Selamat bekerja direksi baru PT BEI



Direksi baru PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk masa bakti 2018-2022 resmi ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sambil menunggu pelantikan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), harapan besar pun disematkan kepada mereka agar peran pasar modal sebagai pendorong ekonomi nasional bisa lebih optimal di masa-masa mendatang.

Ekspektasi tersebut sangat masuk akal. Kinerja pasar modal Indonesia naik-turun belakangan ini. Setelah sempat impresif berada di level 6.355 sejak awal tahun, indeks harga saham gabungan (IHSG) berfluktuasi di triwulan kedua 2018 hingga sekarang masih bertengger di bawah batas psikologis 6.000.

Per definisi, pasar modal adalah media pertemuan antara permintaan dan penawaran. Pembelinya adalah perusahaan calon debitur yang memerlukan tambahan dana segar untuk ekspansi usaha. Penjualnya adalah investor atau pemilik dana. Interaksi keduanya menghasilkan harga dan kuantitas ekuilibrium.


Dengan alur logika ini, keterkaitan antara pasar modal dengan kondisi perekonomian agaknya sedikit terjustifikasi. Kuantitas dana keseimbangan yang terkumpul dari penawaran perdana  atau initial public offering, (IPO) pada 2017, misalnya, turun menjadi Rp 9,49 triliun atau susut sekitar 21,38% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Ironisnya, penambahan emiten kurang optimal. Sampai semester pertama 2018 baru ada empat emiten anyar dari target sebanyak 50. Artinya, kepercayaan untuk masuk bursa saham relatif rendah. Calon emiten belum yakin sepenuhnya atas benefit yang akan diperoleh saat menjadi perusahaan go public.

Lebih ironis lagi, emiten baru yang masuk pasar modal masih dominan berkapitalisasi pasar kecil (small cap). Padahal, kondisi pasar yang sudah bervaluasi relatif tinggi seharusnya bisa menambah minat perhelatan IPO, sehingga bisa mengerek jumlah perusahaan beratribut go public dari posisi sekarang 555 unit.

Angka itu tentu saja sangat kecil dibanding jumlah perusahaan yang ada di Indonesia. Lagi pula, perusahaan yang bisa masuk ke pasar modal adalah hanya mereka yang memiliki rating bagus dari lembaga pemeringkat yang diakui regulator. Sementara, mayoritas perusahaan di tanah air tipikal masih unrated sehingga kesulitan untuk masuk bursa.

Dalam ranah mikro, kinerja pasar modal yang dinamis agaknya terdorong oleh aktivitas pasar sekunder. Pasar sekunder tempat bertransaksi surat utang. Transaksi terjadi antara pemegang surat utang dan calon pembeli, alih-alih antara calon debitur dengan investor sebagaimana di pasar primer.

Bekerja dengan art

Sesuai dengan mekanisme pasar, harga surat utang naik saat permintaan tinggi. Kenaikan permintaan didorong oleh jumlah pembeli, kuantitas surat utang yang diperdagangkan, kondisi finansial perusahaan emiten, perekonomian makro, serta prospek kenaikan harga surat utang di waktu mendatang.

Jumlah pemain di pasar modal semakin besar seiring kenaikan bursa saham sepanjang tahun lalu. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia mencatat sampai Maret 2018, pelaku pasar modal Indonesia sebanyak 1,21 juta orang. Angka tersebut meningkat sebesar 8,34% secara year to date (ytd) jika dibandingkan dengan akhir 2017.

Namun demikian, jumlah pelaku pasar modal tersebut masih perlu ditelusuri lagi berapa yang tipikal investor tulen, hanya sebatas pedagang (trader), atau malahan spekulator. Konon, jumlah investor tulen di pasar modal Indonesia hanya sekitar 200.000 orang. Investor ini senantiasa sangat menaruh perhatian pada faktor fundamental.

Sisanya adalah pedagang dan spekulator (termasuk pemain asing) yang dominan menentukan derap pasar modal. Mereka lebih banyak dimotivasi oleh capital gain (selisih harga jual dan harga beli saham) alih-alih dividen. Oleh karenanya, masuk akal jika pergerakan IHSG bisa naik di saat faktor fundamental tidak terlalu mendukung.

Di dalam pasar modal itu sendiri, beberapa regulasi belum sepenuhnya menyelesaikan masalah. Kegiatan penyelesaian transaksi atau settlement justru membatasi aktivitas broker. Sembari menunggu transaksi berakhir, nasabah biasanya masih bisa mengakumulasi saham lain dan menyelesaikan pembayarannya dengan menjual saham lain.

Fakta yang berlangsung, nasabah wajib menggunakan metode cash and carry. Kalau tidak, nasabah langsung terkena suspensi untuk melakukan buy. Hal semacam ini memang penting untuk mendorong aktivitas transaksi margin. Namun di sisi lain, ketentuan cash and carry membuat omzet broker menurun.

Dengan konfigurasi problematika di atas, direksi PT BEI dituntut memiliki jejaring yang kuat dengan semua pemangku kepentingan. Relasi yang erat dengan regulator mempermudah direksi PT BEI dalam menyiapkan sejumlah langkah terobosan. Kedekatan secara psikologis membuat kebijakannya akan mudah diterima pelaku pasar.

Urgensinya, penambahan jumlah emiten – syukur-syukur dual listing - menjadi relatif mudah. Investor domestik pun semakin banyak memiliki pilihan instrumen dalam mengalokasikan portofolionya. Harapannya, wajah pasar modal ke depan bisa berubah yang tidak lagi didikte oleh asing dengan hot money-nya.

Alhasil, di balik gejolak pasar modal sepanjang 2018 masih banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Utamanya adalah pengkondisian agar instrumen finansial yang diterbitkan perusahaan mampu bekerja sesuai fungsinya. Konkretnya, diversifikasi instrumen finansial harus menjadi wahana menuju pendalaman pasar keuangan.

Melalui pendalaman keuangan, pasar modal dan sumber pembiayaan lainnya bisa tumbuh saling menguntungkan (simbiosis mutualisme). Dengan cara ini pula, besaran selisih imbal hasil dari pasar modal dan sumber pembiayaan lain tidak cukup substansial untuk merealokasi portofolio investasinya.

Pada gilirannya, stabilitas pasar keuangan bakal terwujud yang kemudian menjamin sustainabilitas pembiayaan dari pasar keuangan. Alur mekanisme semacam ini niscaya akan mampu merawat inklusi keuangan sehingga pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas bisa segera tercapai.

Pada akhirnya, pengelolaan mobilitas dana di pasar modal memerlukan sentuhan art alih-alih hanya mendasarkan pada kemampuan regulatory semata. Lewat pendekatan ini, Direksi PT BEI lebih gampang mewujudkan visi BEI menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas tingkat dunia. Selamat bekerja direksi baru PT BEI.•

Haryo Kuncoro Direktur Riset The Socio-Economic & Educational Business Institute dan Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tri Adi