Sejumlah Emiten Mulai Ekspansi di Luar Bisnis Inti, Cek Prospeknya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sederet emiten terpantau melebarkan usahanya melalui ekspansi di luar bisnis inti. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk membuka sumber pendapatan baru sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu segmen usaha.

Yang terbaru, emiten yang bergerak di sektor periklanan dan percetakan, PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) bakal ekspansi ke sektor kesehatan melalui rencana akuisisi 72,91% saham PT Hasna Medika Bakti Cirebon. 

Untuk memuluskan rencana tersebut, emiten milik pasangan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina ini akan menggelar private placement, di mana dana hasil aksi korporasi tersebut bakal digunakan untuk membiayai transaksi material berupa penyertaan saham pada Hasna Medika Bakti Cirebon.


Baca Juga: Foreign Inflow Mulai Masuk, Bagaimana Prospek IHSG hingga Akhir 2026?

Langkah ekspansi lainnya juga ditempuh PT Oxala Energy International Tbk (PIPA). Emiten ini mengumumkan rencana pengembangan bisnis melalui akuisisi 75% saham PT Aztech Pandu Persada. Transaksi ini menjadi bagian dari strategi perseroan memperluas jaringan usaha di bidang pertambangan minyak bumi dan gas alam, perdagangan, serta jasa, sekaligus mendongkrak prospek bisnis PIPA di sektor energi.

Tak ketinggalan, raksasa petrokimia PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turut merambah sektor otomotif. Perseroan telah meneken Conditional Sales and Purchase Agreement (CSPA) untuk mengakuisisi bisnis otomotif Cycle & Carriage di Singapura dan Malaysia. Nilai transaksi atas aset diperkirakan mencapai US$ 207 juta.

Sementara itu, PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) berencana menjalankan run test commencing pabrik Hidrogen Peroxide (H2O2) pada tahun ini. Melalui anak usahanya, PT Hidrogen Peroxida Indonesia (HPI), SGER membangun pabrik H2O2 di kawasan Merak, Banten, dengan kapasitas produksi 20.000 metrik ton per tahun (konsentrasi 100%) atau setara 40.000 metrik ton per tahun (konsentrasi 50%). 

Baca Juga: Simak Prospek dan Rekomendasi Saham Emiten Baja di tengah Sentimen Harga Global

Kapasitas tersebut menjadikan pabrik HPI sebagai pabrik H2O2 terbesar kedua di Indonesia. Lewat pabrik ini, SGER berharap bisa mendiversifikasi bisnisnya di luar segmen trading batubara.

Terakhir, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga mempercepat diversifikasi bisnis non-batubara dengan mengakuisisi 100% saham perusahaan tambang mineral Australia, Loyal Metals Ltd. Nilai atas transaksi ini mencapai Rp 1 triliun.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan secara umum ekspansi di luar bisnis inti bisa menjadi katalis positif apabila mampu menciptakan sumber pendapatan baru dan mengurangi ketergantungan terhadap satu sektor.

Dari beberapa emiten tersebut, Elandry melihat BUMI dan SGER relatif menarik karena diversifikasinya masih memiliki keterkaitan dengan kompetensi dan ekosistem bisnis yang sudah dimiliki. 

Sementara, BUMI masuk lebih jauh ke mineral seperti emas dan tembaga melalui Loyal Metals, sehingga secara jangka menengah dapat mengurangi ketergantungan terhadap batubara. Adapun SGER mulai masuk ke kimia industri melalui pabrik hidrogen peroksida yang ditargetkan mulai run test Oktober 2026, sehingga sudah semakin dekat menuju tahap monetisasi.

TPIA juga menarik karena diversifikasinya jauh lebih agresif. Akuisisi bisnis Cycle & Carriage di Singapura dan Malaysia memperluas eksposur TPIA dari petrokimia dan energi menuju mobility platform regional. 

"Namun karena model bisnisnya semakin luas, investor juga perlu melihat seberapa efektif integrasi aset baru tersebut dan kontribusinya terhadap return on capital," kata Elandry kepada Kontan, Jumat (11/9/2026). 

Sementara VISI dan PIPA masih lebih spekulatif karena ekspansinya relatif baru dan investor masih perlu melihat eksekusi serta kontribusi laba setelah konsolidasi. VISI sendiri baru akan meminta persetujuan RUPSLB untuk akuisisi Hasna Medika, sedangkan transaksi PIPA terhadap Aztech juga masih bersyarat dan ditargetkan selesai dalam beberapa bulan ke depan. 

Sementara itu, Analis Mega Capital Sekuritas Revo Gilang Firdaus menyoroti langkah diversifikasi BUMI yang menargetkan rasio pendapatan 50% batubara dan 50% non-batubara pada 2031. Salah satu langkah yang telah ditempuh BUMI adalah mengakuisisi 100% saham Wolfram Limited di Australia, yang memiliki eksposur tembaga, emas, dan perak, dan sudah memasuki tahap operasi pada 2026. BUMI juga menggenggam sekitar 64,98% saham Jubilee Metals Limited.

Teranyar, pada September ini BUMI melalui Bumi Resources Australia merampungkan akuisisi 100% saham Loyal Metals senilai sekitar Rp 1 triliun. Daya tarik utama Loyal Metals terletak pada dua asetnya, yakni Highway Reward Copper-Gold Project dan Big Magpie Project di Queensland. Highway Reward tercatat memiliki sejarah produksi berkadar tinggi, sekitar 3,65 juta ton dengan kadar 5,7% tembaga serta sekitar 260 ribu ton dengan kadar 4,5 gram per ton emas.

"Untuk BUMI, investor perlu mencermati progress pengembangan LM Loyal Metals mengingat LM Loyal Metals masih membutuhkan pengembangan infrastruktur," ucap Revo.

Sementara untuk Highway Reward Copper-Gold Mine, kontribusi pendapatan ditargetkan mulai tahun kedua setelah akuisisi artinya sekitar 2028.  Pergerakan harga komoditas tembaga dan emas juga perlu diwaspadai, karena pelemahan permintaan berpotensi menekan harga dan pada akhirnya menekan pendapatan BUMI.

Saran untuk Investor

Elandry menyarankan agar Investor jangan hanya melihat headline bahwa emiten masuk ke sektor yang sedang booming. Yang lebih penting adalah melihat apakah bisnis baru tersebut memiliki sinergi dengan bisnis eksisting, besaran nilai investasinya, sumber pendanaan, serta seberapa cepat bisa memberikan kontribusi terhadap revenue dan laba. 

Selain itu perlu dilihat rekam jejak manajemen, valuasi transaksi, potensi dilusi, serta apakah ekspansi tersebut justru membuat leverage meningkat terlalu agresif. 

"Jadi sentimen pasar bisa positif di awal, tetapi pada akhirnya harga saham akan kembali mengikuti kemampuan perusahaan menghasilkan cash flow dari investasi tersebut," tambah Elandry.

Dari sisi pilihan saham, Elandry condong menyukai BUMI untuk pendekatan jangka menengah karena arah diversifikasi mineralnya semakin jelas dan masih mendapat dukungan sentimen komoditas, "Tetapi setelah rally cukup kuat investor sebaiknya tidak terlalu agresif mengejar harga dan lebih ideal melakukan buy on weakness," tambah Elandry.

SGER juga menarik untuk dicermati sebagai second liner karena pabrik H2O2 sudah mendekati operasional dan berpotensi memberikan recurring income baru, meski tetap harus melihat ramp-up produksi setelah beroperasi. 

Adapun TPIA lebih cocok speculative buy karena transformasi bisnisnya cukup besar. Area breakout Rp 2.040 dapat menjadi konfirmasi dengan target bertahap sekitar Rp 2.100 kemudian Rp 2.270–Rp 2.370. Untuk VISI dan PIPA, Elandry masih cenderung wait and see sampai terlihat lebih jelas hasil akuisisi, pendanaan, dan kontribusi kinerja dari bisnis barunya.

Disisi lain, Revo menilai saham BUMI saat ini sedang membentuk secondary reaction dan muncul valid swing high. BUMI berpotensi terkoreksi menuju area resistance becomes support di Rp 202 dengan resistance terdekat Rp 228-232 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News