KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas penghimpunan dana korporasi melalui pasar modal sepanjang 2026 cenderung melambat. Kondisi ini menekan bisnis penjaminan emisi (underwriting) perusahaan sekuritas dan mendorong pelaku industri mencari sumber pendapatan lain. Hingga Agustus 2026, baru tujuh perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 22 aksi
Initial Public Offering (IPO).
Tekanan juga terlihat di pasar surat utang. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat nilai penerbitan surat utang korporasi turun 16,2% sepanjang tujuh bulan pertama 2026.
Baca Juga: IPO dan Penerbitan Obligasi Sepi, Surya Fajar Sekuritas Genjot Lini Advisory dan M&A Head of Investment Banking PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Piet Pasaribu mengakui, lesunya aktivitas IPO berdampak pada volume bisnis penjaminan emisi. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti seluruh bisnis sekuritas ikut menurun. "Ini lebih merupakan pergeseran komposisi bisnis, bukan penurunan aktivitas secara menyeluruh," kata Piet, Selasa (8/9/2026). Menurut dia, penjaminan emisi bukan satu-satunya sumber pendapatan perusahaan sekuritas. Karena itu, Kiwoom Sekuritas memperkuat lini bisnis lain untuk menjaga kinerja, salah satunya melalui jasa
advisory. Layanan tersebut mencakup pendampingan merger dan akuisisi, restrukturisasi korporasi, serta penasihat keuangan untuk berbagai aksi korporasi non-penawaran umum. Sekuritas juga menangani aksi seperti
rights issue, private placement, hingga divestasi aset. Piet mengatakan, permintaan jasa
advisory justru cenderung meningkat ketika pasar lebih selektif. Korporasi membutuhkan pertimbangan yang lebih matang sebelum mengambil keputusan terkait pendanaan maupun aksi korporasi. "Perusahaan lebih membutuhkan pendampingan strategis sebelum mengambil keputusan besar," ujarnya.
Baca Juga: Ditopang Refinancing, Pefindo sebut Penerbitan Obligasi Korporasi Masih Bergairah Hal senada disampaikan Managing Director of Research Division PT Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su. Menurut dia, penundaan penerbitan efek dapat menekan pendapatan sekuritas karena fee dari transaksi yang belum terealisasi ikut bergeser, sementara biaya persiapan transaksi tetap berjalan.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Samuel Sekuritas lebih aktif mengembangkan peluang dari layanan lain di lini
investment banking. Di antaranya membantu korporasi mencari investor strategis, mendampingi proses akuisisi, serta menyusun alternatif pendanaan. Meski demikian, Harry masih melihat peluang bisnis
underwriting kembali meningkat hingga akhir 2026. Namun, pemulihannya diperkirakan tidak merata karena korporasi masih mempertimbangkan sejumlah faktor, terutama tren biaya pendanaan. "Potensi pemulihannya belum tentu merata," ujar Harry. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News