Sekjen Kemenperin: Industri mamin dan otomotif Indonesia bergeliat



KONTAN.CO.ID -PADANG. Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Achmad Sigit Dwiwahjono memaparkan hasil kinerja dan proyeksi ekspansi beberapa sektor industri andalan di Indonesia. Dalam acara workshop bertajuk Pendalaman Kebijakan Industri 4.0 yang berlangsung di Mercure Hotel Padang, Sumatera Barat, Sigit menyatakan industri makanan dan minuman (mamin) mencatat kinerja positif secara konsisten dalam kurun lima tahun terakhir.

Baca Juga: Sekjen Kemenperin: industri kimia dan petrokimia belum didukung investasi kuat Tak hanya itu, bahkan pertumbuhan sektor industri mamin melampaui pertumbuhan ekonomi domestik dan berperan penting dalam peningkatan nilai tambah bahan baku di dalam negeri. "Sektor ini tumbuh rata-rata di atas 8-9%. Industri makanan dan minuman ini kita berikan upaya-upaya peningkatan yang lebih besar lagi melalui industri 4.0, tentu pertumbuhannya bisa double-digit," ungkap Sigit di Padang, Sumbar, Selasa (8/10). Sektor ini, lanjut Sigit, memiliki nilai tambah paling tinggi karena seluruh komponen bahan bakunya sebagian besar berasal dari dalam negeri. Hal ini disebabkan juga karena dominasi industri kecil dan menengah (IKM) di dalamnya, sehingga bisa mewujudkan ekonomi yang inklusif. Sektor industri yang juga bergeliat adalah industri otomotif. Sigit berpandangan, kinerja sektor tersebut mulai bergerak naik signifikan dibanding 20 tahun lalu. Hal ini terjadi seiring dengan peningkatan investasi di dalam negeri, di mana sejumlah produsen global menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk mengisi pasar ekspor. Sigit melihat, saat ini perkembangan teknologi terus berkembang, seperti pada pengaruh mesin terhadap lingkungan. Maka dari itu, pengembangan kendaraan listrik akan menjadi prioritas Kemenperin ke depannya.

Baca Juga: Kementerian Perindustrian prioritaskan 5 sektor ini dalam road map industri 4.0 "Jadi, nanti ada aturan mengenai PPnBM yang didasarkan pada emisi yang dikeluarkan. Kalau emisinya rendah, PPnBM-nya akan rendah," imbuh Sigit. Sementara terkait industri tekstil dan pakaian, Sigit mengemukakan, sektor tersebut merupakan sektor industri tertua dilihat dari struktur manufakturnya di Indonesia. Ia berpendapat, perlu adanya program restrukturisasi mesin produksi yang lebih modern sehingga dapat memacu produktivitas dan daya saing. "Potensi kita, industri tesktil dan pakaian ini sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir. Kalau didorong dengan penerapan industri 4.0, kami optimistis bisa mengejar kapasitas produksi dari negara-negara kompetitor,"imbuh Sigit. Sementara di bidang industri elektronika, Kemenperin juga sedang mendongkrak kinerjanya melalui peningkatan investasi. Sigit berkata pihaknya masih memerlukan investasi yang cukup besar khususnya di sektor hulu, yang bisa menghasilkan berbagai komponen untuk memasok kebutuhan bagi sektor-sektor lainnya seperti industri otomotif.


Baca Juga: Begini sara Menkeu Sri Mulyani untuk menekan impor tekstil "Kami optimistis, melalui implementasi industri 4.0, akan mengoptimalkan potensi-potensi lainnya seperti penambahan pertumbuhan ekonomi sekitar 1-2%, peningkatan kontribusi sektor terhadap PDB hingga 25% pada 2030, peningkatan net export hingga 10%, serta mengisi kebutuhan tenaga kerja yang melek digital hingga 17 juta orang untuk mendorong peningkatan nilai tambah terhadap PDB nasional hingga US$ 150 miliar pada 2025 mendatang,"pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Azis Husaini