KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Dolar Amerika Serikat (AS) sebagai aset aman jatuh ke level terendah beberapa minggu pada Jumat (17/4/2026), setelah Iran mengatakan Selat Hormuz dibuka. Ini meningkatkan optimisme bahwa konflik Timur Tengah akan segera berakhir. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan dalam sebuah unggahan di X bahwa Selat Hormuz terbuka untuk semua kapal komersial selama sisa masa gencatan senjata 10 hari yang dimediasi AS yang disepakati antara Israel dan Lebanon untuk menghentikan pertempuran antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran. Tak lama setelah pernyataan Araqchi, Presiden AS Donald Trump mengunggah di Truth Social: "IRAN BARU SAJA MENGUMUMKAN BAHWA SELAT IRAN SEPENUHNYA TERBUKA DAN SIAP DILALUI".
Baca Juga: Selat Hormuz Diklaim Kembali Dibuka, Pelaku Industri Pelayaran Masih Waspada Trump mengatakan kepada
Reuters pada hari Jumat bahwa AS akan bekerja sama dengan Iran untuk mengambil kembali uranium yang telah diperkaya dan membawanya kembali ke Amerika Serikat sebagai bagian dari kesepakatan apa pun. Setelah pengumuman tersebut, harga minyak anjlok, saham Wall Street mencatatkan kenaikan tajam, dan obligasi pemerintah AS melonjak, mendorong imbal hasil (yield) turun. Pada perdagangan sore, indeks dolar, yang mengukur nilai dolar AS terhadap sekeranjang enam mata uang, turun 0,3% menjadi 97,96 setelah sebelumnya turun ke 97,632, level terendah dalam tujuh minggu. Indeks tersebut turun 0,6% dalam seminggu, dan diperkirakan akan mengalami penurunan mingguan kedua berturut-turut. Selama dua minggu terakhir, indeks tersebut telah turun sekitar 2,1%, penurunan dua minggu terbesar sejak akhir Januari. "Kelemahan dolar terutama disebabkan oleh pasar yang mengurangi premi risiko geopolitik," kata George Vessey, kepala strategi FX dan makro di Convera di London. "Saya rasa kita tidak memperhitungkan pelemahan fundamental dolar AS karena ada tanda tanya seputar Federal Reserve, apa langkah Fed selanjutnya setelah inflasi lebih tinggi dari perkiraan. Jadi ekonomi masih agak tangguh sehingga ini bukan awal dari penurunan struktural dolar secara penuh," imbuhnya lagi. Terhadap yen Jepang, dolar AS merosot 0,6% menjadi 158,22 setelah sebelumnya naik ke 159,86. Dolar AS berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan terbesar dalam sembilan minggu. Gubernur Bank Sentral Jepang, Kazuo Ueda, menghindari sinyal kenaikan suku bunga bulan ini, dan lebih menekankan pada suku bunga riil yang rendah dan laba perusahaan yang kuat, memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan kebijakan tetap stabil setidaknya hingga Juni. Di sisi lain, euro naik 0,1% menjadi US$ 1,1789, setelah sebelumnya menyentuh $1,1848, puncak delapan minggu. Mata uang tunggal ini naik 0,6% dalam seminggu dan berada di jalur untuk kenaikan mingguan ketiga berturut-turut.
Baca Juga: AS–Iran Jajaki Pengambilan Uranium, Trump Sebut Proses Akan Dilakukan Bertahap Pasar uang pada hari Jumat mengurangi taruhan pada kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa di masa mendatang, sepenuhnya memperkirakan langkah pertama pada bulan Juli, dari Juni sebelumnya dalam sesi tersebut.
Mereka sekarang memberikan peluang kurang dari 5% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan ini, turun dari 15%. Di Amerika Serikat, kontrak berjangka suku bunga pada hari Jumat memperkirakan peluang lebih dari 50% bahwa Fed akan menurunkan suku bunga pada bulan Desember, naik dari 29,5% pada sesi sebelumnya. Dalam mata uang lain, poundsterling menguat 0,1% menjadi US$ 1,3546, berada di jalur untuk kenaikan minggu kedua berturut-turut. Dolar Australia yang sensitif terhadap risiko naik 0,2% menjadi US$0,7178, tetap berada di dekat level tertinggi empat tahun, sementara mata uang Selandia Baru tetap stabil di US$0,5889.