Sekarang giliran dollar melemah dan rupiah perkasa



JAKARTA. Pelemahan dollar AS terhadap beberapa mata uang mayoritas dunia juga berimbas positif pada mata uang berisiko seperti rupiah. Rupiah kembali menguat begitu pasar dibuka setelah libur lebaran. Pada Kamis (23/8) pukul 10.26 WIB, pasangan USD/IDR dibuka pada level 9.485-9.495. Di saat yang sama, posisi indeks dollar berada di 81,42, level terendahnya di minggu ini. Di posisi itu, indeks dollar turun 1,17 poin dari level 82,59, Jumat (17/8). Dealer Forex, Bank Rakyat Indonesia (BRI) Taufan Tito menyampaikan, mata uang Paman Sam melemah karena The Federal Reserve (FED) memberikan sinyal akan mengucurkan stimulus moneter tambahan dalam waktu dekat ini.

"Indikasi Quantitative Easing tahap 3 (QE3) tadi diambil dari catatan rapat the Fed tanggal 31Juli-1 Agustus. Mereka dengan tegas menyatakan apabila pertumbuhan ekonomi US dirasa mengecewakan, program QE3 bakal dijalankan. Pengumuman implementasinya dijadwalkan pada 13 September nanti," urai Taufan, Kamis (23/8).

Sedangkan dari Eropa, beredar kabar bahwa European Central Bank (ECB) pada pertemuan 6 September nanti akan mengumumkan rencana pembelian surat utang. ECB dipredksi akan tetap menjalankan rencananya terutama demi menurunkan yield surat utang Spanyol dan Italia. "Hal ini mendorong mata uang euro naik signifikan beberapa hari terakhir ini ke level US$ 1,25," tambah Taufan. Sampai akhir pekan nanti, Taufan optimistis rupiah akan terus perkasa dengan support di Rp 9.480 dan resistance di Rp 9.499 per dollar AS.


Namun ia menilai, apresiasi rupiah terhadap dollar tidak sebesar mata uang Asia lainnya. Pasalnya, total utang luar negeri Indonesia mulai naik, meskipun rasio utang terhadap PDB masih kecil."Kenaikan utang ini dirasa jadi sentimen negatif," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: