KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Militer Amerika Serikat (AS) membentuk satuan tugas baru untuk memperketat pengawasan terhadap pergerakan senjata canggih dan material yang dikenai sanksi menuju Iran. Langkah ini dilakukan dengan memperluas tekanan terhadap Teheran, termasuk melalui jalur darat dan Laut Kaspia. Militer AS pada Sabtu (7/11/2026) menyatakan, satuan tugas bernama Task Force Iron Gate tersebut akan membantu menindak aktivitas pengiriman senjata dan material yang dikenai sanksi melalui perbatasan darat Iran serta Laut Kaspia. Task Force Iron Gate, yang sebelumnya diberitakan Reuters, akan berkantor pusat di Tampa, Florida. Satuan tugas ini juga akan berkoordinasi dengan berbagai lembaga pemerintah AS.
Selain mengawasi pergerakan senjata, Task Force Iron Gate akan berfokus pada penghentian aliran teknologi yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer atau dual-use technology. Satuan tugas tersebut juga akan berupaya menghentikan aliran pendapatan yang oleh Washington disebut sebagai sumber pendapatan ilegal. Pembentukan satuan tugas ini menjadi gambaran terbaru dari upaya AS untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran, lebih dari delapan bulan setelah Washington bersama Israel melancarkan perang terhadap Republik Islam tersebut.
Baca Juga: Arab Saudi Cabut Peringatan Bahaya di Wilayah Kaya Minyak, Rudal Houthi Dicegat Serangan militer AS telah memberikan pukulan besar terhadap kekuatan militer konvensional Iran. Sementara itu, blokade laut AS secara signifikan membatasi ekspor minyak mentah Iran melalui Selat Hormuz dan Laut Arab. Meski demikian, Iran masih menjadi ancaman besar bagi kawasan. Pemerintah Teheran juga semakin memperketat kendali terhadap kondisi dalam negeri.
Jaringan rahasia Iran untuk menghindari blokade AS
Investigasi Reuters menemukan bahwa Iran telah membangun jaringan rahasia yang melibatkan sejumlah lembaga militer untuk mengimpor sedikitnya US$ 2 miliar perangkat keras, bahan peledak, dan truk berat sejak Januari 2025. Jaringan tersebut digunakan untuk menghindari blokade laut AS serta sanksi negara-negara Barat. Berdasarkan investigasi Reuters, berbagai material tersebut masuk ke Iran melalui sejumlah jalur, termasuk kapal kargo dari Rusia melintasi Laut Kaspia, truk dari Asia Tengah, serta pesawat kargo dari China. Komando Pusat AS atau US Central Command (CENTCOM) menyatakan, Task Force Iron Gate akan berkoordinasi dengan sejumlah lembaga pemerintah lainnya. Seorang pejabat militer AS yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan, koordinasi tersebut diperkirakan melibatkan Departemen Keuangan, Departemen Luar Negeri, Departemen Kehakiman, serta komunitas intelijen AS. Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper mengatakan, penguatan koordinasi antarlembaga pemerintah AS akan semakin membatasi kemampuan Iran dalam membiayai aktivitas terorisme, membangun kembali pabrik senjata, dan memulihkan persediaan militernya. "Memperkuat kolaborasi CENTCOM dengan mitra antarlembaga pemerintah AS akan semakin membatasi kemampuan Iran untuk membiayai terorisme, membangun kembali pabrik senjata, dan mengisi kembali persediaan militernya," kata Brad Cooper dalam sebuah pernyataan. CENTCOM memperkirakan blokade laut yang diberlakukan AS telah mencegah Iran mengekspor minyak mentah senilai lebih dari US$ 25 miliar.
Tekanan politik terhadap Trump meningkat
Meski menghadapi tekanan militer dan ekonomi, Iran menunjukkan ketahanan. Pemerintah Teheran bahkan menyambut hasil pemilihan paruh waktu AS yang menjadi pukulan bagi Partai Republik pimpinan Presiden Donald Trump.
Baca Juga: Berkshire Hathaway Percepat Buyback Saham, Greg Abel Mulai Gunakan Kas Jumbo Hasil pemilu tersebut memberikan kendali Kongres AS kepada Partai Demokrat sebagai oposisi.
Wakil Presiden AS JD Vance menyalahkan perang Iran atas kekalahan elektoral Partai Republik. Vance juga tampak mempertanyakan apakah konflik tersebut sepadan dengan biaya dan dampak politik yang ditimbulkannya. Dalam beberapa hari terakhir, para mediator semakin mengintensifkan upaya untuk mengakhiri perang antara Iran dan AS. Langkah ini dilakukan di tengah kekhawatiran bahwa konflik dapat kembali memanas setelah pemilihan paruh waktu AS. Trump sebelumnya mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran. Ancaman tersebut membuat negara-negara di kawasan Teluk semakin waspada, terutama setelah Teheran mengancam akan melakukan pembalasan luas terhadap infrastruktur di kawasan tersebut. Reuters juga melaporkan bahwa penilaian intelijen AS dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan, serangan baru terhadap Iran tidak akan secara fundamental mengubah posisi negosiasi Teheran maupun menyebabkan jatuhnya pemerintahan Iran.