Selat Hormuz Jadi Zona Bahaya, Rubio: 10 Pelaut Sipil Tewas, AS Perketat Blokade



KONTAN.CO.ID - Sebanyak 10 pelaut sipil dilaporkan tewas akibat konflik yang masih berlangsung di Selat Hormuz. Hal tersebut diungkapkan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio kepada wartawan pada Selasa (5/5/2026).

Melansir Reuters, berbicara di Gedung Putih, Rubio mengatakan AS akan terus mengerahkan aset militernya untuk menjaga kebebasan navigasi di jalur pelayaran strategis tersebut.

“Mereka terisolasi, kelaparan, rentan, dan sedikitnya 10 pelaut telah meninggal akibat situasi ini, pelaut sipil,” ujar Rubio, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.


Rubio menegaskan bahwa AS melakukan tindakan defensif dalam menjalankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Ia juga mengatakan operasi militer awal terhadap Iran telah berakhir.

“Kami hanya merespons jika diserang terlebih dahulu. Ini adalah operasi defensif,” kata Rubio dalam konferensi pers. “Jika tidak ada tembakan ke arah kapal-kapal ini dan tidak ada tembakan ke arah kami, kami tidak akan menembak. Tetapi jika kami ditembaki, kami akan merespons.”

Rubio menambahkan bahwa AS telah berkomunikasi dengan sejumlah kapal terkait upaya keluar dari Selat Hormuz. Pernyataan itu menggemakan komentar sebelumnya dari Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.

Baca Juga: Elon Musk Pernah Minta Rp 1.392 Triliun untuk Bangun Kota di Mars dari OpenAI

Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan pihaknya mendapat serangan dari rudal dan drone Iran pada Selasa, meskipun Washington menyebut gencatan senjata yang rapuh masih bertahan.

Hegseth mengatakan ratusan kapal kini mengantre untuk melewati jalur laut tersebut. Sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, sekitar 20% pasokan minyak global melintasi Selat Hormuz setiap hari.

Rubio menyatakan sudah waktunya Teheran “menerima realitas situasi,” seraya menambahkan bahwa utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner masih terus menjajaki solusi diplomatik.

Namun Rubio menekankan solusi diplomatik harus mencakup pembahasan terkait material nuklir Iran yang masih terkubur “di suatu tempat yang sangat dalam.”

“Presiden telah menegaskan bahwa bagian dari proses negosiasi bukan hanya soal pengayaan uranium, tetapi juga apa yang akan terjadi terhadap material yang terkubur sangat dalam di suatu tempat dan masih dapat diakses Iran jika mereka ingin menggali kembali,” ujar Rubio.

Rubio menolak memberikan rincian perkembangan terbaru dan mengatakan kesepakatan tidak harus dituangkan sepenuhnya dalam satu hari.

Tonton: WTI Anjlok 1,5% Pagi Ini, Sentimen Apa yang Menekan?

“Ini sangat kompleks dan sangat teknis, tetapi kita harus memiliki solusi diplomatik yang sangat jelas mengenai topik apa yang bersedia mereka negosiasikan, sejauh mana konsesi yang siap mereka berikan di tahap awal agar pembicaraan itu layak dilakukan,” kata Rubio.

Tabel Fakta Utama Konflik Selat Hormuz (Update Reuters)

Poin Utama Detail
Pernyataan Menlu AS Marco Rubio
Lokasi pernyataan Gedung Putih, Washington
Jumlah pelaut sipil tewas 10 orang
Penyebab kematian Dampak konflik di Selat Hormuz (tanpa detail tambahan)
Sikap AS Operasi “defensif”, hanya merespons jika ditembaki
Kebijakan AS Mempertahankan kebebasan navigasi & blokade pelabuhan Iran
Kondisi pelayaran Ratusan kapal mengantre melewati Selat Hormuz
Porsi minyak dunia via Hormuz ±20% pasokan minyak global per hari (sebelum serangan 28 Feb)
Situasi terbaru UEA mengklaim diserang rudal & drone Iran
Jalur diplomatik Witkoff & Jared Kushner masih mengeksplorasi solusi
Syarat diplomasi AS Harus mencakup material nuklir Iran yang masih terkubur