Sektor manufaktur diproyeksi masih melambat, simak saham yang menarik menurut analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. IHS Markit mencatat indeks manufaktur atau Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia pada Januari 2020 di level 49,3. Ini menunjukkan indeks Indonesia berada di bawah batas level ekspansi yaitu 50. 

Asal tahu saja, indeks manufaktur Indonesia selalu berada di bawah 50 sejak Juli 2019. Kemudian, bila dilihat dari pergerakan sektor manufaktur di pasar saham, indeks manufaktur telah mengalami tekanan 7,15% sejak awal tahun hingga Senin (3/2), kemarin. 

Baca Juga: Optimisme Konsumen Turun, Saham Barang Konsumen Masih Oke


Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki melihat penurunan tersebut disebabkan oleh penurunan harga saham UNVR, ASII, CPIN, GGRM, KLBFINTP dan SMGR

Berdasarkan data RTI, dalam satu bulan terakhir harga saham UNVR tercatat turun 7,08%, ASII turun 5,9%, CPIN turun 13,99%, GGRM turun 0,54%, KLBF turun 9,48%, INTP turun 10,85% dan SMGR turun 2,24%. 

Yaki menjelaskan tahun ini masih cukup menantang karena penjualan otomotif yang cenderung flat dan menurun, daya beli yang menurun serta adanya oversupply semen domestik. 

"Prospek masih akan tumbuh, hanya mungkin tidak sebagus atau sekuat beberapa tahun lalu," ujar Yaki kepada Kontan.co.id, Selasa (4/2). 

Sehingga, prospek saham-saham di sektor ini masih cukup menarik. Terutama karena koreksi yang terjadi beberapa hari terakhir sudah cukup dalam dan akan ada rilis laporan keuangan tahun 2019 yang bisa menjadi katalis positif. 

Yaki menyarankan untuk mengakumulasi ASII dengan target harga Rp 8.400 dalam jangka waktu satu tahun. Yaki menjelaskan ASII masih cukup menarik karena perusahaan tengah memperbesar divisi infrastruktur untuk mengimbangi kontribusi dari penjualan otomotif. 

Baca Juga: Simak rekomendasi teknikal saham BRPT, BMRI, dan SMGR untuk hari ini

Sementara itu disarankan untuk hold INTP dengan target harga Rp 17.500 per saham. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi