Selamatkan AirAsia, Malaysia Jajaki Pembicaraan Dengan Malaysia Airlines & Batik Air



KONTAN.CO.ID - KUALA LUMPUR. Pemerintah Malaysia telah menjajaki pembicaraan dengan Malaysia Airlines dan Batik Air untuk mengambil alih pangsa pasar domestik AirAsia.

Menurut dua orang yang mengetahui masalah tersebut yang dikutip Reuters, Kamis (17/9/2026), langkah ini merupakan bagian dari perencanaan skenario di tengah pemantauan otoritas terhadap kondisi keuangan maskapai penerbangan berbiaya hemat terbesar di Asia Tenggara itu.

Diskusi antara pemerintah dengan Malaysia Airlines dan Batik Air telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, ujar sumber-sumber tersebut, di tengah kekhawatiran yang kian membesar mengenai tekanan keuangan yang dihadapi AirAsia.


Maskapai ini terdampak oleh lonjakan biaya bahan bakar pesawat, di mana harga rata-rata melonjak 66% pada kuartal kedua dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi US$ 183 per barel.

Baca Juga: The Fed Hawkish, Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi 7 Pekan Kamis (17/9)

Pembicaraan yang melibatkan kementerian keuangan dan operator bandara milik negara, Malaysia Airports Holdings Berhad (MAHB), ini merupakan bagian dari perencanaan skenario yang lebih luas terkait kesulitan keuangan AirAsia, kata sumber-sumber tersebut.

Opsi lain yang telah dibahas mencakup pemberian dukungan dari pemerintah untuk memperkuat rencana maskapai dalam menggalang modal segar dari investor eksternal, meskipun bentuk pasti dari potensi dukungan tersebut belum jelas, demikian dilaporkan Reuters bulan ini.

Reuters tidak dapat memverifikasi secara independen rincian mengenai kondisi keuangan AirAsia. 

Malaysia Airlines dan Batik Air menyampaikan kepada pemerintah bahwa mereka hanya bersedia mengambil alih operasi AirAsia dalam skala besar jika mereka juga dapat mengambil alih perjanjian sewa pesawat maskapai tersebut, menurut salah satu sumber, karena menyerap rute dan volume penumpang tanpa pesawat-pesawat itu akan jauh lebih sulit.

Kedua maskapai tersebut juga telah menyatakan kepada pemerintah kesediaan mereka untuk melakukan ekspansi secara organik guna menyerap rute dan penumpang AirAsia, alih-alih mengakuisisi seluruh bisnisnya, kata sumber-sumber tersebut.

AirAsia menyatakan bahwa mereka menguasai sekitar 40% dari keseluruhan pasar penerbangan Malaysia dan 60% dari penerbangan domestik, sehingga tantangan keuangan yang dihadapi maskapai ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah, menurut narasumber yang diwawancarai Reuters.

Baca Juga: Ekspor Singapura Melonjak 46,2% pada Agustus, Booming AI Jadi Pendorong Utama

Farouk Kamal, Wakil CEO Grup AirAsia, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa maskapai tersebut tidak memberikan komentar mengenai spekulasi operasional atau keuangan, ataupun mengenai pengaturan korporasi yang belum diumumkan secara resmi.

"Semua informasi penting terkait strategi bisnis dan armada kami diungkapkan secara transparan melalui laporan resmi bursa dan pengumuman perusahaan pada waktu yang tepat," ujarnya kepada Reuters.

"Kami juga ingin menegaskan kembali bahwa AirAsia tetap fokus menjaga kelangsungan bisnis dan stabilitas operasi di seluruh pasar kami, dan kami terus melihat permintaan dasar yang kuat di seluruh jaringan kami. Kami juga bekerja sama erat dengan para pemangku kepentingan untuk mengelola kebutuhan keuangan dan operasional kami."

Saham AirAsia dan perusahaan afiliasinya, Capital A, masing-masing turun 5,5% pada awal perdagangan hari Kamis. Pasar keuangan Malaysia tutup pada hari Rabu karena libur nasional.

MAHB menyatakan bahwa mereka secara rutin berkomunikasi dengan semua mitra maskapai sebagai bagian dari pengembangan jaringan dan rute yang lazim dilakukan, termasuk mengenai "potensi kapasitas dan peluang rute di mana terdapat celah pasar atau permintaan yang belum terpenuhi." 

MAHB menolak berkomentar mengenai prospek keuangan AirAsia.

Baca Juga: Pembuat Kebijakan The Fed Memperkirakan Kenaikan Suku Bunga Satu Kali Lagi Tahun Ini

CEO Batik Air Malaysia, Chandran Rama Muthy, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Rabu malam bahwa maskapainya "mampu mendatangkan pesawat dengan cepat untuk menyerap atau membantu mengisi pangsa pasar domestik jika diperlukan." Maskapai tersebut menolak memberikan komentar lebih lanjut.

Kementerian Keuangan Malaysia dan Malaysia Airlines menolak berkomentar.

AirAsia Cari Dana Segar

AirAsia, yang memiliki kewajiban lancar sebesar 18,4 miliar ringgit (4,51 miliar dolar AS) per 30 Juni, memiliki utang setidaknya 500 juta ringgit kepada MAHB—menurut sumber-sumber tersebut dan dua pihak lainnya—untuk berbagai layanan termasuk biaya pendaratan dan parkir pesawat. 

Operator bandara telah memberikan perpanjangan waktu pembayaran kepada maskapai tersebut, menurut keterangan dua orang sumber. Mereka semua menolak disebutkan namanya karena pembahasan tersebut bersifat tertutup.

MAHB menolak menanggapi pertanyaan spesifik dari Reuters, dengan menyatakan bahwa mereka tidak membahas pengaturan komersial dengan mitra maskapai sebagai bagian dari kebijakan mereka. 

AirAsia tidak menanggapi pertanyaan mengenai apakah mereka memiliki utang kepada MAHB, namun menyatakan bahwa mereka memiliki hubungan yang kuat dan konstruktif dengan para mitra utama, termasuk Chief Airports Officer MAHB, Bryan Thompson dan timnya.

AirAsia menyatakan bulan ini bahwa mereka sedang memajukan pembicaraan dengan lembaga keuangan, dengan target perolehan dana hingga US$1 miliar dari pasar utang internasional serta fasilitas kredit lokal sebesar 700 juta ringgit, terutama untuk merestrukturisasi utangnya.

Baca Juga: Ekonomi Selandia Baru Tumbuh 0,2% di Kuartal II, Lampaui Ekspektasi

Dua orang yang mengetahui masalah ini memperkirakan maskapai tersebut membutuhkan modal segar setidaknya US$ 3 miliar untuk memperbaiki kondisi keuangannya.

Menanggapi hal itu, AirAsia menyatakan bahwa target pendanaan mereka sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan perusahaan. Per 30 Juni, maskapai ini memiliki kas dan saldo bank sebesar 954 juta ringgit.

AirAsia mencatat kerugian bersih sebesar 831 juta ringgit pada kuartal kedua yang berakhir 30 Juni, akibat kenaikan biaya bahan bakar pesawat dan kerugian kurs mata uang asing yang cukup besar, yakni 331 juta ringgit.

Maskapai ini telah melakukan restrukturisasi secara agresif, termasuk memangkas rute yang berkinerja buruk, mengembalikan 25 pesawat lama kepada pihak penyewa (lessor), serta menegosiasikan ulang kontrak dengan para vendor demi menekan biaya.

Reuters melaporkan bulan ini bahwa kementerian keuangan telah menunjuk Alton Aviation Consultancy untuk mengkaji kebutuhan pendanaan AirAsia, sembari mempertimbangkan pemberian dukungan mengingat peran maskapai tersebut sebagai penyedia lapangan kerja yang signifikan dan penyedia konektivitas udara yang terjangkau di seluruh kawasan.

Kementerian keuangan menolak berkomentar, sementara Alton tidak menanggapi permintaan komentar.

(US$1 = 4,0825 ringgit)