Selain Transaksi Jumbo BYAN Rp 26,1 T, Low Tuck Kwong Juga Lepas 33,3 Juta Saham
Kamis, 08 Oktober 2026 07:24 WIB
Oleh: Adi Wikanto, Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah muncul transaksi jumbo di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Sebelum transaksi jumbo, pengendali saham sekaligus pendiri perusahaan, Low Tuck Kwong juga menjual saham BYAN dalam jumlah besar. Berdasarkan data perdagangan BEI, terdapat transaksi saham BYAN di pasar negosiasi pada harga Rp 2.588 per saham dengan nilai akumulasi sekitar Rp 26,1 triliun. Harga transaksi tersebut jauh di bawah harga saham BYAN di pasar reguler. Pada penutupan perdagangan Rabu, saham BYAN berada di level Rp 12.550 per saham.
Dengan demikian, harga transaksi di pasar negosiasi tersebut sekitar 76,53% lebih rendah dibandingkan harga penutupan BYAN di pasar reguler. Transaksi jumbo tersebut melibatkan PT Maybank Sekuritas Indonesia sebagai pihak penjual dan PT Mandiri Sekuritas sebagai pihak pembeli. Baca Juga: Harga Saham Melorot 9%, Direktur AVIA Rogoh Kantong Beli Jutaan Saham Perusahaan Transaksi saham BYAN jumbo Berdasarkan data yang tersedia, transaksi pertama terjadi sekitar pukul 09.31 WIB dengan volume sekitar 16,66 juta saham pada harga Rp 2.588 per saham. Selanjutnya, terdapat transaksi dengan volume sekitar 5 miliar saham pada harga yang sama. Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar Rp 12,94 triliun. Jika mengacu pada nilai akumulasi sekitar Rp 26,1 triliun dan harga Rp2.588 per saham, total saham yang berpindah tangan berada di kisaran 10,08 miliar saham. Besarnya volume transaksi ini menjadi perhatian pasar lantaran jumlahnya sama dengan jumlah saham BYAN yang sebelumnya dikaitkan dengan rencana pembelian oleh PT Jhonlin Baratama, perusahaan yang terafiliasi dengan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Baca Juga: Harga Saham Melambung 83%, Direktur & Pengendali Jual Saham MPIX Harga Di Bawah Pasar Jhonlin Baratama tambah pembelian saham BYAN Sebelumnya, manajemen BYAN mengumumkan bahwa PT Jhonlin Baratama meningkatkan jumlah saham yang akan dibeli. Jumlah saham yang sebelumnya disebut sekitar 10 miliar saham meningkat menjadi sekitar 10,08 miliar saham, atau bertambah sekitar 84,08 juta saham. Apabila transaksi tersebut terealisasi, Jhonlin Baratama berpotensi menjadi salah satu pemegang saham terbesar di Bayan Resources. Perkembangan ini menjadi perhatian investor karena berkaitan dengan perubahan komposisi kepemilikan saham salah satu emiten batubara terbesar di Bursa Efek Indonesia. Tonton: Koperasi Mau Saingi Bank, Gaji PNS Jadi Target Low Tuck Kwong Jual 33 Juta Saham BYAN Sehari sebelum transaksi nego terjadi, pemilik sekaligus Direktur Utama Bayan, Low Tuck Kwong menjual 33.333.335 saham BYAN. Ini adalah penjualan saham biasa dengan harga Rp 11.025. Dari transaksi ini, Low Tuck Kwong mengantongi hasil penjualan Rp 367,5 miliar. Dengan penjualan tersebut, saham BYAN yang dimiliki Low Tuck Kwong tersisa 13.383.588.535 saham. Dengan jumlah itu, Low Tuck Kwong memiliki suara di BYAN sebesar 40,15%. Jumlah tersebut merupakan yang terbesar di antara pemegang saham lain. Low Tuck Kwong tetap menjadi pengendali BYAN Di sisi lain, transaksi jumbo di pasar negosiasi tersebut perlu dibedakan dari perubahan pengendalian perusahaan. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Fauzan Luthfi Djamal sebelumnya menilai perpindahan sekitar 30% saham BYAN tidak serta-merta mengubah posisi pengendali perusahaan. Menurut dia, Low Tuck Kwong dan Elaine Low masih memiliki kepemilikan yang signifikan di Bayan Resources. "Perpindahan 30% saham BYAN tidak mengubah pengendalian perusahaan, karena Low Tuck Kwong tetap menjadi pengendali bersama Elaine Low dengan kepemilikan gabungan sebesar 32,255%," tulis Fauzan dalam risetnya. Dengan kondisi tersebut, transaksi saham dalam jumlah besar lebih mencerminkan perpindahan kepemilikan saham ketimbang perubahan pengendalian perusahaan. Fauzan juga menyebut belum terdapat indikasi bahwa transaksi tersebut akan diikuti kewajiban penawaran tender wajib (mandatory tender offer) ataupun perubahan susunan dewan. Valuasi saham BYAN
Sementara itu, transaksi di harga Rp2.588 per saham juga menjadi perhatian dari sisi valuasi. Dalam riset BRI Danareksa Sekuritas yang dirilis pada 7 Oktober 2026, harga tersebut mencerminkan price to earnings ratio (PER) annualized sekitar 6,1 kali, jauh lebih rendah dibandingkan PER saham BYAN di pasar reguler yang disebut sekitar 29,7 kali. Perbedaan harga yang sangat lebar antara pasar negosiasi dan pasar reguler tidak serta-merta berarti investor dapat membeli saham BYAN di pasar reguler pada harga Rp2.588. Transaksi pasar negosiasi merupakan transaksi yang disepakati oleh pihak pembeli dan penjual dengan mekanisme perdagangan tersendiri.
RUU Ketenagakerjaan dan Risiko Kriminalisasi Pengusaha