Selat Hormuz Kian Panas: AS Turun Tangan, Iran Siap Balas



KONTAN.CO.ID - Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) agar tidak memasuki jalur pelayaran strategis tersebut.

Peringatan itu disampaikan militer Iran menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan Washington akan membantu membebaskan kapal-kapal yang terjebak di kawasan Teluk akibat konflik AS-Israel dengan Iran.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Melonjak 5% Senin (4/5), KOSPI Cetak Rekor Tertinggi


Trump mengatakan, AS akan mulai memandu kapal-kapal keluar dari perairan terbatas tersebut agar dapat kembali beroperasi secara normal. Namun, ia tidak merinci mekanisme operasi tersebut.

Menanggapi hal itu, komando gabungan angkatan bersenjata Iran menegaskan bahwa keamanan Selat Hormuz berada di bawah kendali mereka.

“Kami memperingatkan bahwa setiap kekuatan militer asing, khususnya AS, akan diserang jika mencoba mendekati dan memasuki Selat Hormuz,” ujar Kepala Komando Gabungan Iran, Ali Abdollahi dilansir Reuters Senin (4/5/2026).

Iran juga meminta kapal dagang dan tanker minyak untuk tidak melakukan pelayaran tanpa koordinasi dengan militer setempat.

Baca Juga: UPDATE: Harga Emas Dunia Turun Tipis ke US$4.588,71 pada Senin (4/5)

Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan akan mendukung operasi tersebut dengan pengerahan sekitar 15.000 personel militer, lebih dari 100 pesawat, serta kapal perang dan drone.

Operasi ini diklaim bertujuan menjaga keamanan kawasan dan kelancaran perdagangan global.

Situasi di lapangan tetap memanas. Tak lama setelah pernyataan Trump, sebuah kapal tanker dilaporkan terkena proyektil tak dikenal di Selat Hormuz. Meski demikian, seluruh awak kapal dilaporkan selamat.

Konflik yang telah berlangsung lebih dari dua bulan ini membuat Iran memblokir sebagian besar lalu lintas pelayaran di Teluk, kecuali untuk kapal mereka sendiri. Kondisi tersebut mendorong lonjakan harga energi global.

Upaya diplomatik pun masih berlangsung. Iran menyatakan tengah meninjau respons AS terhadap proposal perdamaian yang diajukan sebelumnya melalui Pakistan. Namun, belum ada kepastian mengenai kelanjutan negosiasi.

Baca Juga: Greg Abel Pimpin Berkshire Hathaway, Daya Tarik Tanpa Warren Buffett Mulai Memudar?

Sementara itu, AS tetap menuntut pembatasan ketat terhadap program nuklir Iran sebagai syarat utama penghentian konflik.

Di sisi lain, Iran mengusulkan agar pembahasan isu nuklir ditunda hingga perang berakhir dan blokade pelayaran dicabut.

Ketidakpastian ini membuat Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia tetap menjadi titik krusial bagi stabilitas energi dan ekonomi global.