KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Risiko obligasi korporasi Amerika Serikat kehilangan status
investment grade membesar. Menurut riset JPMorgan Chase & Co, jumlah obligasi yang berada di ambang status menjadi obligasi sampah alias
junk bond melonjak tahun lalu. Menurut riset JPMorgan Chase & Co, seperti dikutip
Bloomberg, Minggu (11/1), sekitar US$ 63 miliar obligasi korporasi AS yang ada di peringkat tinggi saat ini mendapatkan peringkat utang di kategori tinggi setidaknya dari satu lembaga pemeringkat. Tapi, obligasi tersebut juga mendapatkan peringkat utang BBB- dari lembaga lain, yang merupakan level
investment grade terendah. Selain itu, obligasi korporasi tersebut memiliki setidaknya satu prospek negatif. Menurut catatan JPMorgan Chase & Co, di 2024, jumlah obligasi korporasi yang berada di kondisi seperti itu cuma US$ 37 miliar.
“Seiring perusahaan terus melakukan pembiayaan ulang utang, tekanan pada neraca semakin tinggi, akibat meningkatnya biaya bunga,” kata Nathaniel Rosenbaum,
US High-Grade Credit Strategist JPMorgan, seperti dikutip
Bloomberg. Menurut Rosenbaum, kondisi ini pada akhirnya memberikan tekanan pada
rating utang, hingga jadi lebih lemah.
Baca Juga: Peluang Minyak Rp 1.600 T: Mengapa Bos Exxon Trauma dan Bilang Venezuela Belum Layak? Kendati begitu, JPMorgan tidak mengantisipasi gejolak pasar dalam waktu dekat. Perusahaan keuangan ini menilai permintaan dari investor masih kuat. Selain itu, pendapatan perusahaan juga diprediksi tetap relatif kuat dalam beberapa minggu mendatang, sehingga
spread tetap berada dalam kisaran yang wajar. Toh, JPMorgan menilai risiko tidak sepenuhnya hilang. Lembaga keuangan ini mencatat sekitar US$ 55 miliar obligasi korporasi AS beralih dari posisi
investment grade menjadi
junk bond pada 2025. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibanding perusahaan yang mendapat kenaikan
rating utang, yang jumlahnya mencapai US$ 10 miliar. Para pengamat menilai, tren ini diperkirakan berlanjut tahun ini.
Baca Juga: Obligasi Korporasi Bisa Jadi Underlying Repo, Begini Dampaknya ke Pasar Obligasi Obligasi korporasi dengan peringkat utang BBB- saat ini hanya sekitar 7,7% dari total obligasi yang masuk indeks obligasi berperingkat utang tinggi milik JPMorgan. Ini merupakan pangsa terendah sepanjang sejarah. Tapi tetap saja, jumlah tersebut terhitung relatif tinggi bagi obligasi yang rentan jatuh ke status
junk bond. Ada beberapa alasan untuk sedikit lebih khawatir tentang risiko turunnya peringkat utang saat ini. Pengukuran yang luas terhadap utang telah meningkat relatif terhadap pendapatan. Ini didorong kenaikan imbal hasil setelah pandemi, belanja besar-besaran di sektor kecerdasan buatan, dan akuisisi. “Jika Anda melihat lebih dalam, ada tanda-tanda pelemahan dalam profil kredit,” kata Zachary Griffiths, Head of US Investment Grade and Macro Strategy CreditSights Inc, dikutip oleh
Bloomberg.
Baca Juga: Serangan Drone Ukraina Menghanguskan Gudang Minyak di Distrik Oktyabrskiy, Rusia Namun dalam jangka pendek, permintaan obligasi diprediksi tetap kuat. Griffiths menilai, stimulus fiskal dari beberapa ketentuan dalam
One Big Beautiful Bill Act, yaitu beleid pemangkasan pajak era Trump, dapat membantu menjaga sentimen konsumen sedikit lebih optimistis. Manajer investasi juga tampaknya belum mengkhawatirkan risiko penurunan peringkat utang.
Spread obligasi
investment grade rata-rata berada di angka 0,78 poin persentase, atau 78 basis poin, sepanjang minggu ini. Sejauh ini, menurut data indeks Bloomberg,
spread belum pernah naik di atas 85 basis poin sejak Juni. Rata-rata
spread selama satu dekade terakhir mendekati 116 basis poin.
Baca Juga: Drone Korsel Langgar Udara Korut, Adik Kim Jong Un Tuntut Penjelasan Resmi Tahun ini, JPMorgan memperkirakan akan terjadi perlambatan dalam kenaikan
rating utang. Penyebab utamanya adalah akuisisi dan peningkatan leverage dari obligasi yang diterbitkan perusahaan di bidang akal imitasi.
Penerbit obligasi yang bergerak di sektor teknologi berkualitas tinggi dapat menambah
leverage dan mendapat peringkat utang yang sedikit lebih rendah, kata Rosenbaum. “Mengubah struktur modal dapat membantu membuat perusahaan teknologi lebih kompetitif dalam gelombang pembiayaan AI,” kata Rosenbaum. Namun demikian, beberapa investor berupaya mengurangi paparan terhadap perusahaan yang menumpuk risiko. “Kami menghindari penerbit obligasi yang mungkin membebani neraca untuk mendanai rencana belanja modal yang signifikan atau terlibat dalam merger dan akuisisi,” kata David Delvecchio, Managing Director & Co-Head US Investment Grade Corporate Bond Team PGIM Fixed Income. Perusahaan ini memiliki dana kelolaan US$ 906 miliar per September.