Selama tidak ada kejutan rupiah aman



Jakarta. Kamis sore, 13 Maret 2014, Bank Indonesia (BI) mengumumkan BI rate tetap ditahan di 7,5%. Tidak ada yang luar biasa dengan keputusan ini lantaran sudah diperkirakan sebelumnya. Meski begitu, langkah bank sentral tetap diapresiasi. Sebab, dengan begitu nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) diharapkan tidak ajrut-ajrutan.Sementara ini, rupiah berada dalam tren positif. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), pada 2 Januari 2014, kurs berada pada Rp 12.242 per dollar AS. Nah, pada 13 Maret 2014, nilai tukar rupiah berada pada Rp 11.387 per dollar AS. Artinya, sejak awal tahun, mata uang Garuda sudah menguat 7,5%.Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung menyebut beberapa faktor penyebab penguatan rupiah. Pertama, fundamental ekonomi Indonesia mulai membaik. Kuartal IV–2013, defi sit neraca perdagangan sebesar 1,98% terhadap produk domestik bruto (PDB). Betul masih defisit, tetapi dibanding kuartal III–2013 yang 3,8% dan kuartal II–2013 yang4,4%, neraca perdagangan Indonesia berangsur membaik.Kedua, infl asi sudah kembali ke pola normalnya. Memang pada Januari 2014 infl asi cukup tinggi mencapai 1,07%, yang terjadi karena gangguan distribusi akibat banjir. Namun, pada Februari 2014, infl asi kembali melandai menjadi 0,26%. Sepanjang tahun ini, Juda masih yakin asumsi inflasi 4,5% +-1% bisa dicapai.Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih juga yakin inflasi bisa terjaga. Pada pertengahan tahun akan ada kenaikan infl asi karena bulan Ramadan dan Idul Fitri. Tapi, karena bersifat musiman, keduanya sudah diperhitungkan dalam asumsi inflasi.Lana sendiri lebih yakin inflasi bisa dikontrol pada angka 6% hingga akhir tahun. Dengan begitu, BI rate bisa terjaga di 7,5%. “Potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi baru akan terjadi di 2015. Saya tidak yakin ada yang berani menaikkan harga BBM sekarang,” ujarnya.Harga BBM memang memainkan peran besar dalam laju inflasi. Juda menyebut, kenaikan harga premium Rp 2.000 per liter dari posisi saat ini di Rp 6.500 per liter akan berpengaruh sekitar 2,8% ke inflasi.Faktor lainnya, “Ketika level psikologis 11.400 kemarin tembus, orang yang punya dollar mengambil posisi jual. ini membuat rupiah menguat lebih tajam,” kata Lana.Sayang, tak ada data lebih lanjut, apakah sikap pengempit the greenback tersebut terkait dana pemilu atau tidak.Belum aman betulDirector Chief Economist Mandiri Destry Damayanti tidak ingin terlalu dini menyebut rupiah sudah benar-benar stabil. Selain karena pergerakan positif baru berjalan beberapa pekan, masih ada beberapa pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan, misalnya soal defi sit transaksi berjalan dan perdagangan.Indonesia memang berhasil mencatatkan surplus neraca dagang US$ 1,52 miliar, Desember 2013. Penyebabnya, perusahaan tambang memacu ekspor tembaga sebesar 37,8% atau mencapai US$ 697 juta. Sepanjang tahun lalu, nilai ekspor tembaga mencapai US$ 4,85 miliar, atau melesat 65,7% dibandingkan dengan nilai ekspor di sepanjang 2012.Namun Januari 2014, defisit kembali menerpa, yakni sebesar US$ 430,6 juta. Penyebabnya, sejak 12 Januari 2014 pemerintah melarang ekspor mineral mentah. Plus kebijakan bea keluar progresif hingga 25% yang berlaku tahun ini.Fakta inilah yang membuat khawatir Veni Kriswandi, Head of Trading Bank Commonwealth. Ia cemas, larangan ekspor mineral mentah akan memangkas kinerja ekspor. Padahal, di sisi lain, arus impor tetap mengalir. “Kalau tidak tercipta kompromi, ekspor Indonesia bisa berkurang dan ujung-ujungnya mempengaruhi rupiah juga,” kata Veni.Sementara itu, faktor eksternal, terutama dari Amerika Serikat diyakini tidak akan berdampak banyak ke rupiah. Memang, proses pemulihan ekonomi AS masih belum selesai. Ketua The Federal Reserve (The Fed) Janet Yellen menyatakan bahwa ekonomi AS tidak sekuat perkiraan sebelumnya. Pernyataan ini memberi indikasi bahwa The Fed belum akan memangkas stimulus lagi dalam waktu dekat. Dengan begitu, arus dana asing masih mengalir, dan rupiah tetap aman.Nah, jika kondisi makroekonomi dalam negeri betul-betul terjaga plus sentimen negatif global juga minim, Destry berharap rupiah bertengger di kisaran Rp 10.900–Rp 11.500 per dollar AS hingga akhir 2014.Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa menilai, secara fundamental, nilai tukar rupiah bisa menyentuh level Rp 10.500 per dollar AS. Ini bisa terjadi dengan syarat, BI tidak menaikkan suku bunga sehingga memperlambat laju ekonomi dan memperlemah nilai tukar. “Asal ekonomi tidak dibunuh, nilai tukar tidak akan melemah lagi,” katanya.Mari, kita berharap!***Sumber : KONTAN MINGGUAN 25 - XVIII, 2014 Laporan Utama

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Imanuel Alexander