Selat Hormuz Masih Ditutup, UAE Tegaskan Iran Harus Buka Tanpa Syarat



KONTAN.CO.ID - Selat Hormuz masih ditutup, dan Iran harus membuka jalur strategis ini tanpa syarat serta bertanggung jawab atas kerusakan fasilitas setelah serangan, kata CEO perusahaan minyak negara Uni Emirat Arab (UEA), Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), Sultan Al Jaber, pada Kamis (9/4/2026).

Dalam unggahan di LinkedIn, Jaber menjelaskan bahwa selat sempit yang sejak 28 Februari ditutup akibat perang AS-Israel terhadap Iran itu masih belum bisa diakses.

Baca Juga: Chevron Proyeksi Pendapatan Hulu Naik US$ 2,2 Miliar Imbas Kenaikan Harga Minyak


“Akses masih dibatasi, disyaratkan izin, dan dikontrol. Iran jelas menyatakan baik melalui pernyataan maupun Tindakan bahwa lewatnya kapal tergantung pada izin, syarat, dan tekanan politik. Ini bukan kebebasan navigasi, ini pemaksaan,” tulis Jaber, yang juga menjabat Menteri Industri dan Teknologi Canggih UEA dilansir dari Reuters.

Ia menekankan, produsen energi harus dapat memulihkan produksi dengan cepat dan aman.

“Di ADNOC, kami telah memuat kargo dan akan menambah produksi sesuai batasan kerusakan yang terjadi,” tambahnya.

Fasilitas Energi Terkena Serangan

Selain itu, fasilitas energi juga diserang di negara tetangga UEA seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Bahrain.

“UEA menegaskan bahwa setelah serangan besar dan ilegal terhadap infrastruktur sipil dan energi, Iran harus bertanggung jawab penuh atas kerusakan dan ganti rugi,” kata Jaber.

Baca Juga: Stok Fuel Oil Singapura Turun ke Level Terendah 10 Minggu, Ini Pemicunya

Reuters melaporkan pada pertengahan Maret, produksi minyak UEA turun lebih dari setengah akibat penutupan efektif selat yang memaksa ADNOC menghentikan sebagian besar produksinya.

ADNOC memegang peranan penting dalam ekonomi UEA sebagai anggota OPEC, yang sebelum perang menghasilkan sekitar 4% output minyak global.

Analisis Reuters memperkirakan pendapatan minyak ADNOC pada Maret relatif tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya, karena harga minyak yang lebih tinggi menutupi turunnya produksi, dan perusahaan mengekspor minyak melalui jalur alternatif.

Tekanan Global dan Dampak Ekonomi

Jaber, yang juga menjadi utusan khusus UEA untuk perubahan iklim dan Presiden COP28 di Dubai 2023, menekankan bahwa Selat Hormuz harus dibuka sepenuhnya, tanpa syarat, dan tanpa batasan.

Baca Juga: Israel Luncurkan Serangan Baru ke Lebanon, Gencatan Senjata AS-Iran Terancam

“Keamanan energi dan stabilitas ekonomi global bergantung padanya. Setiap hari selat ini tetap tertutup, konsekuensinya semakin besar: pasokan tertunda, pasar menegang, dan harga naik,” ujarnya.

Saat ini, sekitar 230 kapal telah dimuat dengan minyak siap dikirim, dan seharusnya bebas melintas bersama kapal-kapal lainnya.

“Itulah cara kita memperlambat gelombang guncangan ekonomi yang sudah bergerak melalui sistem global,” pungkas Jaber.