KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah volatilitas pasar saham saat ini, berburu dividen menjadi salah satu cara yang bisa diambil investor untuk mempertahankan portofolio investasi mereka. Namun, ada beberapa hal yang tetap diperhatikan oleh investor. Sejumlah emiten terjadwal cum dividen di sepanjang pekan ini. Di antaranya, PT Chandra Daya Investasi Tbk (
CDIA), PT Semen Indonesia Persero Tbk (
SMGR), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (
RALS), PT Medela Potentia Tbk (
MDLA), PT Plaza Indonesia Realty Tbk (
PLIN), PT Total Bangun Persada Tbk (
TOTL), PT Raharja Energi Cepu Tbk (
RATU), dan PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (
WEHA). Para emiten itu pun menawarkan imbal hasil dividen alias dividend yield yang beragam. Dividen CDIA sebesar Rp 5,56 per saham dengan
dividend yield sekitar 0,5%, SMGR dividennya Rp 28,33 per saham dengan yield sekitar 1,3%, RALS Rp50 per saham dengan
yield sekitar 11%, MDLA Rp12,6 per saham dengan yield sekitar 5%.
Lalu, PLIN Rp 79 per saham dengan yield sekitar 3,5% - 4%, TOTL Rp 110 per saham dengan yield sekitar 9%, RATU Rp 45 per saham dengan yield 5-6%, dan WEHA Rp 6 per saham dengan yield sekitar 4-5%.
Baca Juga: Sumber Mas Konstruksi (SMKM) Siap Transformasi Bisnis ke Sektor Akuakultur Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari mengatakan, di tengah
market volatile seperti sekarang, dividen memang masih bisa menjadi bantalan imbal hasil. Namun, efektivitasnya lebih bergantung pada keberlanjutan laba dan kualitas bisnis perusahaan dibanding sekadar nominal yield tinggi.
Dividend yield besar tanpa pertumbuhan fundamental justru sering menjadi sinyal warning dibanding peluang jangka panjang. Misalnya, RALS memiliki
dividend yield paling besar di kisaran 11% untuk tahun buku 2025. Namun, potensi dividend trap juga lebih besar, karena sektor retail sekarang masih tertekan dan jika dilihat dari performa RALS sedang mengalami penurunan laba bersih dan penjualan secara tahunan. Artinya, ada risiko harga saham akan turun setelah
ex-date, sehingga dividen tidak cukup untuk menutup
capital loss. Jadi, dividen RALS ini cenderung menjadi daya tarik jangka pendek. ”Berbeda dengan TOTL misalnya, yang punya
yield sekitar 9% untuk tahun 2025 serta ditambah pertumbuhan laba solid di kuartal I 2026 dan arus kas sehat,” katanya kepada Kontan, Senin (18/5/2026). Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, imbal hasil di kisaran 10-15% berarti jauh di atas imbal hasil deposito yang sekitar 2-3%. Namun, jarak saat harga jatuh setelah periode
ex-date bisa menjadi risiko bagi investor yang mengincar
dividend yield. “Dividen bisa mengompensasi kalau harga saham relatif stabil setelah
ex-date,” ujarnya kepada Kontan, Senin. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai, besaran dividen RALS dan TOTL menjadi yang paling menarik di periode ini.
Dividend yield RALS berada di kisaran 10,9%, sedangkan TOTL sekitar 8,9%. Namun, yield yang tinggi tidak otomatis membuat saham tersebut paling menarik secara investasi. RALS memang unggul dari sisi yield, tetapi dividen yang dibagikan relatif besar di tengah kinerja tahun buku 2025 yang melemah. Alhasil, saham RALS lebih cocok dilihat sebagai
dividend play ketimbang sinyal pemulihan fundamental yang sudah kuat. “Sementara itu, TOTL lebih seimbang. Sebab, selain yield tinggi, kinerja kuartal I 2026 juga masih solid dengan laba bersih tumbuh sekitar 37% YoY, ditopang kualitas eksekusi proyek dan prospek kontrak baru,” ujarnya kepada Kontan, Senin. Brigita bilang, saham-saham yang
cum date di pekan ini berada di sektor yang bervariasi, yang berarti punya prospek beragam di sepanjang tahun 2026. Jika dengan kondisi global dan domestik saat ini, RATU justru termasuk yang paling diuntungkan secara sektoral dibanding sektor lain. Kenaikan harga minyak global akibat tensi geopolitik Timur Tengah dan gangguan rantai pasok membuat prospek pendapatan emiten migas menjadi lebih positif. Dalam kondisi rupiah melemah dan pasar saham domestik volatil, saham energi biasanya menjadi salah satu sektor defensif karena pendapatannya berbasis komoditas dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat RATU berpotensi mencatat kenaikan
average selling price (ASP) dan arus kas yang lebih kuat jika harga minyak tetap tinggi. Namun, karakter saham energi seperti RATU tetap berbeda dibanding saham defensif, seperti MDLA atau TOTL. Potensi upside RATU memang bisa lebih agresif dalam jangka pendek karena sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak global, tetapi volatilitasnya juga jauh lebih tinggi. Artinya, ketika harga minyak naik, saham energi bisa
outperform sangat cepat. Tetapi, jika terjadi koreksi komoditas atau meredanya tensi geopolitik, pergerakannya juga bisa berbalik tajam. “Oleh karena itu, RATU lebih cocok disebut sebagai saham
cyclical commodity play dengan momentum kuat. Sementara, TOTL dan MDLA lebih cocok sebagai saham
defensive fundamental play yang stabil,” katanya.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Teknikal Rebound pada Selasa (19/5), Ini Proyeksi Analis Wafi melihat, RATU masih prospektif di tahun ini lantaran akan ada arus kas stabil dari Blok Cepu dan punya
dividend payout ratio sekitar 46%. RALS juga menarik dengan neraca kuat dan
dividend sustainability tinggi. Selain itu, PLIN dan MDLA punya struktural kinerja yang cukup defensif. Sementara, SMGR punya kinerja yang lebih menantang di tahun ini lantaran
oversupply semen dan DPR hingga 100% tanpa reinvestasi yang berarti jadi sinyal keterbatasan ruang pertumbuhan. “CDIA juga menantang kinerjanya di tahun ini lantaran laba di kuartal I 2026 turun 68,6% YoY, yang bisa berarti dividen perdana ini lebih bersifat simbolis,” tuturnya. Wafi pun merekomendasikan beli RALS dan RATU dengan target harga masing-masing Rp 580 per saham dan Rp 6.400 per saham. Ekky berpendapat, prospek kinerja TOTL masih menarik karena kinerja awal tahun cukup kuat, backlog proyek masih menopang pendapatan, dan manajemen yang menargetkan pendapatan sekitar Rp3,9 triliun serta laba bersih Rp400 miliar pada 2026. ”Sentimen positifnya berasal dari realisasi proyek konstruksi dan potensi perolehan kontrak baru, sedangkan risikonya tetap pada perlambatan investasi properti serta kemungkinan penundaan proyek,” ungkapnya. Sementara itu, prospek RALS masih cenderung menantang, meskipun tetap berpeluang terbantu oleh perbaikan konsumsi domestik. Pada kuartal I-2026, pendapatan RALS turun sekitar 14% YoY dan laba bersih melemah 11,3% YoY, yang menunjukkan bahwa daya beli masyarakat dan trafik belanja ritel belum sepenuhnya pulih. Ke depan, sentimen positif RALS dapat datang dari pemulihan konsumsi rumah tangga, musim belanja, serta posisi kas perusahaan yang masih cukup kuat. Namun, risikonya adalah jika tekanan daya beli berlanjut, persaingan ritel tetap ketat, dan pertumbuhan penjualan tidak cukup kuat untuk menopang kinerja laba. “Oleh karena itu, RALS saat ini lebih menarik dari sisi
dividend yield dan peluang
trading jangka pendek, bukan karena prospek fundamentalnya sudah pulih sepenuhnya,” paparnya. Ekky pun merekomendasikan
buy on weakness untuk
TOTL di kisaran Rp 1.000 - Rp 1.100 per saham, dengan target harga Rp 1.300 - Rp 1.400 per saham. Sementara itu, RALS menarik untuk dibeli untuk jangka pendek, terutama sebagai
dividend play, dengan target harga di sekitar Rp 500 per saham. “Namun, investor tetap perlu mewaspadai adanya potensi tekanan harga setelah ex date, terutama pada saham dengan
dividend yield tinggi seperti RALS maupun TOTL,” kata Ekky. Strategi
dividend investing dinilai juga masih tetap relevan di tengah volatilitas pasar saat ini, namun pendekatan investor harus berubah. Brigit melihat, di tengah pasar yang bergejolak, dividen berfungsi sebagai
cushion (bantalan) yang memberikan return pasti dalam bentuk kas ketika
capital gain (keuntungan dari kenaikan harga saham) menjadi sangat tidak menentu dan sulit diprediksi.
“Cari emiten dengan
yield moderat (5%-8%) dengan pertumbuhan laba untuk menghindari
dividend trap, pilih sektor defensif, dan beli saat harga diskon atau jauh sebelum
cum date,” paparnya. Wafi bilang, strategi dividen juga tetap relevan asalkan investor membeli untuk
sustainability dividen, bukan mengejar
yield jelang
cum date. “Strategi terbaik investor saat ini adalah
income investing dikombinasikan dengan
defensive positioning,” katanya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News