KONTAN.CO.ID - Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz melambat tajam sepanjang akhir pekan setelah sejumlah kapal tanker diserang. Kondisi ini terjadi di tengah kebuntuan perundingan Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Ekspor Singapura Melonjak 24,2% pada Juli 2026, Didorong Permintaan AI Mengutip
Reuters, Senin (17/8/2026), data pelacakan kapal Kpler menunjukkan hanya lima kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Sabtu (15/8). Tidak ada kapal yang tercatat melintas pada Minggu (16/8). Jumlah tersebut turun drastis dibandingkan akhir pekan sebelumnya yang mencatat 31 kapal melintasi selat tersebut. Sejumlah kapal yang melintas pada Sabtu antara lain kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) yang dalam kondisi kosong dan mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS), serta kapal Very Large Gas Carrier berbendera India yang menggunakan rute Iran. Data Kpler juga menunjukkan sebuah kapal tanker kecil yang membawa bahan bakar minyak asal Iran berhasil keluar dari selat tersebut.
Baca Juga: Ekonomi Jepang Tumbuh 1,1% di Kuartal II, di Bawah Perkiraan Pelayaran Hampir Terhenti Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz nyaris terhenti setelah Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan tiga kapal yang dioperasikan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) diserang saat melintas pada pekan lalu. Amerika Serikat juga menyatakan dapat mempertahankan blokade laut terhadap Iran tanpa batas waktu. Kpler mencatat sebagian kapal mungkin tetap melintasi Selat Hormuz tanpa terdeteksi karena mematikan transponder. Namun, angka pelayaran yang tercatat saat ini masih jauh di bawah kondisi sebelum perang. Sebelum perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu, lebih dari 130 kapal per hari tercatat melintasi Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Washington harus memenuhi sejumlah persyaratan Iran terkait Selat Hormuz agar aktivitas pelayaran dapat kembali normal. Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi yang sangat strategis. Sebelum perang, jalur tersebut menangani sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Datar Senin (17/8) Pagi, Brent ke US$ 88,72 Pelayaran di Bab el-Mandeb Turut Turun Gangguan pelayaran juga terjadi di Selat Bab el-Mandeb. Kelompok Houthi Yaman sebelumnya menyatakan blokade laut terhadap Arab Saudi mulai 20 Juli.
Data Kpler menunjukkan terdapat 49 pelayaran kapal komoditas melalui Bab el-Mandeb sepanjang akhir pekan. Jumlah tersebut turun dari 55 pelayaran pada pekan sebelumnya. Tidak ada pengiriman minyak Arab Saudi yang terlacak melalui jalur tersebut selama akhir pekan. Perlambatan aktivitas di kedua jalur strategis tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global, terutama jika gangguan pelayaran berlangsung dalam waktu yang lebih panjang.
Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Sideways, Investor Waspadai Harga Minyak di Tengah Perang Teluk