KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Penyaluran pembiayaan rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) terus menunjukkan perkembangan positif sepanjang 2026. Hingga 29 Juli 2026, realisasi KPR subsidi FLPP secara nasional telah mencapai 118.756 unit rumah dengan nilai Rp14,76 triliun. Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas akses kepemilikan rumah pertama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), melalui dukungan pembiayaan perumahan yang lebih terjangkau. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) masih menjadi salah satu penyalur terbesar KPR FLPP. Berdasarkan data Kementerian PKP, hingga 29 Juli 2026, BTN telah menyalurkan 55.766 unit KPR FLPP, tertinggi di antara bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Baca Juga: Mandiri Utama Finance Catat NPF 1,31% hingga Agustus 2026 Selain BTN, Hingga Juni 2026, PT Bank Syariah Indonesia (BSI) menduduki urutan pertama bank penyalur KPR FLPP berdasarkan persentase pencapaian target penyaluran unit FLPP tahun ini. Sejak merger hingga saat ini, BSI telah menyalurkan 25.057 unit KPR Sejahtera FLPP atau sekitar Rp3,6 triliun ke berbagai wilayah di Indonesia. Penyaluran tersebut didominasi wilayah Sumatera, Sulawesi, serta sejumlah wilayah potensial lainnya. Pada 2026, BSI memperoleh target penyaluran sebanyak 3.283 unit FLPP. Hingga Juni, realisasinya telah mencapai sekitar 66% dari target tahunan.
Corporate Secretary BSI, Wisnu Sunandar mengatakan, BSI berkontribusi aktif terhadap program strategis nasional 3 juta rumah melalui penyaluran KPR FLPP. Hal ini merupakan bagian dari komitmen perseroan mendukung pemerintah dalam memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat. BSI optimistis penyaluran KPR Sejahtera FLPP akan terus tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap hunian yang layak. “Melalui pembiayaan syariah yang inklusif dan berkelanjutan, BSI berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan hunian berkualitas menuju Indonesia yang lebih sejahtera,” ujar Wisnu kepada kontan.co.id. Melalui pembiayaan berbasis prinsip syariah, BSI terus memperkuat peran dalam menyediakan hunian yang terjangkau dan sesuai kebutuhan masyarakat, khususnya bagi kelompok berpenghasilan rendah. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya BSI memperluas inklusi keuangan syariah di sektor perumahan. Adapun Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak dalam ekosistem perumahan, termasuk dukungan Danantara Indonesia. “Pencapaian BTN sebagai penyalur terbesar dalam akad massal ini merupakan hasil kerja bersama. Dukungan Danantara Indonesia dalam memperkuat kolaborasi antara pemerintah, BP Tapera, perbankan, pengembang, dan seluruh pelaku ekosistem turut meningkatkan kapasitas BTN dalam memperluas akses pembiayaan rumah bagi masyarakat,” ujar Nixon.
Baca Juga: AASI Ungkap Strategi Dongkrak Pangsa Aset Asuransi Syariah Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) optimistis mampu melampaui target penyaluran pembiayaan perumahan bersubsidi hingga akhir 2026. Hingga Juni 2026, realisasi penyaluran KPR FLPP dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan BRI telah mencapai sekitar Rp13,8 triliun, atau 63% dari total target yang diberikan pemerintah. Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, perseroan memperoleh target penyaluran sebesar Rp22 triliun, yang terdiri atas Rp10 triliun untuk KPR FLPP dan Rp12 triliun untuk KUR Perumahan. “Dari total target tersebut, sampai Juni kami sudah menyalurkan sekitar Rp13,8 triliun atau sekitar 63% dari target. Karena ini baru bulan Juli, kami optimistis hingga akhir tahun pencapaiannya bisa lebih dari 100%,” ujar Hery di Jakarta, Selasa (21/7/2026). Hery merinci, penyaluran KUR Perumahan BRI telah mencapai sekitar 89% dari target. Tingginya realisasi tersebut bahkan mendorong pemerintah berencana kembali menaikkan target penyaluran KUR Perumahan bagi BRI. Adapun penyaluran KPR FLPP BRI baru mencapai sekitar 32% dari target Rp10 triliun. Secara nasional, pemerintah menargetkan penyaluran pembiayaan perumahan bersubsidi sebesar Rp95 triliun pada 2026. Target tersebut terdiri dari Rp45 triliun untuk KPR FLPP dan Rp50 triliun untuk KUR Perumahan, meningkat dari target sebelumnya sebesar Rp36 triliun. Menurut Hery, tingginya realisasi KUR Perumahan tidak terlepas dari strategi BRI yang aktif menjangkau sisi penawaran maupun permintaan.
Dari sisi penawaran, BRI menggandeng kontraktor, pengembang, hingga toko bangunan untuk memperluas pemanfaatan KUR Perumahan. Sementara dari sisi permintaan, perseroan rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat di berbagai daerah. “Program ini berjalan sangat baik karena kami menggarap sisi
supply dan
demand secara bersamaan. Itu yang membuat penyerapannya tinggi,” katanya.
Baca Juga: Dana Deposito Jumbo Masih Diburu, Special Rate Jadi Tantangan Bank Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News