KONTAN.CO.ID - JAKARTA. MSCI akan mengumumkan hasil review indeks pada 12 Agustus 2026. Selain itu, FTSE Russel juga akan mengeluarkan hasil evaluasi terkait status pembekuan atau freeze pasar saham Indonesia. Keputusan tersebut berpotensi menjadi salah satu katalis pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sisa Agustus 2026. Hasil review MSCI akan efektif berlaku pada 31 Agustus 2026. Sedangkan FTSE Russell diperkirakan melakukan evaluasi pada 10-14 Agustus 2026. Sementara itu, pengumuman hasil peninjauan ulang diproyeksikan berlangsung pada 21 Agustus 2026, dengan tanggal efektif 18 September 2026. Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai status freeze masih berpeluang dipertahankan dalam evaluasi Agustus 2026, meskipun regulator telah menjalankan berbagai reformasi pasar modal.
Peluang pencabutan freeze masih 30%-40%
Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai keputusan FTSE Russell tidak hanya akan mempertimbangkan komitmen regulator. Konsistensi implementasi, efektivitas kebijakan, serta bukti perbaikan aksesibilitas dan integritas pasar juga menjadi faktor penting. Nafan melihat sejumlah langkah OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah menunjukkan kemajuan. Namun, FTSE Russell kemungkinan masih membutuhkan waktu untuk mengevaluasi dampak kebijakan tersebut secara lebih komprehensif. "Peluang pencabutannya berada di kisaran 30%-40%. Namun secara probabilitas, saya menilai pendekatan yang lebih konservatif masih lebih realistis," ujar Nafan. Menurut Nafan, pencabutan freeze akan memberikan sentimen positif bagi pasar. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan optimisme investor asing sekaligus mendorong minat terhadap saham blue chip dan IHSG. Sebaliknya, apabila freeze diperpanjang, tekanan terhadap pasar berpotensi muncul dalam jangka pendek. Meski demikian, dampaknya diperkirakan tidak terlalu dalam karena sebagian risiko tersebut telah diperhitungkan oleh pelaku pasar. "Pengumuman FTSE Russell berpotensi menjadi katalis penting bagi sentimen pasar pada pekan depan, terutama terhadap saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi konstituen indeks global," tutur Nafan. Tonton: IHSG dan Rupiah Menguat, Saatnya Kembali Investasi?Investor perlu cermati arus dana asing
Nafan menambahkan, arah IHSG setelah keputusan FTSE Russell tetap akan ditentukan oleh kombinasi faktor domestik dan global. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain arus dana asing, prospek suku bunga global, harga komoditas, kinerja emiten pada semester II 2026, serta stabilitas rupiah. Karena itu, investor disarankan tidak hanya berfokus pada hasil evaluasi FTSE Russell. Pemilihan saham dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, valuasi menarik, serta prospek pertumbuhan laba yang solid tetap menjadi strategi utama. "Apabila terjadi volatilitas pasca-pengumuman, kondisi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk melakukan akumulasi secara bertahap atau buy on weakness pada saham-saham berkualitas," kata Nafan. Untuk perdagangan pekan depan, Nafan memperkirakan IHSG memiliki area support di level 6.354-6.292, sedangkan resistance berada di kisaran 6.454-6.554. Sukarno juga merekomendasikan strategi selective buying pada saham dengan fundamental kuat sembari tetap menjaga disiplin manajemen risiko.Proyek Gedung DPR di IKN Dikebut! 3 Gedung Utama Ditargetkan Rampung Desember 2027
© 2026 Konten oleh Kontan