Selat Hormuz Kembali Dibuka, 20 Juta Barel Minyak Mentah Langsung Keluar dalam Sehari



KONTAN.CO.ID - Arus pengiriman minyak mentah yang melintasi Selat Hormuz pada pekan ini melonjak ke level tertingginya sejak konflik AS-Israel dengan Iran meletus pada Februari lalu.

Berdasarkan data yang dirilis pada Kamis (25/6/2026), pemulihan ini didorong oleh kesepakatan gencatan senjata yang kembali membuka jalur air strategis tersebut, ditambah kekhawatiran pasar terkait berapa lama selat ini akan benar-benar tetap terbuka.

Baca Juga: Pasar Barang Mewah Global Bangkit, Konsumen Muda AS Pendorong Utama!


Meski terjadi peningkatan pengiriman di tengah kuatnya permintaan terutama dari Asia pasca gangguan berbulan-bulan total lalu lintas kapal masih jauh di bawah rata-rata.

Sebelum konflik pecah pada 28 Februari, rata-rata 125 kapal melintasi selat ini setiap harinya.

Berdasarkan analisis dari lembaga riset Kpler, empat kapal tanker yang membawa enam juta barel minyak mentah berlayar melintasi selat pada Kamis.

Selain itu, dua tanker terpisah yang memuat empat juta barel minyak mentah Iran juga telah diberangkatkan. Sehari sebelumnya, Rabu (24/6), sekitar 10,8 juta barel minyak dikirim menggunakan enam kapal tanker.

Baca Juga: Harga Produk Apple Naik Efek Tingginya Chip AI, Harga Macbook Neo Jadi US$ 699

"Pemulihan ini lebih mencerminkan kemampuan adaptasi sistem ekspor di Teluk Timur Tengah, alih-alih kembali normalnya aktivitas perdagangan ke level pra-konflik," tulis Kpler dalam laporannya pekan ini.

Meskipun banyak kapal telah mengaktifkan transponder pelacakan Automatic Identification System (AIS), lalu lintas sebenarnya sulit ditakar secara presisi. Hal ini disebabkan oleh gangguan sinyal AIS skala besar serta banyaknya kapal yang sengaja tidak menampilkan pergerakan mereka saat melintasi selat.

"Tingkat lalu lintas masih di bawah batas normal historis, dan para pelaku pasar terus mengkaji daya tahan dari kerangka kesepakatan saat ini," ungkap Allied Shipbroking, pialang kapal yang berbasis di Yunani. "Kesepakatan 60 hari ini memang mengurangi risiko navigasi langsung, tetapi belum menghilangkan ketidakpastian geopolitik yang lebih luas di kawasan tersebut."

Sementara itu, Menteri Energi AS, Chris Wright, dalam Forum Energi Global Reuters di New York, Rabu (24/6), menyatakan bahwa sekitar 20 juta barel minyak mentah, setara dengan seperlima konsumsi dunia telah keluar dari selat tersebut dalam 24 jam terakhir.

Volume ini sejalan dengan aktivitas harian pasca kesepakatan awal AS-Iran untuk mengakhiri konflik.

Baca Juga: Pasokan Timur Tengah Mengalir, Harga Minyak Dunia Anjlok ke Level Sebelum Perang

Bayang-Bayang Ranjau dan Peringatan Keras Iran

Walau lalu lintas meningkat, kapal-kapal tetap menghindari area tengah perairan. Berdasarkan data pergerakan kapal, mayoritas memilih berlayar merapat ke sisi perairan Oman, sementara sebagian kecil lainnya menggunakan perairan Iran.

Bagian tengah selat yang diatur dalam Skema Pemisahan Lalu Lintas (Traffic Separation Scheme) ketetapan PBB tahun 1968, saat ini masih belum dapat digunakan akibat risiko ranjau laut.

Ketidakpastian mengenai tindakan yang mungkin diambil oleh Garda Revolusi Iran juga semakin membatasi kelancaran lalu lintas kapal.

Baca Juga: Impor Emas China Turun 38%, Tapi Cadangan Emas Terus Bertambah

Pada Kamis, Garda Revolusi merilis pernyataan tegas bahwa lintas aman melalui selat hanya dimungkinkan melalui rute yang telah ditetapkan oleh Iran.

Mereka memperingatkan bahwa rute pelayaran baru yang diusulkan tanpa koordinasi dengan Teheran tidak dapat diterima, berisiko terhadap keselamatan, dan akan memicu tindakan tegas terhadap kapal yang tidak patuh.

Perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey, melaporkan sebuah kapal tanker minyak mentah berbendera Panama terpaksa putar balik pada Kamis saat mencoba transit menuju perairan Oman, dan diperintahkan untuk mengambil rute utara Iran.

Sehari sebelumnya, kapal tanker produk minyak berbendera Panama juga diperintahkan untuk mengubah haluan dan menunggu instruksi.

Skema Evakuasi PBB Berjalan

Di tengah ketegangan tersebut, Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB pekan ini meluncurkan skema baru untuk mengevakuasi ratusan kapal yang sempat terjebak di dalam Teluk akibat konflik.

Baca Juga: BlackBerry Kerek Naik Proyeksi Pendapatan Hingga US$ 621 juta

Data PBB menunjukkan, sekitar 57 kapal yang membawa estimasi 1.100 pelaut telah berhasil dievakuasi melintasi selat sejak 23 Juni.

Skema sukarela yang dikhususkan untuk evakuasi ini menawarkan dua rute, yakni melalui perairan Oman dan Iran.

"Kerangka kerja evakuasi terus dilaksanakan sesuai rencana," tegas juru bicara IMO PBB pada Kamis.