada pertemuan yang dilakukan Federal Reserve pada 21-22 September mendatang.

Mengutip Reuters, rencana tapering The Fed masih akan menjadi pertanyaan kunci dalam pertemuan tersebut. Ditambah, kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan kehati-hatian mengingat tingkat lapangan kerja AS bulan Agustus berada di posisi terbawah dalam 7 bulan terakhir dan harga konsumen yang meningkat namun melambat.

Beberapa pejabat pun memperkirakan, The Fed akan mulai mengurangi stimulus terkait pandemi Covid-19 pada tahun ini dan kemungkinan besar akan dibahas oleh Jerome Powell sebagai Ketua The Fed dalam pertemuan tersebut.


Sementara itu, The Fed juga dinilai belum akan menaikkan tingkat suku bunganya pada pertemuan tersebut. Saat ini, suku bunga AS masih berada di posisi 0,125%.

Selain The Fed, Bank of Japan (BOJ) juga akan melakukan pertemuan pada waktu yang sama. BOJ pun dinilai masih akan mempertahankan stimulus karena kemacetan pasokan yang disebabkan oleh penutupan pabrik di Asia membebani ekonomi yang sudah goyah dari pukulan ke konsumsi akibat pandemi.

Baca Juga: Pasar menanti hasil RGBI, rupiah diproyeksi menguat terbatas di awal pekan

Pada pertemuan dua hari tersebut, BOJ disebut akan mempertahankan target suku bunga jangka pendek di -0,1% dan untuk imbal hasil obligasi tenor 10 tahun sekitar 0%.

Sementara akan tetap berpegang pada pandangannya bahwa ekonomi akan pulih secara moderat, BOJ diperkirakan akan menawarkan pandangan yang lebih suram tentang ekspor dan output karena penutupan pabrik Asia yang disebabkan oleh pandemi memaksa produsen Jepang untuk memangkas rencana produksi.

Di saat Jepang dan AS diperkirakan belum akan menaikkan suku bungan-nya, Bank sentral Norwegia akan menjadi yang pertama dari negara maju yang menaikkan suku bunga sejak pandemi. Kemungkinan, mereka akan menaikkan suku bunga utama 0% menjadi 0,25%.

Bank of England (BoE) pun disebut belum akan mengubah kebijakan. Hanya saja, pertumbuhan harga konsumen pada level tertinggi selama 9 tahun di bulan Agustus membuat para pedagang memperkirakan kenaikan suku bunga akan terjadi pada Mei mendatang.

BoE mungkin juga akan memberi sinyal pada pertemuan Kamis apakah masih memandang inflasi sebagai sementara atau tidak.

Swedia pun diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada 0% hingga 2024 namun pengumuman kebijakan moneternya pada hari Selasa bisa mencerminkan pemikiran ulang setelah ada prediksi inflasi yang kuat.

Selanjutnya: Masih terjerat korupsi, Najib Razak tetap ingin mencalonkan diri ke parlemen di 2023

Editor: Anna Suci Perwitasari